Linda juga mengingatkan bahwa kerja-kerja perawatan yang dilakukan perempuan selama ini masih belum memperoleh pengakuan yang layak dalam sistem ekonomi maupun kebijakan pembangunan. Padahal, kerja tersebut menjadi fondasi utama dalam menjaga ketahanan keluarga, komunitas, dan keberlanjutan lingkungan hidup.
Webinar ini akhirnya menegaskan bahwa krisis iklim bukanlah persoalan netral gender. Dampaknya dirasakan secara berbeda oleh perempuan karena posisi sosial, ekonomi, dan budaya yang mereka hadapi. Oleh karena itu, solusi terhadap krisis iklim tidak dapat hanya mengandalkan pendekatan teknokratis atau investasi energi semata, tetapi harus memastikan adanya keadilan ekologis, keadilan gender, serta penghormatan terhadap hak-hak masyarakat terdampak.
Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi pengingat bahwa pembangunan yang berkelanjutan harus menempatkan manusia dan lingkungan sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Masa depan NTT tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar investasi yang masuk, tetapi juga oleh kemampuan negara dan seluruh pemangku kepentingan dalam memastikan bahwa pembangunan berjalan selaras dengan perlindungan lingkungan, penghormatan hak asasi manusia, dan pengakuan terhadap peran perempuan sebagai penjaga kehidupan.
