SUDAHKAH BUMN HADIR UNTUK NEGERI?

Dibaca 84 kali

Faktahukumntt.com – Catatan Awal Tahun 2020

[dropcap]M[/dropcap]anipulasi laporan keuangan juga terjadi di Jiwasraya. Pada bulan Desember 2009 Jiwasraya mencatatkan ekuitas surplus Rp 800 miliar pasca kebijakan reasuransi dan revaluasi aset. Laporan keuangan Jiwasraya di tahun 2011 juga dinilai tidak mencerminkan angka yang wajar. Angka ini bersifat semu dan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Kondisi keuangan yang kritis di Jiwasraya terus berlarut sampai kini. Hingga saat ini Jiwasraya belum menyerahkan laporan keuangan tahun 2018.

Miris rasanya melihat kenyataan terjadinya manipulasi laporan keuangan di BUMN. Seharusnya sesuai dengan sasaran-sasaran strategis tahun 2015 – 2019 yang ditetapkan Kementerian BUMN, BUMN berfungsi sebagai Agent of Development (Agen Pembangunan) yang besar, kuat dan lincah. Indikator kinerja utamanya antara lain adalah jumlah laba BUMN dan kontribusi BUMN terhadap penerimaan negara (pajak dan deviden). BUMN yang mengalami kerugian berarti tidak berkontribusi terhadap penerimaan negara dan mengingkari fungsinya sebagai Agent of Development.

Beberapa di antara BUMN yang merugi merupakan penyediaan barang dan atau jasa bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak seperti Perum Bulog dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). BUMN lain yang merugi juga terkait dengan kebutuhan utama masyarakat yaitu pangan adalah PT Sang Hyang Seri (Persero) – BUMN yang bergerak di bidang pertanian khususnya dalam penyediaan benih dan PT Pertani (Persero) yang diposisikan sebagai BUMN yang fokus pada usaha pergabahan untuk mendukung pertahanan dan ketahanan pangan Indonesia. Secara logika perusahaan yang menyediakan kebutuhan rakyat banyak seharusnya produknya akan terserap baik oleh pasar sehingga tidak mungkin akan mengalami kerugian. Jika BUMN – BUMN tersebut mengalami kerugian keuangan sudah dipastikan BUMN tersebut tidak dikelola dengan baik dan bersih. Hal ini tidak sesuai dengan sasaran strategis yang lain dari Kementerian BUMN yang terkait dengan Learning and Growth Perspective yaitu terwujudnya tata kelola organisasi yang baik dan bersih.

Baca Juga :  Prof. Dr. Ir. Supartono, M.M., CIQaR. Terpilih Menjadi Rektor Universitas Hang Tuah 

Tugas Kementerian BUMN adalah menjadikan BUMN sebagai pelaku utama yang kompetitf. BUMN harus memiliki ciri – ciri yang sehat dan berdaya saing. Seharusnya produk antar BUMN tidak saling bersaing satu sama lain. Sebagai contoh persaingan yang terjadi antara PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (PT Telkom), PT Indonesia Comnets Plus atau ICON+ yang merupakan anak perusahaan PT PLN Persero dan PT PGAS Telekomunikasi Nusantara atau PGASCOM yang merupakan anak perusahaan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. Ketiga perusahaan tersebut sama – sama memiliki lisensi sebagai penyelenggara jaringan telekomunikasi. Seharusnya BUMN fokus mengelola produk sesuai core competency yang dimilikinya.

Persaingan internal bahkan juga terjadi di dalam internal di satu BUMN. Seperti yang terjadi di internal PT. Telkom Tbk persaingan antara Divisi Government Service (melayani segmen pemerintahan), Divisi Enterprise Service (melayani segmen korporasi), Divisi Business Service (melayani segmen small and medium business) dan Divisi Wholesale Service (melayani segmen operator atau provider). Pelanggan Divisi Wholesale Service yang antara lain merupakan internet service provider bersaing dengan Divisi Government Service di market segmen pemerintahan atau bersaing dengan Divisi Enterprise Service di market segmen korporasi atau bersaing dengan Divisi Business Service di market segmen small and medium business. Konflik internal yang terjadi akan menurunkan tingkat produktivitas suatu perusahaan. Seharusnya tata kelola organisasi suatu BUMN dibuat lebih efisien dan efektif. Anak – anak dan cucu – cucu perusahaan harus dirampingkan agar BUMN menjadi lebih lincah dan berdaya saing. Anak atau cucu yang memiliki portofolio produk yang hampir sama sebaiknya digabungkan. (Sumber:www.petani.id)

Tulisan ini berasal dari redaksi

Comment