Kami Bukan Pengemis

Dibaca 612 kali

Amuba (Anak Lembata)

Penulis: Amuba.

FaktahukumNTT.com. LEMBATA

Aku adalah anak dari salah satu keluarga korban bencana erupsi. Namaku Tiara, Aku baru berumur 10 tahun.

Kisah ini sengaja ku tulis agar siapapun yang membacanya, hatinya bergerak untuk menyampaikan pesan bapakku kepada Ibu Veronika.

Pada tanggal 29 November 2020. Kami dievakuasi ke posko pengungsian. Aku melihat banyak masyarakat yang dievakuasi. Hampir semua masyarakat desa yang dievakuasi namun ada beberapa memilih bertahan, tetap di kampung. Lantaran tidak ingin kampung mereka dibiarkan kosong.

Bantuan dari dalam daerah maupun di luar daerah berdatangan sili berganti. Sembako, tikar, peralatan mandi dan lain terus berdatangan. Relawan-relawan berbagai daerah pun berdatangan, guna membantu para korban yang mendapat musibah.

Baca Juga :  Bung Karno Berdiri di Aljazair

Isak-tangis, terdengar di setiap posko pengungsian. Meratapi nasib buruk yang menimpa kampung halaman mereka.

Dua minggu lamanya kami menunggu di posko pengungsian dengan sabar, agar musibah ini cepat berlalu.

Kamipun dihibur oleh Kaka-kaka dari “Teater Suara”. penampilan yang mereka pentaskan sangat menghibur kami para pengungsi, terlebih anak-anak seusiaku. Namun ada yang mengganjal dalam pikiranku dari spanduk yang mereka tulis “KAMI DATANG BUKAN UNTUK NAMA BESAR, NAMUN UNTUK MEMBERI PESAN”

Setiap hari, aku selalu memikirkan pesan yang Kaka-kaka “Teater Suara” tulis itu. “Sebenarnya pesan apa yang mereka sampaikan dari penampilan mereka?” Pertanyaan itu merasuki isi kepalaku. Sampai-sampai aku tidak bisa berhenti untuk memikirkan itu.

Baca Juga :  Rafik Perkasa Alamsyah: Satu Tahun Jokowi Berhasil Lakukan Transformasi Struktural dan Kesejahteraan Ekonomi

Pukul 19.00 WITA, aku mendengar koling dari posko informasi untuk para pengungsi. “Segera merapat ke dapur umum, makan malam sudah sedia”. Karena serunya bermain ular tangga bersama teman-teman, kami tidak menghiraukan apa yang dikoling dari posko informasi.

Perut mulai berbunyi bertanda lapar, melihat jam tangan yang ada di tangan kiri ku sudah menunjukkan pukul 20.30 WITA, aku mengajak teman-teman untuk ke dapur umum mengambil makan malam.

Kami sekitar 7 orang menuju dapur umum. “Belum makan ka?” tanya Ibu Veronika yang sedang mencuci piring.

Baca Juga :  Desa Layak Anak, Pemimpin Harus Berani Membuat Perubahan dan Tidak Takut Kehilangan Kekuasan.

Dengan ramah aku menjawab,” Iya, Ema. Kami belum makan malam”.

Mendengar jawabanku, Ibu Veronika dengan wajah kesal berkata,” makan habis tidur e, kalau sudah bangun, baru makan lagi. Begitu terus. Kalian ini hanya tau makan saja.”

Mendengar apa yang dikatakan Ibu Veronika. Merasa malu, kami memutuskan untuk tidak makan malam. Dengan menahan rasa lapar, kami kembali ke tenda pengungsian.

Tulisan ini berasal dari redaksi
Tetap terhubung dengan kami:

Comment