Informasi Terupdate Hari Ini

MARKUS MISA DIANIYA KEPALA PUSKEMAS NUNKOLO, ALFIAN KASE MEMBANTAH

0 110

NTT (faktahukumntt.com), Perilaku kekerasan terhadap setiap insan patut diberikan sangsi hukum, tidak pandang bulu siapa pun dia. Seperti yang dialami oleh Markus Misa warga Desa Saenam, RT/RW.07/03, Kecamatan Nunkolo, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Jumat. 29/06/18.

Pelayan publik yang benar adalah pelayanan yang mampu memberikan rasa nyamanan, aman adil dan merata kepada setiap orang, bukan pelayanan yang dilakukan dengan kekerasan, hal ini terjadi di Keacamatan Nunpene yang di dalangi oleh Kepala Puskesmas Nunpene Alvian Kase dan stafnya terhadap Markus Misa.

Kejadian yang dialami oleh Markus Misa merupakan hal yang tak disangka-sangka olehnya,Ketika di temui di Kota kupang Kecamatan Maulafa, Selasa. 10/07/18. Markus Misa menuturkan bahwa dirinya bersama sang istri Antonia Nomlene mendatangi Puskemas Nunkolo untuk memeriksa kehamilan istrinya, namun bukan sang pelayan publik memberikan pelayanan sesuai dengan perintah Pak Jokowi namun mereka melakukan pelayanan yang tidak sopan dan tindak kekerasan yang berupa pengeroyokan.

Tutur Markus kepada wartawan pada saat itu, tanggal 25 Juni 2018 kami datang ke Puskesmas namun kata bidan, Loket sudah tutup, terus pada tanggal,29 Juni 2018 kami datang lagi tepat jam 09.00 wita disitu kami melihat ada bidan yang bermain HP, tanya seorang bidan, karmana om, tersus saya bilang kami mau periksa kandungan Istri. terus kata bidan loket sudah tutup, terus mereka tanya bapak dari mana, saya jawab kami dari Desa Saenam. pada saat itu saya juga melihat bidan sedang melayani seorang pasien yang sedang pasang KB.

Markus mencoba melakukan pendekatan dengan bidan katanya,tolong layani kami karena pasien cuma satu saja, kami sudah datang dari desa yang jauh dan kami sudah datang dua kali, jawab bidan tidak bisa om karena sudah terlambat, lalu saya tutup pintu untuk pulang dan saya berjalan meninggalkan puskesmas sekitar sepuluh meter tiba-tiba terdengar suara teriakan dari belakang, saat saya menoleh teryata salah satu bidan yanh memanggil saya dari teras puskesmas, om-om tolong menghadap bapa tua dia atas, saya tanya bapa tua siapa jawab bidan bapa tua Kase kepala Puskesmas.

Dengan senag hati saya datang dengan harapan agar istri saya bisa mendapat pelayanan namun harapan itu sirna. Ketika Saya melangkah ke dalam ruangan,saya ada lihat bapa tua ada duduk di adalam ruangan, lalu bapa tua alias sang kepala puskesmas berteriak dengan suara yang kasar katanya “buka sepatu kurang ajar tidak sopan ko pakai sepatu” perkataan itu di ulangi sebanyak empat kali. Saya juga tau diri karena masuk di orang punya ruangan, jadi saya keluar ke teras ko buka sepatu, baru tondok ko buka sepatu sebelah dibuang di tanah tau-tau ada ibu bidan merasa tersinggung bahwa seolah-olah saya mau lempar dia dengan sepatu, saya bilang tidak ibu bapa tua yang suruh saya lepas sepatu, sementara omong dengan ibu, bapa tua dari belakang pukul saya di pelipis, hidung dan mata lalu saya jatuh di teras puskesmas lalu datang salah satu pegawai injak saya.
Dicurigai Sang Kepala Puskesmas dan Sekcam telah merencanakan pemukulan kepada korban, Lalu mereka ambil saya kasi duduk diteras Puskesmas dan mereka telpon Sekcam Nunkolo ko datang, ”dalam pembicaraannya Kepala Puskesmas dengan Sekcam via telepon katanya mari su kitong su pukul Markus Misa, setibanya Sekcam di Puskesmas lalu ia olok-olok saya katanya itu baru lu nae ketemu karena selama ini beta cari-cari baru lu nae kena” kata sang sekcam.

Selanjutnya salah seorang bidan menelpon suaminya, teryata seorang pengayom masyarakat alias Tentara yang seharusnya memberikan perlindungan kepada masyarakat, namun berbeda dengan pria yang bercelana loreng ini, “Tentara itu datang langsung pukul tambah beta di tempat kejadian sebanyak delapan kali”. Yang keroyok saya pada saat itu sebanyak tujuh orang semuanya pegawai Puskesmas. dan mereka telpon polisi amankan beta, “Kepala Puskesmas dan Sekcam suruh polisi borgol beta tapi jawab polisi kok kamu sudah pukul orang sampai mau mati kenapa suruh saya borgol kamu kurang ajar” lalu beta di bawa ke pos polisi dan selanjutnya saya buat laporan Kapolsek Amanatun Selatan dan melakukan Visum di RS Oenlasi.. kata Markus
Saat ditanyai wartawan, apakah ada masalah antara Korban dan Kepala Puskesmas atau Sekcam, kata Markus tidak ada persoalan diantara mereka dan saya juga tidak kenal dekat dengan Kepala Puskesmas dan Sekcam. kejadian tersebut sang istri mengalami traumah yang berkepanjangan, dikuatirkan berpegaruh pada janin yang ada, sebab istrinya Markus juga mendapat pukulan di pundaknya. Harapannya masalah ini tetap di tindak lanjut sesuai dengan aturan yang ada.
Salah satu keluarga dari Markus Misa yaitu Zet Misa mengatakan kejadian yang di alami adiknya membuat korban selama dua hari lamanya tidak dapat berkomonikasi dengan keluarga diakibatkan Markus sedang dalam keadan tidak sadar dan dalam masa perawatan medis.

Zet mengharapakan agar insan pers dapat membantu mempublikasikan masalah ini sehingga kedepannya pelayanan seperti ini tidak terjadi lagi sebab bila semua Puskesmas di Nusa Tenggara Timur melakukan hal yang demikian maka rakyat yang menjadi korban. dan harapan kami agar Puskesmas, Pustu dan Polindes dapat meberikan pelayanan yang signifikan. Dan persoalan yang di alami Markus semoga mendapat pelayanan hukum yang baik sehingga ke depanya pelaku-pelaku kejahatan seperti ini bisa jera dan mendapat hukuman sesuai dengan perbuatan mereka.
Kasus tersebut kini ditangani oleh pihak Polsek Amanatun Selatan dan para tersangka dan saksi telah diperiksa namun dari pihak rumah sakit belum mengeluarkan hasil visum, saat di hubugi via telepon Zet mengatakan kepada wartawan Fakta Hukum Indonesia bahawa dari pihak keluarga sudah menghubugi Polsek via telepon untuk menanyakan kecelasan kasus tersebut, namun dari polsek mengatakan bahwa hasil visum belum dikeluarkan oleh RS Oenlasi.

Saat di hubugi via telepon oleh wartawan terkait kejadian tersebut, Kepala Puskesmas Alvian Kase membenarkan kejadian penganiayaan tersebut, ditanyai terkait dengan pemukuluan diruangannya Alvian mengatakan bahwa itu tidak benar dan bohong, namun yang melakukan pemukulan itu adalah suami dari pegawai puskesmas, dan Alvian membenarkan pengeroyokan yang dilakukan oleh stafnya sebab mereka membela ancaman yang dilakuan oleh korban sehingga terjadi adu visik, karena terjadi pelemparan sepatu korban kepada pegawai setempat.

Berdasarkan keterangan dari Alvian kepada wartawan bahwa dirinyalah yang membela korban dari pukulan suami sang bidan dengan alasan bahwa korban adalah masyarakatnya juga dan Alvian juga mengakui bahwa dirinya telah diperiksa oleh Polsek. (Misa & team)

Comments
Loading...