Angin Kencang dan Gelombang Tinggi, Hanyutkan Kapal Nelayan

Dibaca 394 kali

Faktahukumntt.com  –  NAGEKEO,

Ditengah perjuangan melawa Badai Corona Virus Diasease Nineteen (Covid-19), nasip nahas malah menimpa dua nelayan warga kecamatan Aesesa, kabupaten Nagekeo propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pasalnya Kapal penangkapan ikan milik keduanya, yang diketahui bernama Cuandi warga Desa Maropokot dan Rudi warga Desa Nangadhero hanyut diterjang gelombang yang dipicu oleh angin kencang pada kamis (21/05/2020) dini hari.

dikutip dari floresfile.com, Cuandi, korban dan pemilik kapal Cahaya Marwah menerangkan angin kencang yang disusul dengan gelombang laut dengan ketinggian sekitar 3 meter itu, sudah dua hari menghujam parahu nelayan di Pantai Utara Flores.

Berdasarkan cerita Cuandi, kejadian itu terjadi sekitar pukul 04.00 Wita, ketika mereka pulang melaut. Setelah menambatkan jangkar kapal, tiba-tiba datang angin kencang dari arah timur dan gelombang besar setinggi  3 meter, menghujam kapal miliknya.

Baca Juga :  Nagekeo Zona Merah, P2T2 Dan OTG Terus Bertambah, Desa Waekokak Perketat Pengamanan.

Dirinya bersama beberapa rekannya dan awak kapal, langsung menyelamatkan diri menuju ke darat. Mereka pun selamat. Namun kapal miliknya tenggelam disapu gelombang.

Cuandi mengakaui, kapal ikan berukuran 7 GT miliknya dibeli sejak tahun 2017 dan tasiran kerugian yang dialaminya mencapai ratusan juta rupiah akibat perisitiwa tersebut.

Selain itu, Rudi warga Desa Nangadhero mengalami hal serupa. Kapal 5 GT Riski Ilahi miliknya, ikut tenggelam bersamaan dengan Kapal Cahaya Marwah milik Cuandi.

Rudi mengatakan, selama ini dirinya dan teman-teman anak buah kapal (ABK) menggantungkan hidup di laut dengan kapal tersebut. Namun saat ini, pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa dan iapun bersyukur karena dirinya dan kawan-kawannya bisa menyelamatkan diri dari kejadian itu.

Baca Juga :  Abrasi Sebabkan Permukiman Nelayan Pesisir Pantai Maropokot Terendam Air Laut.

Kepala Desa Nangadhero, Ruslan menjelaskan, musibah seperti ini sudah sering terjadi setiap tahunnya. Hal tersebut dikarenakan, warga nelayan di Nangadhero tidak memiliki kolam labuh untuk penambatan semua kapal ikan.

Sebagai kepala wilayah, Ruslan berharap agar pemerintah daerah kabupaten Nagekeo melalaui Dinas terkait, bisa mengatasi persoalan yang dialami nelayan dan menganggapnya sebagai persoalan bersama sehingga bisa menuai solusi, nelayan yang menjadi korban dapat melaut kembali. (Pfb)

Tulisan ini berasal dari redaksi
Tetap terhubung dengan kami:

Comment