Pembangunan Mall Di Lokasi Pasar Tingkat Maumere Butuh Kajian Yuridis Formal

Dibaca 572 kali

FaktahukumNTT.com, KAB. SIKKA

Keinginan Pemerintah kabupaten SIKKA dalam rangka pembangunan pasar semi tradisional modern butuh kajian teknis yuridis formal.

Pernyataan itu disampaikan Anggota Fraksi partai Amanat Nasional kabupaten SIKKA Frans Sinde pada rapat dengar pendapat (RDP) antara Pemerintah kabupaten SIKKA dan DPRD Kabupaten SIKKA dan juga dihadiri oleh Presiden Direktur PT YKI selaku investor pada Jum’ad 5 Juni 2020 yang dipimpin oleh Ketua DPRD Kabupaten SIKKA, Donatus Dawud berlangsung aman dan kondusif.

“Pertemuan hari ini bertujuan untuk mempersiapkan waktu diadakan pertemuan antara Pemerintah dan DPRD. Hal ini sangat penting agar kita tidak terjebak dalam sebuah kesalahan Normatif”, ungkap Donatus.

Baca Juga :  Cakades Terindikasi Palsukan Dokumen LKPPDes Di Desa Gulung Tetap Diloloskan

Donatus menjelaskan bahwa dalam pengelolaan barang milik pemerintah ada 3 regulasi yang mengatur yakni Permendagri nomor 17 Tahun 2007; PP Nomor 19 Tahun 2016 dan Permendagri No. 9/2016.

Menurutnya ketiga aturan tersebut mengatur tentang metode kerja sama diantaranya “sewa pake, pinjam pake, kerja sama pemanfaatan, bangun guna serah, dan bangun Serah Guna”.

Untuk menentukan satu dari metode yang digunakan tidak sederhana tetapi butuh kajian ilmiah. Karena itu Pemerintah perlu menyiakan semua dokument yang dibutuhkan dalam sidang selanjutnya .

Baca Juga :  Ini Surat Edaran Menteri Pendidikan Nomor 04 Tahun 2020

Mengenai investor tentunya menyerahkan laporan keuangan yang telah diaudit oleh Akuntan Publik sebagai dasar kajihan kami”, tegas FRANS SINDE

Hal senada juga disampaikan secara tegas oleh Ketua Fraksi partai Amanat Nasional kabupaten SIikk, Philips Fransiskus.

Dalam hal pembangunan pasar tradisional semi modern maka kita butuh kajian regulasi yang jelas agar antara masyarakat, pemerintah daerah dan Investor sama-sama saling menguntungkan. (Wilhelmus)

Tulisan ini berasal dari redaksi
Tetap terhubung dengan kami:

Comment