FKIP Undana Jadi Pusat Transformasi Pendidikan Nasional, 32 Universitas Bahas Guru Indonesia Era AI di Kupang
FHC, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali mencatatkan prestasi penting dalam perjalanan pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia. Untuk pertama kalinya, FKIP Undana dipercaya menjadi tuan rumah Pertemuan Sela Forum Komunikasi (Forkom) Pimpinan FKIP Negeri Se-Indonesia Tahun 2026, sebuah forum strategis yang mempertemukan para pemimpin Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dari berbagai perguruan tinggi negeri di seluruh Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung pada 4–7 Juni 2026 di Kota Kupang tersebut menghadirkan delegasi dari 32 universitas negeri dan lebih dari 50 pimpinan fakultas pendidikan dari berbagai daerah. Forum ini menjadi ruang konsolidasi nasional untuk membahas masa depan pendidikan guru Indonesia di tengah tantangan revolusi digital, kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), transformasi kurikulum, serta kebutuhan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang semakin kompleks.
Kepercayaan yang diberikan kepada FKIP Undana sebagai tuan rumah bukan sekadar pengakuan atas kapasitas akademik institusi, tetapi juga menjadi simbol semakin kuatnya peran kawasan Indonesia Timur dalam menentukan arah kebijakan pendidikan nasional.
Acara pembukaan berlangsung meriah dan dibuka secara resmi oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena. Turut hadir Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri Samuel Bale, S.T., M.Eng., jajaran pimpinan universitas, para dekan FKIP se-Indonesia, akademisi, peneliti, serta mitra pendidikan dari dalam dan luar negeri.
Dalam sambutannya, Rektor Undana menegaskan bahwa pendidikan guru saat ini berada pada titik transformasi yang sangat menentukan. Menurutnya, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan tidak boleh dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang untuk memperkuat kualitas pembelajaran dan memperluas akses pendidikan.
Ia menekankan bahwa institusi pencetak guru harus mampu menjadi pusat inovasi yang menghasilkan tenaga pendidik adaptif, kreatif, dan siap menghadapi perubahan zaman.
“Kita tidak boleh terjebak dalam narasi keterbatasan. Dengan hadirnya berbagai program strategis nasional, termasuk Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat, daerah seperti NTT harus bergerak cepat menyiapkan sumber daya manusia unggul. Guru harus menjadi motor penggerak utama pembangunan bangsa,” tegas Prof. Jefri.
Pernyataan tersebut menjadi refleksi bahwa masa depan pendidikan Indonesia sangat bergantung pada kualitas guru yang dihasilkan oleh LPTK. Karena itu, transformasi pendidikan guru menjadi salah satu agenda utama yang dibahas dalam forum tersebut.
Diskusi nasional yang digelar pada hari kedua menghadirkan Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. dr. Ardi Findyartini, Ph.D., yang memaparkan arah kebijakan pendidikan tinggi nasional dalam menghadapi era Society 5.0.
Dalam paparannya, Prof. Ardi menyoroti pentingnya penerapan pendekatan pembelajaran berbasis deep learning dan deep thinking skills sebagai fondasi pembentukan guru masa depan. Menurutnya, guru tidak lagi cukup hanya menguasai materi pelajaran, tetapi harus mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, kreativitas, serta literasi digital yang kuat.
Transformasi tersebut menjadi semakin penting karena generasi peserta didik saat ini tumbuh dalam lingkungan yang sarat teknologi dan akses informasi tanpa batas. Oleh karena itu, calon guru perlu dipersiapkan untuk mampu mengelola pembelajaran yang berbasis data, kolaboratif, dan berorientasi pada pengembangan karakter.
Selain membahas arah transformasi kurikulum, forum ini juga menghasilkan sejumlah terobosan strategis dalam bidang kerja sama internasional. Salah satu capaian penting adalah penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara seluruh anggota Forkom FKIP Negeri Se-Indonesia dengan Universidade Nacional Timor Lorosa’e (UNTL), Timor Leste.
Kerja sama tersebut mencakup berbagai program akademik, mulai dari pertukaran dosen, mobilitas mahasiswa, penelitian kolaboratif, pengembangan publikasi ilmiah internasional, hingga penguatan kapasitas kelembagaan pendidikan tinggi.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya internasionalisasi pendidikan tinggi Indonesia, khususnya dalam memperkuat jejaring akademik di kawasan Asia Tenggara dan negara-negara tetangga.
Ketua Forkom FKIP Negeri Se-Indonesia, Dr. Imam Sujadi, M.Si., menjelaskan bahwa hasil-hasil pembahasan selama forum tidak akan berhenti sebagai dokumen akademik semata. Seluruh rekomendasi yang dihasilkan akan dirumuskan menjadi masukan resmi kepada kementerian terkait untuk mendukung penyempurnaan kebijakan pendidikan nasional.
Beberapa isu strategis yang menjadi fokus rekomendasi meliputi penguatan tata kelola Program Pendidikan Profesi Guru (PPG), sistem akreditasi program studi pendidikan, pengembangan kompetensi digital calon guru, serta penguatan sistem penjaminan mutu pendidikan tinggi.
Sementara itu, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena memberikan apresiasi tinggi kepada FKIP Undana yang berhasil menghadirkan forum nasional tersebut di Kupang. Menurutnya, pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan masa depan daerah dan bangsa.
Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan pembangunan karakter, etika, dan nilai-nilai kemanusiaan yang kuat. Pengalaman selama masa pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa teknologi dapat membantu proses pembelajaran, tetapi tidak dapat menggantikan peran guru sebagai pembentuk karakter generasi muda.
“Ayo bangun Indonesia, ayo bangun NTT melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan adalah fondasi utama untuk mewujudkan cita-cita tersebut,” ujar Gubernur Melki.
Lebih dari sekadar forum akademik, penyelenggaraan Forkom FKIP Negeri Se-Indonesia Tahun 2026 di Kupang menjadi simbol pemerataan pusat-pusat keilmuan nasional. Selama ini, berbagai forum strategis pendidikan sering terpusat di Pulau Jawa dan wilayah barat Indonesia. Kehadiran forum nasional ini di NTT menunjukkan bahwa kawasan timur Indonesia kini semakin dipercaya menjadi bagian penting dalam proses perumusan kebijakan pendidikan nasional.
Bagi FKIP Undana, momentum ini sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu institusi pendidikan tenaga kependidikan yang berpengaruh dalam pengembangan mutu guru Indonesia. Dengan jejaring nasional yang semakin luas, kolaborasi internasional yang terus berkembang, serta komitmen terhadap inovasi pendidikan berbasis teknologi, FKIP Undana siap mengambil peran strategis dalam mencetak guru masa depan yang kompeten, adaptif, berkarakter, dan mampu menjawab tantangan global.
Melalui forum ini, Undana tidak hanya menjadi tuan rumah sebuah pertemuan nasional, tetapi juga tampil sebagai bagian dari motor penggerak transformasi pendidikan Indonesia menuju masa depan yang lebih inklusif, berkualitas, dan berdaya saing global.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
