Kadis PUPR Kabupaten Ngada Masuk Daftar Tersangka Tindak Pidana Korupsi oleh Kejaksaan Negeri Bajawa.

Dibaca 663 kali

Faktahukumntt.com – NGADA, Kejaksaan Negeri (Kejari) Bajawa dihadapan para awak media dalam konferensi pers di kantor Kejaksaan Negeri Bajawa pada hari senen, 11/05/2020 menyampaikan hasil penyidikan terhadap kasus Dugaan Tindak Pidana Korupsi yang melibatkan Kepala Dinas (Kadis) Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Ngada berinisial (TS) dan kuasa Direktur PT. Brand Mandiri Jaya Santosa berinisial (RP) terkait kegiatan peningkatan jalan Dorarapu-Dhoki Matawae kecamatan Golewa Barat Kabupaten Ngada tahun anggaran 2018.

Kepala Kejaksaan Negeri Bajawa, Ade Indrawan, SH

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Bajawa, Ade Indrawan, SH Menerangkan penetapan tersangka “TS” dan “RP” sebagai orang yang bertanggungjawab terhadap dugaan korupsi proyek peningkatan jalan Dorarapu-Dhoki Matawae karena “TS” adalah kadis PUPR kabupaten Ngada sejak tahun 2010 hingga saat ini, sedangkan “RP” adalah kuasa Direktur PT Brand Mandiri Jaya Santosa merupakan Pelaksana proyek peningkatan jalan Dorarapu-Dhoki Matawae kecamatan Golewa Barat.

Baca Juga :  Here What is in the game $80 Deluxe Edition

“Untuk yang bertanggung jawab kami menetapkan, kami jadikan tersangka, pertama saudara “TS” selaku kepala dinas Pekerjaan Umum kabupaten Ngada dari Tahun 2010 hingga sekarang. Dimana dalam kegiatan tersebut selain selaku PA (pengguna anggaran) saudara “TS” juga merupakan pejabat pembuat komitmen pada kegiatan tersebut. Tersangka selain dari “TS” Kami juga menetapkan saudara “RP”, jadi selaku kuasa direktur PT Brand Mandiri Jaya Santosa yang merupakan Pelaksana kegiatan sebagaimana tersangka sejak hari ini.” Jelas Ade Indrawan kepada wartawan.

Terkait kasus Dugaan Korupsi yang melibatkan “TS” dan “RP” kejari bajawa telah melakukan penyelidikan sejak tanggal 06 mei 2019 dengan surat perintah penyelidikan nomor: Prit-06/P.3.18/Fs/05/2019, kemudian ditingkatkan ke tahap penyidik berdasarkan surat perintah penyidikan nomor: Print-04/N.3.18/Fd.1/06/2019 dan kemudian diubah dengan surat perintah penyidikan nomor: Print-01/N.3.18/Fd.1/02/2020.

Baca Juga :  Panglima TNI Dan Kapolri: Silaturahmi Tulus Tanpa Berjabat Tangan, Walau Berjauhan Tetap Saling Mendoakan

Dalam penyidikan, Kejari Ngada telah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi dan ahli serta telah mengumpulkan barang bukti kemudian menyimpulkan berdasarkan petunjuk barang bukti permulaan yang cukup bahwa telah terjadi tindakan pidana korupsi dalam proyek peningkatan jalan Dorarapu-Dhoki Matawae kecamatan Golewa Barat, tahun 2018 dengan nilai kontrak Rp. 3.434.567.88,30.

Secara singkat konstruksi perkara dugaan korupsi peningkatan jalan Dorarapu-Dhoki Matawae dapat diuraikan sebagai berikut, Dinas PUPR Kabupaten Ngada mendapat alokasi dana sebesar 4 Miliar bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) Anggaran Pendapatan dan Belanjaan Daerah (APBD) kabupaten Ngada tahun 2018 untuk peningkatan jalan Dorarapu-Dhoki Matawae kecamatan Golewa Barat yang dikerjakan oleh PT. Brand Mandiri Cahaya Santosa dengan nilai kontrak Rp. 3.434.567.88,30.

Baca Juga :  Pelamar Diprediksi Tembus 5,5 Juta, Pemerintah Buka Penerimaan ASN Pada Oktober 2019

“TS” dalam proyek peningkatan jalan Dorarapu – Dhoki Matawae, telah bertindak sebagai pengguna anggaran sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) tidak bisa melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya untuk mengendalikan pekerjaan, juga tidak dapat memberikan penilaian kinerja pekerjaan terhadap pelaksana pekerjaan dengan baik dan benar sehingga pekerjaan tersebut tidak dikerjakan sebagaimana mestinya baik dari segi volume maupun mutu.

Berdasarkan bukti laporan hasil pemeriksaan (LHP) dari BPKP Provinsi Nusa Tenggara Timur, perbuatan “TS” dan “RP” telah menimbulkan kerugian Negara mencapai Rp 1 M dan atas perbuatan itu, tersangka akan dijerat dengan UU Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi Pasal 2 dan atau Pasal 3 dengan ancaman hukuman penjara minimal 4 tahun dan maksimal 18 tahun penjara. (Pfb)

Tulisan ini berasal dari redaksi

Comment