Informasi Terupdate Hari Ini

Diduga Bank Crista Jaya Menipu Debitur

0 202

FHI-NTT, Maksud dan tujuan Debitur mengusulkan kredit, guna pengembangan usaha Namun hal ini sangat mengecewakan sebab cita-cita mulia yang ingin di capai terkandas di ujung jalan oleh karena pinjaman yang dengan tujuan untuk kredit modal usaha beralih fungsi menjadi kredit investasi, hal ini mengakibatkan debitur mengalami kerugian material yang di lakukan oleh BPR Crista jaya dan berakhir pada dua kali gagal ekskusi yang tak prosudural.

Kredit memiliki tujuan, fungsi dan manfaat. antara lain, Mendapatkan keuntungan bentuk bunga yang diterima oleh bank sebagai balas jasa dan biaya administrasi kredit yang dibebankan kepada nasabah dan Membantu usaha nasabah, Dana investasi maupun dana untuk modal kerja, maka pihak debitur dapat mengembangkan dan memperluas usahanya. Dalam hal ini tujuan, Perbankan mempunyai tugas yang sangat penting dalam rangka mendorong pencapaian tujuan nasional yang berkaitan dengan peningkatan dan pemerataan taraf hidup masyarakat. Ditinjau dari sudut pandang bank, kreditur mempunyai suatu kedudukan yang strategis dimana sebagai salah satu sumber uang yang perlu dalam membiayai kegiatan usaha yang dapat dititik beratkan sebagai kunci kehidupan bagi setiap manusia. Dalam memberikan kredit, bank harus mempunyai kepercayaan terhadap calon debitur bahwa dana yang diberikan akan digunakan sesuai dengan tujuan, dan pada akhirnya akan dikembalikan lagi kepada bank sesuai dengan perjanjian yang disepakati. Telah kita ketahui bahwa dalam pendapatan terbesar bagi usaha jasa perbankan adalah berasal dari bunga kredit yang diberikan. Namun demikian pemberian kredit ini memiliki faktor resiko yang cukup tinggi, dan berpengaruh cukup besar pula terhadap tingkat kesehatan Bank.

Hal ini bertolak belakang dengan tujuan, fungsi dan manfaat dari perbankan sendiri, yang di alami oleh Devi Anthonia Juliana Ndolu pada tanggal 18 Desember 2014. Ia  mengajukan kredit ke bank BPR Christa Jaya Perdana Kupang, dengan surat perjanjian nomor: 385/PK-CJP/2014 pinjaman sebesar Rp. 250.000.000.- untuk usaha jual beli mobil bekas. Pada hari akan terjadi pencairan atas pinjaman tersebut, oleh pihak bank mengarahkan Devi untuk menyelesaikan kredit yang bermasalah atas nama debitur Johanis W. Sengga Sale dengan total tunggakan  Rp. 250.000.000,- merupakan kredit macet. Pengalihan kredit yang dialami oleh Devi membuktikan bahwa ia tidak menerima uang tunai speser pun karena dijanjilkan oleh pihak Bank akan memiliki sebidang tanah seluas 890 m2 milik debitur macet. Herannya, jaminan debitur macet yang telah beralih status sebagai jaminan atas nama Devi Antonia Ndolu mengakibatkan kredit usaha tersebut beralih fungsi menjadi kredit infestasi, yang seharusnya oleh debitur tidak lagi menambah jaminan apa pun sebab dilihat dari alih fungsi debitur telah menebus dosa dari  debitur yang bermasalah, dengan barang jaminan yang berada pada bank tersebut. Namun, pihak bank justru meminta kepada debitur (Devi) untuk menambah barang  jaminan sebidang tanah dengan sertifikat hak milik atas nama debitur seluas 500 m2 dengan tambahan administrasi Rp 5.000.000,- dan mobil Toyota New Avansa 1.3 G tahun 2012 yang atas nama Jonny Nathanel Ndolu. “Saya kesal, hanya kredit Rp. 250 juta tetapi nilai barang jaminan saya ditaksasi sekitar 1,5 miliar, apa ini wajar”, ungkap Devi.

Lanjut Devi, soal administrasi oleh direksi Bank Christa Jaya, Kris Lyanto mengatakan tidak ada tambahan biaya administrasi sehingga saya pun menyetujuinya, tetapi hal ini yang membuat saya kaget, pada keesokan harinya pihak bank meminta saya untuk membayar uang administrasi sebesar 8 juta, sehingga saya berkeberatan sebab jumlah uangnya sangat besar,  ini bagaimana kok kemarin omong lain sekarang omong lain, ini berarti saya ditipu dong! Pihak bank menawarkan diskon sebesar 1 juta tetapi oleh Devi menolak sebab ia harus menambah 2 juta. Walau tersinggung dengan penolakan tersebut, namun mereka  tetap mengiginkan untuk melihat rumah yang dijaminkan.  “Saya sesalkan sikap  pihak bank yang mengeluarkan bahasa yang tidak sopan dengan mengatakan “mana rumah itu, rumah yang kayak kandang itu,” tutur Devi.

Sebagai  debitur yang seharusnya mendapatkan hak-haknya namun hal ini berbeda dengan Devi Anthonia Juliana Ndolu yang tidak menerima uang sepersen pun, tetapi selaku debitur yang baik  ia selalu berupaya untuk melaksakan kewajibannya, demi menjaga keperjayaan bank terhadap debitur. Selama kurun waktu 3 bulan ia berupaya untuk selalu mebayar hutang yang dibebankan kepadanya. Tetapi yang anehnya, ia sendiri tidak mengetahaui berapa besar jumlah hutang yang ditangguhkan kepadanya, sebab kreditur tidak memberikan salinan perjanjian kredit.” Sehingga  ia bertanya kepada kreditur bahwa seharusnya berapa besar hutang yang harus di bayar” namun oleh kreditur hanya mengatakan padanya untuk tetap membayar bunga Rp.6.750.000,- dan pada bulan ke 5 debitur kembali bertanya kepada kreditur tentang besaran utang yang harus dibayar namun oleh pihak bank tetap memberikan jawaban yang sama juga.

Pada bulan ke-5 debitur telah mengalami kemacetan hingga bulan ke 6, akibat dari kemacetan tersebut kreditur kembali menawarkan Addendum Penambahan/Suplesi Kredit dengan nomor : 385A/PK-CJP/2015 tanggal,16-06-2015 dengan tambahan sebesar Rp.50.000.000,- yang langsung di potong oleh bank, hingga total pinjaman debitur sebesar Rp.300.000.000,-. Akibat dari pengalihan kredit, usaha Devi macet sehigga ia (debitur)  mengalami tunggakan selama 3 bulan lagi, karena bunga yang dibebankan kepadanya sangat besar. “Saya heran awalnya pihak Bank meminta saya untuk membantu mereka mengatasi kredit macet namun mereka tidak memahami hal tersebut dan selalu mendesak agar saya melunasi tunggakan, berikan saya waktu  untuk memenuhi kewajiban saya”, tutur  Devi. Lanjutnya, selama kurun waktu 3 bulan saya berupaya untuk mendapat pinjaman dan akhirnya oleh pihak  bank BRI unit Tarus mengiyakan untuk membantu saya, namun tak di sangka bank Crista Jaya telah mematikan langkah saya (debitur) dengan memberikan Blaclist, “ada apa dengan Bank Christa Jaya”, tegas Devi.

Comments
Loading...