Desa Layak Anak, Pemimpin Harus Berani Membuat Perubahan dan Tidak Takut Kehilangan Kekuasan.

Dibaca 538 kali

Faktahukumntt.com – NAGEKEO,

Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do, M.Kes membuka kegiatan Sosialisasi Kebijakan dan Fasilitasi Pembentukan Desa dan Kelurahan layak anak Tingkat Kabupaten Nagekeo, propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada selasa (27/10/2020).

Kegiatan tersebut terselenggara dengan tujuan untuk meningkatkan kepedulian dalam pembangunan yang menjamin perlindungan hak-hak anak.

Dihadapan para kepala Desa dan Lurah yang turut hadir pada kesempatan tersebut, Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do, dalam sambutannya menekankan pentingnya manjemen ruang dan waktu belajar bagi anak di rumah.

Agar dapat mewujudkan hal tersebut bupati Nagekeo meminta para kepala desa harus mampu melakukan gerakan perubahan dengan mengatur dan menjamin waktu belajar bagi anak di wilayahnya serta bertindak tegas terhadap masyarakat yang membuat kebisingan yang bertepatan dengan waktu belajar anak.

‘”Dalam RT, harus ada jam belajar anak. Jam 6 sore tidak ada lagi bunyi musik, TV. Sebagai pemimpin, mari kita lakukan itu. Kades, dan saya juga, jangan takut tidak dipilih lagi. Lakukan perubahan segera. Itu nomor Satu” Ujar Bupati Don.

Lebih jauh mengenai desa layak anak bupati Nagekeo juga menekankan akan pentingnya menempatkan perempuan pada perspektif yang benar agar mampu melahirkan generasi yang cerdas di masa mendatang.

Baca Juga :  DOA SEORANG NELAYAN

“Perempuan harus ditempatkan dalam arus utama termasuk dalam hal budayap. Supaya generasi yang akan datang jauh lebih baik dari kita” jelasnya

Bupati Don berpendapat bahwa dengan menempatkan perempuan pada perspektif yang benar akan meningkatan tingkat kepedulian perempuan terhadap anak-anaknya sehingga mampu melahirkan generasi yang cerdas dan berbakat.

“Bajawa sangat mengarusutamakan perempuan. Maka tidak heran kalau perempuan Bajawa sangat mempedulikan anak-anaknya, dan anak-anak Bajawa sangat terkenal dalam dunia sepak bola, tinju, dan lain-lain” Terang Bupati Don.

Baca Juga :  Hidupkan Iklim Kesenian, Karang Taruna Kawaliwu Gelar Malam Pentas Seni

Desa ramah anak harus dimulai dari rumah tangga. Anak harus diberi ruang tersendiri untuk belajar, kamar yang nyaman dan tidak diganggu oleh pihak manapun sehingga mampu menangkal sikap negatif dengan mencari teritori diluar rumah semisal di deker.

“Anak membutuhkan teritori dalam rumah. Kalau tidak, dia cari teritori diluar rumah. Dia cari hegemoni kekuasaan dideker, dan sebagainya. Guncangan kultur. Anak harus diberi kamar. Mau gunakan kamar anak, yah harus minta izin” ungkap Bupati Don.

Bupati Nagekeo mengajak para camat dan kepala desa yang hadir pada kesempatan tersebut untuk memerangi tatanan budaya yang mendiskriminasikan perempuan dan anak dalam praktek ditengah masyarakat dan keluarga.

Baca Juga :  SIAPAPUN PEMIMPINNYA PERLU PENYEDERHANAAN UNDANG-UNDANG

“Ketika menantu datang, sebagai mertua, apakah kita perlakukan anak mantu perempuan sebagai TKW di rumah? Makan tunggu mertua. Makan lebih dulu dibilang kurang ajar? Gimana rasanya kalau anak perempuan kita sebagai menantu di sana? Mari pikirkan dan sikapi bersama ” Ujar Bupati Don di depan para Camat, Lurah dan Kades yang hadir.

Hadir dalam kesempatan itu, 30 Kepala desa dan Lurah dari 130 Desa dan lurah sekabupaten Nagekeo yang telah diundang, camat Boawae, Camat Wolowae, Camat Aesesa Selatan, Camat Mauponggo, serta pejabat terkait dari Bappelitbang dan Dinas Peternakan.

Tulisan ini berasal dari redaksi
Tetap terhubung dengan kami:

Comment