Chris Liyanto: Kinerja Tahun Buku 2019 BPR CJP Memuaskan dan Stabil di Tengah Pandemi Covid-19

Dibaca 321 kali

Komisaris Utama dan Pemegang Saham pengendali BPR CJP, Chris Liyanto (baju putih lengan panjang) didampingi Direktur BPR CJP Lany M. Tadu dan Manager Marketing GA Wilson Liyanto saat jumpa pers, sabtu, 13/06/2020

FaktahukumNTT.com, BPR CJP KUPANG

“Laporan Pertanggungjawaban Direksi atas kinerja Tahun Buku 2019 pada pelaksanaan RUPS hari ini sangat memuaskan dimana di Tahun 2019 terjadi peningkatan pertumbuhan yang cukup signifikan dari sisi Asset, Laba, Dana Pihak Ketiga (DPK), Modal, dan Kredit, serta dari penilaian ratio Tingkat Kesehatan Bank juga sangat baik dari sisi CAR, ROA, ROE, dan NPL”, kata Chris Liyanto kepada awak media usai RUPS Tahunan untuk TA 2020 yang digelar di aula Bank Perkreditan Rakyat Christa Jaya Perdana (BPR CJP) sabtu, 13 Juni 2020.

Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan TA 2020 dihadiri oleh 4 (empat) orang pemegang saham, yakni Christofel Liyanto, Blasius Widodo, Yano Laemonta dan Theodorus Widodo.

Kepada awak media, Komisaris Utama sekaligus pemegang Saham Pengendali BPR CJP, Chris Liyanto menjelaskan secara kuantitatif kinerja pertumbuhan Asset BPR CJP pada Tahun 2019 bertumbuh sebesar 13%, Laba bertumbuh 14%, DPK bertumbuh 10%, Modal bertumbuh 8%, dan Kredit bertumbuh sebesar 10%. Penilaian ratio Tingkat Kesehatan Bank BPR CJP tahun 2019 cukup baik, CAR berada pada predikat SEHAT dengan ratio sebesar 30,62% dimana standar ketentuan yang ditetapkan OJK adalah minimal 12%. Ratio ROA berada pada predikat SEHAT dengan ratio sebesar 4,17%, dimana standar ketentuan yang ditetapkan OJK adalah 1,215%. Begitu juga dengan tingkat NPL yang berada pada predikat SEHAT dengan ratio sebesar 0,26%, dimana ketentuan OJK adalah 5%. Dan penilaian ROE sebesar 18,94% dengan predikat sehat.

Chris Liyanto mengatakan bahwa secara industri BPR di NTT, khusus untuk Modal dan Laba, BPR CJP tetap masih menjadi No.1, bahkan untuk Tahun Buku 2019, ratio NPL BPR CJP terendah di antara seluruh BPR di NTT. Ini membuktikan bahwa secara permodalan dan kualitas kredit, BPR CJP masih menjadi yang terbaik.

“Kalau berbicara mengenai target BPR CJP di tahun 2020 saat ini memang tidak dapat dipungkiri dampak dari Covid-19 cukup mengganggu pertumbuhan dari BPR CJP. Tetapi dapat dipastikan bahwa posisi BPR CJP sampai saat ini masih sangat stabil. Ini dibuktikan dengan likuiditas BPR CJP yang masih kuat dan dapat bertahan hingga saat ini”, ujar Chris Liyanto.

Baca Juga :  Pemkot Kupang Bakal Jadikan Puskesmas Penkase-Oeleta sebagsi Tempat Isolasi Pasien Covid-19

Dikatakannya, memang dalam masa pandemik ini cukup banyak nasabah yang menarik dana mereka untuk kebutuhan operasional usaha maupun kebutuhan sehari-hari mereka. Tetapi disisi lain, permintaan kredit juga meningkat dikarenakan sebagian bank/leasing/perusahaan financing menutup layanan kredit mereka, sehingga permintaan kredit kepada BPR CJP meningkat cukup tinggi di masa pandemik ini, tetapi BPR CJP masih dapat memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut.

“Belum lagi bank juga dihadapkan dengan berbagai kebijakan pemerintah, salah satunya adalah relaksasi pembayaran kredit atau penundaan pembayaran. Hal ini cukup berdampak pada pendapatan dan laba BPR CJP. Tetapi tetap bersyukur karena pemerintah cukup bereaktif dengan memberikan beberapa kebijakan stimulus dan subsidi bunga yang memang cukup membantu menjaga perekonomian masyarakat. Dan juga bantuan likuiditas melalui bank jangkar atau bank pelaksana yang apabila program ini segera terlaksana sangat membantu menjaga likuiditas industri perbankan”, ungkap Chris Liyanto

Memang pendapatan BPR CJP pada semester I (pertama) ini mengalami penurunan, tetapi untuk menjaga motto yang selalu diagungkan BPR CJP yaitu “Keuntungan Anda adalah kesuksesan kami, kesuksesan Anda adalah kebahagiaan kami”. Maka walaupun pendapatan BPR CJP menurun diakibatkan debitur-debitur kami yang mengalami kerugian atau berkurangnya pendapatan mereka. BPR CJP sebagai bank lokal masyarakat NTT juga menyesuaikan dengan situasi tersebut, yaitu dengan cara memberikan relaksasi kredit berupa penurunan suku bunga dan penundaan pembayaran 3 sampai 6 bulan kepada debitur terdampak covid-19. “Akibatnya berdampak terhadap laba BPR CJP tahun 2020. Tetapi yang perlu kita ketahui dan sadari hal ini terjadi diseluruh bisnis dan industri perbankan”, tegas Chris Liyanto

“Oleh karena itu harapan kami kedepan semoga masa pandemik ini segera berakhir, sehingga ekonomi dan industri keuangan dapat berjalan normal kembali, dan kami juga berharap masyarakat NTT dapat terus menjaga kepercayaan terhadap industri perbankan. Kami yakin industri perbankan masih aman dan stabil sampai sat ini. Hal ini penting kami sampaikan agar masyarakat tidak perlu panik dan jangan percaya dengan informasi atau berita hoax yang tidak dapat dipertanggungjawabkan sumber beritanya”, ujar Chris Liyanto berharap BPR CJP tetap dipercaya oleh masyarakat NTT.

Baca Juga :  Pasang Plang, Kantor Polres Nagekeo Segera Dibangun, Markus Usu Tempuh Jalur Hukum.
Tulisan ini berasal dari redaksi
Tetap terhubung dengan kami:

Comment