Pemda Nagekeo, Harus Pastikan pembelian Beras Langsung dari Petani Bukan Tengkulak.

Dibaca 345 kali

Pemerintah kabupaten (Pemda) Kabupaten Nagekeo, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Melalui Dinas Pangan Kabupaten Nagekeo, dikabarkan Mengantongi Dana 8,5 Miliar untuk membeli beras petani di wilayahnya. Proses pembelian beras ini belum bisa dieksekusi hingga saat ini kerena terkendala regulasi pendukung yang belum rampung oleh dinas terkait, mengenai proses pembelian beras dari tangan petani. Hal tersebut dikemukakan oleh Kepala Dinas (Kadis) Pangan Kabupaten Nagekeo, ketika dijumpai Fakta Hukum NTT di ruang kerjanya pada selasa (16/06/2020).

Kadis Pangan Kabupaten Nagekeo, Herman Petrus Gu. Foto: Faktahukumntt.com.

Kadis Pangan Kabupaten Nagekeo, Herman Petrus Gu kepada media ini mengakui bahwa pengadaan beras baru pertama kali dilakukan Dinas Pangan Kabupaten Nagekeo dan ia menilainya begitu rumit dan syarat administrasi sehingga mereka begitu hati-hati dalam mengambil sikap dan menentukan keputusan, jika tidak yang ditakutinya adalah terjadinya penyimpangan dalam proses transaksi pembelian beras, apalagi kegiatan pengadaan beras ini terdiri beberapa tim kerja dari berbagai instansi yang saling berkoordinasi.

Baca Juga :  Manfaatkan Teknologi Pertanian, Hasil Panen Kelompok Tani "DAHULU RASA" Meningkat Tajam

“Niat kita memang mau bantu masyrakat, namun ada banyak administrasi dan dokumen yang belum disiapkan lengkap, dan ini kerjanya tim bukan hanya dinas pangan, kalau hanya dinas pangan masuk DPA tidak sulit” imbuh kadis Petrus.

Lanjutnya, berdasarkan Rancangan Anggaran dan Belanja (RAB) pengadaan beras oleh Dinas Pangan Kabupaten Nagekeo hingga bulan desember 2020, dengan total kuato mencapai 780 Ton Beras yang akan dibeli secara bertahab dari Petani senilai Rp. 10.500, sesuai analisa Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Berdasarkan saran PPK pula, mekanisme pembelian beras diatur dengan cara dibeli langsung dari Petani melalui masing-masing ketua kelompok berdesakan rekomendasi tim teknis setelah melakukan survei lapangan. Hal tersebut dilakukan untuk mempermudah pengawasan dan memastikan proses pembelian beras benar-benar dari tangan petani serta menghindari bisnis oleh pihak tertentu.

Baca Juga :  Gubernur NTT Minta Kopdit Swastisari Tambahkan Sektor Pakan Ternak
Wilibrodus Mila Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) pintu air KM 1, III Kiri Kelurahan Lape.

Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) pintu air KM 1, III Kiri Kelurahan Lape, Wilibrodus Mola, kepada Fakta Hukum NTT Menegaskan bahwa, pemda Kabupaten Nagekeo harus memastikan pembelian beras tersebut, langsung dari tangan petani Nagekeo. Ia kuatirkan peluang pembelian beras dimanfaatkan oleh para tengkulak Untuk mencari keuntungan dengan membeli beras dari luar daerah dan menjualnya ke pemda Nagekeo berdasarkan harga standar pemrintah daerah.

“Jangan sampe peluang ini dimanfaatkan orang untuk beli beras dari luar, misalnya makasar sulawesi kemudian jual ke pemda untuk mengambil keuntungan” Tegas ketua P3A.

Ia menerangkan bahwa petani sedang menunggu terealisasinya program pembelian beras oleh pemda Nagekeo dan berharap agar pemerintah dapat mengambil langkah cepat untuk mengeksekusi program yang dimaksud serta pengurus P3A juga beri ruang dan libatkan. terlibatnya pengurus P3A dimaksudkan Wilibrodus untuk memproteksi terjadinya kecurangan oleh pihak-pihak yang hendak mengambil untung dari transaksi pembelian beras dimasyarakat.

Baca Juga :  *Rumput Laut Tanpa Bahan Kimia dari NTT Untuk Dunia*

“Kalau pemerintah mau beli beras dari masyarakat, minimal kami pengurus P3A diberi ruang juga, kalau bisa mereka atur sistem yang bagus sehingga, minimal datanya ada, petaninya siapa? Luas lahannya berapa? dari kelompok mana? Padinya berapa? data yang ada harus bisa dipertanggungjawabkan sehingga kita bisa memproteksi adanya penyusup dan pembelian berasnya tepat sasaran, maksud saya seperti itu” terang ketua P3A, KM 1, III KIRI, Kelurahan Lape, pada selasa, (16/06) ketika dijumpai Fakta Hukum NTT. ( PFB)

Tulisan ini berasal dari redaksi
Tetap terhubung dengan kami:

Comment