fbpx
Informasi Terupdate Hari Ini

Diduga Langgar Kode Etik, 4 Anggota DPR-RI Dilaporkan ke MKD

0 153

Jakarta (faktahukumntt.com), 8 Advokat yang tergabung dalam Advokat Pengawal Konstitusi melaporkan 4 anggota DPR-RI ke Mahkamah Kehormatan Dewan DPR-RI yang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap Kode Etik Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI).

“Kami telah melaporkan dugaan terjadinya pelanggaran Kode Etik yang dilakukan oleh 4 anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia atau disebut teradu yakni Fadli Zon, S.S, M.Sc (Partai Gerakan Indonesia Raya), Fahri Hamzah, SE (Partai Keadilan Sejahtera), Rachel Mariam Sayidina (Partai Gerakan Indonesia Raya), Dr. H. MARDANI, M.Eng. (Partai Keadilan Sejahtera)”, kata Pattyona

Petrus Bala Pattyona (salah satu dari 8 Advokat) melalui WA kepada faktahukumntt.com menyampaikan  bahwa yang menjadi dasar dan pertimbangan laporan dugaan pelanggaran Kode Etik dilakukan oleh 4 Anggota DPR-RI adalah bahwa dalam kedudukannya sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia secara tendensius dan provokatif telah memberikan pemberitaan melalui Media massa dan media social yang menyebarkan kepada Publik tentang penganiayaan yang dialami Ratna Sarumpaet.

Pernyataan mereka (Anggota DPR-RI) dengan menyatakan “telah terjadi penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet” diketahui adalah suatu kebohongan dan akibat pernyataan-pernyataan tersebut telah menjadi Viral di tengah-tengah masyarakat serta menimbulkan keresahan dan berpotensi terjadinya konflik horizontal.

“Atas dasar tersebut kami Para Advokat selaku bagian dalam masyarakat dan sebagai konsekuensi dari profesi advokat sebagai “Penegak Hukum” mengadukan tindakan Para Teradu yang tidak mencerminkan perilaku anggota DPR RI dan telah melanggar Kode Etik Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia”, kata Pattyona

Berikut kami kutip pernyataan – pernyataan yang patut kami duga telah melanggar kode etik :

Fadli Zon, S.S, M.S dalam wawancara di media :

Fadli Zon : “Saya 2 hari lalu memang menjenguk ibu Ratna di kediaman beliau, setelah malamnya saya baru tau terjadi penganiayaan yang luar biasa kepada Mba Ratna, ya. Kejadiannya ya mungkin kurang lebih  semingguan yang lalu dan ini sedang kita investigasi kalau tidak salah tempatnya itu di Bandung, diparkiran di Bandung, parkiran bandara gitu, jadi beliau juga ada recovery karena ada luka jahitan luka dibagian kepala oleh oknum-oknum yang saya kira melakukan  satu tindakan yang keji dan biadab pada Mba Ratna, dan Mba Ratna sendiri memang tidak ingin ada,apa namanya,  ini di ekspos sebelumnya karena  ingin proses recovery dan juga tentu saja saya  yakin beliau juga mengalami trauma, tidak pernah menyangka dalam hidup beliau ada satu perlakuan atau tindakan seperti itu, ya. Mba Ratna ini adalah ibu yang usianya 70 tahun  dan kita juga nanti  akan investigasi apa yang sesungguhnya terjadi, itu kira-kira”.

Pers : Kalau pengakuan Mba Ratna sendiri bagaimana pak?

Fadli Zon : “Ya, pengakuan Mba Ratna seperti itu, Mba Ratna sebetulnya tidak ingin ini juga terekspos dulu gitu  , karena beliau juga ingin ya meneguhkan diri nya dulu lah gitu ya,  sambil lukanyajua masih waktu itu mengalami pusing dan sebagainya kesakitan yang luar biasa, karena penganiayaan itu dilakukan oleh mungkin 2 atau 3 orang laki-laki, diparkiran di luar mobil, tapi mengenai detailnya gak saya belum tau”.

Pers : Ya mudah-mudahan ada CCTV nya ya

Fadli Zon : “Belum, belum tau, beliau sebetulnya ingin menenangkan diri dulu , ya masih syok masih traumatic, saya belum tau juga, jadi saya yang penting kemarin itu menenangkan Mba Ratna saya juga menghibur untuk ya tetap teguh, saya kira Mba Ratna ini seorang aktivis yang dari dulu orang yang berani, teguh. Dan juga punya pendapat pandangan yang  kokoh gitu ya, saya datang sebagai solidaritas, apalagi Mba Ratna juga di dalam tim kampanye atau Badan  Pemenangan Nasional beliau juga salah seorang Juru kampanye Nasional gitu”.

Pers : Ada motif politik gak?

Fadli Zon : Ya, saya tidak tau, tapi dalam hari-hari seperti sekarang mana ada yang tidak terkait dengan politik sih, iya kan?

Pers : …

Fadli Zon : “Ya, Mba Ratna tetap , ya saya yakin dia Cooling down dulu ya tapi tetap akan terus berjuang untuk menyatakan apa yang menurut Mba Ratna benar tentu saja mencari keadilan dan sebagainya . Ya saya kira untuk sementara itu dan nanti akan kita investigasi secara internal juga, maksudnya mungkin kecuali nanti Mba Ratna sudah mengambil keputusan akan melaporkannya kepada pihak kepolisian, ya karena kita kan juga tau banyak laporan-laporan seperti ini ujungnya itu mubajir, gitu ya”.

Fahri Hamzah, SE Dalam wawancara di media :

Fahri Hamzah : “Mohon maaf ya, perempuan tua umur 70 tahun ada yang mukul sampai kayak begitu, menurut saya biadab itu, iya. Itu polisi harus cepat tu nyari orang nya itu, ambil segera CCTV nya, kejar orangnya, siapa orang nya itu. Itu pasti bajingan betul itu orang tu, ya mesti dikejar itu”.

Pers : soal motifnya sendiri bagaimana…

Fahri Hamzah : “Gak perlu motifnya, ini ada orang Ibu kita umur 70 tahun  dihajar katanya 3 orang laki-laki, keterlaluan itu, ya. Musti harus dihajar dan dikejar cepat itu”.

Pers : ada kaitannya soal 2019 gak?

Fahri Hamzah : “Saya gak tau, yang penting ini ada kejadiannya, ya kan. Ibu Ratna itu saya dengar sampai kejadiannya katanya 21 September yang lalu, dia sembunyi karena hancur itu wajahnya itu, dia malu dan sebetulnya dia gak mau bawa ini, tapi ini biadab, ini adalah apa namanya, ancaman kepada kebebasan, kepada demokarsi kita, Ibu Ratna itu adalah aktivis yang perempuan yang sangat vocal dan kita mau perempuan-perempuan lain itu vokalnya kayak Ibu Ratna, tapi tiba-tiba dia dianiaya kayak begitu. Menurut saya ini biadab dan harus dikejar gitu lho, harus bekerja cepat polisinya jangan ada istilah lamban ini harus segera ditangkap, kalau bisa satu dua hari ini harus ditangkap orang nya itu, gak perlu ada laporan kayak begini”.

Pers : …

Fahri Hamzah : “Saya dengar beliau malah gak mau gitu lho, jadi iya itu lah sekarang udah bocor fotonya kan, dan saya tanya tadi ternyata itu benar”.

Pers : …

Fahri Hamzah : “Gak, saya gak tanya beliau saya tanya pak Fadli, pak Fadli bilang memang itu benar, ya mengerikan sekali ya, kejadian ini menurut saya ya, ini adalah ancaman bagi kita semuanya, harus cepat tuh, polisinya harus tangkap segera orangnya itu, yak kan. Tangkap segera siapa orangnya segera diadili, kalau gak terror semacam ini akan terus berlangsung kepada orang yang suka berbicara, saya ini kan kalua kayak begini kan termasuk bagian dari ancaman gara-gara suka bicara, terlepas siapa yang saya kritik tapi yang bicara kayak begini kan gak boleh dilawan dengan kekarasan dong harus dilindungi, dan seumur beliau itu ya,  pernah hidup dia di zaman orde lama, dia pernah hidup di zaman orde baru, dalam transisi, saya kira itu adalah ancaman yang paling besar yang di hadapi oleh dia, ancaman fisik hampir mati  orang seusia itu  di aniaya kayak begitu, ini jahat betul ini ya, manusianya itu ya pasti, apa, kebinatangan nya lebih menonjol dari pada kemanusiaannya dan mungkin sudah gak ada kemanusiaannya itu orang tu, musti dikejar itu. Ya , saya kira itu, polisi harus bergerak cepat gak usah nunggu-nunggu laporan kiri kanan, kejar cepat, saya kira itu ya”.

Rachel Mariam Sayidina, Dalam Pemberitaan di media mengutip tulisannya dalam media social dengan akun twitter @cumarachel :

“Setelah dikonfirmasi, kejadian penganiayaan benar terjadi hanya saja waktu penganiayaan bukan semalam melainkan tgl 21 kemarin. Berita tidak keluar karena permintaan bunda @RatnaSpaet pribadi, beliau ketakutan dan trauma. Mohon doa”

“innalillahi bunda @RatnaSpaet semalam dipukuli sekelompok orang. Saat ini keadaan babak belur. Hei kalian beraninya sama ibu2! Apa kalian gak punya ibu? Lahir dari apa kalian?

Dr. H. MARDANI, M.Eng.

Dalam Pemberitaan di media mengutip tulisannya dalam media social dengan akun twitter @MardaniAliSera: “Pemukulan Ratna Sarumpaet Bencana Demokrasi dan Kemanusiaan, ini penghinaan terhadap Pancasila, menginjak2 pemerintahan yang demokratis. Munir & Noval Baswedan belum selesai, sekarang @RatnaSpaet. #TolakKekerasanGayaPKI

“Saya agak bisa mengambil kesimpulan, ini upaya untuk membungkam seorang Ratna Sarumpaet. Dan kami bisa pastikan, Kak Ratna dan kami semua insyaallah akan melawan”.

Lanjut Pattyona, pernyataan-pernyataan tersebut di atas patut diduga telah berperilaku tidak pantas atau tidak patut yang dapat merendahkan citra dan kehormatan lembaga DPR, hal mana pernyataan mereka berpotensi mendelegitimasi Institusi Kepolisian Republik Indonesia sebagai penegak hukum yang juga adalah mitra strategis DPR RI. Pernyataan tersebut juga dapat berdampak hilang atau menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap Kepolisian Republik Indonesia yang akan mendorong pengambilan kesimpulan secara prematur atas suatu peristiwa hukum serta memicu meningkatkan aksi main hakim sendiri oleh masyarakat umum dengan mengenyampingkan proses hukum.

Bahwa dengan pernyataan tersebut diatas diduga mereka telah berprasangka buruk terhadap Pemerintah Republik Indonesia atas suatu hal yang belum dapat dipastikan kebenarannya, hal mana tindakan ini berpotensi menghilangkan kepercayaan  masyarakat umum terhadap Pemerintah Republik Indonesia yang sah serta berpotensi menimbulkan konflik vertikal dan horizontal di masyarakat Indonesia yang sedang rentan perpecahan sehubungan dengan tahun politik.

“sebagai manusia yang berpendidikan dengan kearifan serta kehati-hatiannya seharusnya dapat menghindari tindakan-tindakan yang diadukan demi menjaga citra dan martabat DPR RI, namun mereka melalaikan kewajiban tersebut dengan mengedepankan prasangka buruk yang patut diduga dilakukan demi keuntungan suatu kelompok politik”.

Bahwa pernyataan-pernyataan yang dilakukan tersebut telah mengkerdilkan posisi mereka sebagai legislator (pembuat undang-undang) yang tentu paham proses hukum. Dengan tidak mengikuti prosedur hukum, mereka melakukan tindakan penghakiman secara opini di media elektronik maupun media social yang ikut aktif memberikan informasi yang menyesatkan tentang penganiayaan Ratna Sarumpaet yang ternyata adalah kebohongan.

Pernyataan- pernyataan tersebut dapat kami sampaikan dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan secara nyata telah melanggar  Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Kode Etik DPR RI, Pasal 3 ayat 1 dan ayat 4, yang berbunyi “Anggota harus menghindari perilaku tidak pantas atau tidak patut yang dapat merendahkan citra dan kehormatan DPR baik didalam gedung DPR maupun di luar gedung DPR menurut pandangan etika dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Ayat (4)  “Anggota harus menjaga nama baik dan kewibawaan DPR” dan juga Pasal 9 ayat (2), yang berbunyi “Anggota dalam melaksanakan fungsi, tugas, dan wewenangnya, tidak diperkenankan berprasangka buruk atau bias terhadap seseorang atau suatu kelompok atas dasar alasan yang tidak relevan, baik dengan perkataan maupun tindakannya.

“Berdasarkan hal tersebut diatas kami para advokat yang juga bagian dari “Penegak Hukum” memohon kepada Mahkamah Kehormatan Dewan DPR-RI untuk segera memproses pengaduan ini sesuai dengan prosedur dan ketentuan peraturan yang berlaku”, jelas Pattyona.(JB).

 

 

Comments
Loading...