Informasi Terupdate Hari Ini

PERUMAHAN PONDOK INDAH MATANI DIBANGUN DI ATAS TANAH MILIK ISAK SABA’AT

0 366

 

Yance Thobias Mesah, SH (Kuasa Hukum Herman Saba’at)

FHI-Kupang (faktahukumntt.com), Perumahan Pondok Indah Matani dibangun di atas tanah milik Isac Saba’at. Hal ini diungkapkan oleh Mantan Kepala Desa Oelnasi era 90-an, Jermias Nuban saat ditemui tim Investigasi di kediamannya (08/09/18), dengan diperkuat oleh Dokumen yang dipegang oleh Yance Tobhias Mesah, SH, selaku Kuasa Hukum Hermanuel Saba’at (alih waris dari Isac Saba’at).

Jeremias menjelaskan bahwa persoalan tanah tersebut terjadi sejak Isac Saba’at dengan Cristofel Naimanu dan Esau O. Naimanu, mereka berperkara di Pengadilan. Pada saat saya terima jabatan Kepala Desa di satu pihak dan dilain pihak saya sebagai Keluaraga dari kedua Kubu. Saya berusaha meredam masalah ini. Sehingga masalah ini kami selesaikan secara kekeluargaan di Kantor desa Oelnasi, 24 Juni 1995. Selanjutnya ditentukan waktu perdamaian di rumah Isak saba’at, yang dihadiri oleh Camat Kupang Tengah, Diki Pelt (Kepala Pertanahan Kab. Kupang), Polsek Kupang Tengah, Kades Tarus (Daniel Lomi Rohi), dari wartawan RRI, dan Sekwilcam (Rodi Fa’a).

Lanjut Jermias, setelah itu tim turun lokasi untuk pemeriksaan lokasi, saat pemeriksaan lokasi saya sendiri berbicara dengan kedua kubu dan solusinya dibuatkan jalan pemisah lebar jalan 6 meter dengan batas tanah bagian Barat RT.01/RW.01 Matani milik Isac Saba’at dan penduduk matani, bagian timur Kampung Lakujo, RT.04/RW.01 milik Cristofel dan Esau sedangkan bagian Kampung Nefofatu RT.05/ RW.01 milik isak saba’at.

Kemudian Terjadilah jual beli antara Esau dan Sinyo, diawali dengan membawa satu surat jual beli untuk ditandatangani Kades Oelnasi tahun 1999, dalam isi surat tertulis lokasinya terletak di RT.01/RW.01 Matani teryata pelaksanaannya jual beli  terjadi di RT.04, RT.05/RW.01. sehingga perbuatan memindahkan objek jual-beli dari RT.01 ke RT.04 dan RT.05 dikategorikan perbuatan para mafia tanah. “sebagai pemerintah saya kecewa terhadap tindakkan penjual dan pembeli tersebur”, ungkap Jermias.

“Harusnya perumahan matani berdiri di atas tanah milik Sabaat dan Naimanu berdasarkan hasil persetujuan dari kedua bela-pihak dan penetapan batas wilayah pada tahun 1995. Tetapi faktanya tanah tersebut dijual ke Sinyo secara keseluruhan oleh Esau pada tahun 1999 tanpa diketahui oleh Kepala Desa setempat. Dan Persoalan ini mulai terungkap sejak adanya surat somasi dari Herman Saba’at ke Kepala Desa meminta penjelasan tentang peristiwa pembagian tanah antara ke2 belah pihak”. Tegas Jermias.

Sebagai Kepala Desa, saya mempunyai kewenangan untuk membalas surat tersebut ke Herman bahwa surat yang ditanda-tangani sebenarnya lokasinya di RT. 01/RW. 01 bukan RT.04/RT.05 dan itu saya telah ditipu. Dengan demikian saya mencabut kembali surat pernyataan jual-beli tanah tanggal 31 Desember 1999 yang sudah ditandatangani. Oleh karena ini saya berharap agar Penjual dan pembeli harus ditindak secara hukum sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Benar bahwa waktu 2009 terjadi pembangunan perumahan Matani oleh pihak pengemban Perumahan Pondok Indah Matani namun sebagai tokoh masyarakat saya tidak punya kapasitas untuk melarang aktivfitas tersebut. Tapi saya bersedia bersaksi di pengadilan untuk menyatakan sebenarnya.

Hal senada juga dijelaskan oleh salah satu korban, Benyamin Nalle bahwa Sinyo Langoday pada tahun 1987-1999 membeli sebidang tanah seluas + 163.525 m2 dari Esau Naimanu. Tanah tersebut terletak di kampung matani RT.01/RW.01 Desa Oelnasi dalam surat peryataan jual beli tanah dibuat pada tanggal 31 Desember 1999 yang ditandatangai oleh Kades Oelnasi, Jermias Nuban dan ketua RT.01 Matani Yunus Tosi.

Pada tahun 2003 tanah tersebut diterbitkan sertipikat oleh BPN Kabupaten Kupang sekitar 17 sertipikat. Sertipikat ini diterbitkan atas nama Sinyo Langoday dan Keluargannya yang terletak di RT.04 dan RT.05/RW.01 di tanah pembagian Naimanu dengan saba’at dan juga tanah milik masyarakat lain yaitu Yunus Tosi  dan Benyamin Nalle yang terletak di RT.04/RW.01 yang dibeli dari Esau pada tanggal 2 desember 1995.

Terhadap kegiatan pengalihan objek pembangunan Perumahan Pondok Indah Matani telah mendatangkan kerugian bagi masyarakat sebagai pemilik tanah. Sebut saja Benyamin Nalle dan Yunus Tosi juga adalah korban dari permainan Esau dan Sinyo dalam surat pernyataan jual beli tersebut. Dan yang paling dirugikan adalah Isac Saba’at karena sejak pembangunan perumahan tersebut tidak ada satu rupiahpun diberikan kepada yang bersangkutan. Jika demikian adanya maka Isac Saba’at juga bisa dikategorikan sebagai pemilik perumahan bila diterapkan system bagi hasil. (Tim Investigasi).

 

Comments
Loading...