Merantau

Dibaca 417 kali

Negeri Jiran Malaysia tampak indah jika dilihat dari sudut kota Tawau. Deretan bangunan megah mematung indah di tengah kota. Pertokoan serentak hiruk pikuk dipenuhi massa dari berbagai daerah. Di sana anak-anak kecil memelas kening ayah minta dibelikan permen karet. Permen kesukaan mereka yang agak populer waktu itu. Itulah yang dilakukan anak-anak kecil selain memelas kening ayah atau merengek manja.

Toke kedai (pemilik kios atau toko) sibuk minta ampun menghitung recehan ringgit yang menampung di laci, kadang meraba saku baju mengembalikan sejumlah uang kepada pembeli. Di sepanjang jalur ramai kota itu terdapat toko-toko tingkat yang dikuasai oleh pemilik modal yang berasal dari totok Cina, Philipina, Thailand dan beberapa penduduk asli Malaysia. Mereka menguasai ekonomi pasar dengan caranya masing-masing.Tingkat persaingan yang begitu ketat membuat mereka harus memutar otak berkali-kali agar promo penjualan mereka mendapat tempat di hati pembeli. Banyak orang Flores dan Timor mengadu nasib di sana. Ada yang bekerja sebagai penjaga kedai, baby sister, montir, sopir pribadi majikan, ataupun bekerja di perkebunan kelapa sawit. Semua itu mereka lakukan demi mengubah hidup yang lebih baik.
*
Tawau merupakan salah satu kota kebanggaan negara Malaysia. Letaknya berseberangan dengan pulau Kalimantan. Jika dilihat nampak sebuah pulau saja. Salah satu tempat di Indonesia yang berdekatan dengan Tawau adalah Nunukan. Yang mana sebagian besar penghuninya berasal dari Flores dan sekitarnya. Banyak orang yang hendak merantau mengurus visa dan menjalani transaksi pertukaran mata uang di sana. Jarak antara Nunukan dan Tawau tak seberapa jauhnya. Kita hanya butuh paspor dan dalam waktu sejam atau dua jam kita bisa nikmati keindahan Tawau. Bahasa Malaysia dan Indonesia tak berbeda jauh. Hanya ada beberapa kata yang dianggap beda. Misalnya saja di Malaysia ada kata ”slipar dan tuala”, di Indonesia slipar sama dengan sandal dan tuala berarti handuk.
*
Namaku Randi. Aku di lahirkan di Malaysia tahun 1992 di sebuah rumah sakit kenamaan di kota Tawau. Saat tangisku pecah merobek dinding, ayah memelasku hangat dan berbisik di telingaku
“ Nak,sssssssttttt ini negeri orang. Diamlah.”
Saat itu aku masih bayi. Aku belum mengerti kata-kata Ayah. Hanya bunyi pa-pi dan ma-mi yang dapat kupungut dari bibir mereka dan kueja sekenanya. Tapi, aku tidak tahu apa artinya bunyi. Yang kutahu hanyalah sebuah benda asing mencoba merangkak masuk keliang telingaku. Kurang lebih enam tahun sejak aku dilahirkan, aku dan keluargaku mengais nasib di tanah rantau. Memang bahagia betul dilahirkan di negeri orang. Apalagi hidup di tengah pemukiman yang ditiduri hamparan sawah yang membentang dari ujung timur ke barat, membuat aku dan keluargaku betah di sana. Penduduk di sekitar persawahan banyak yang suka makan ular sawah. Kadang sepulang dari kebun ada yang membawa dua ekor ular sawah yang besar. Pada beberapa kesempatan aku diberikan pula semangkuk sop daging ular. Aku tidak tahu, kata ayahku itu daging ayam. Maklum aja ular sawah kan enak seperti daging ayam.
Waktu itu usiaku masih seumur rumput yang baru tumbuh. Dalam usia seperti itu masa bermainnya lebih banyak. Aku dan teman-teman sebayaku melompat-lompat di sawah, berkejaran seperti anak kucing berebut makanan hingga senja membuntuti kami. Terkadang kami bermain sampai larut malam. Di Malaysia kebanyakan orang-orang pendatang waktu itu membuat rumah panggung karena takut binatang buas, apalagi yang tinggal dekat hutan. Ya, memang pendatang kan’ tak mempunyai tanah, apalagi tanah di kota. Kami juga tinggal di salah satu pemukiman yang diberikan toke (pemilik modal) dan kami dirikan rumah panggung. Banyak tetangga berdampingan dengan kami mulai dari totok Cina, Singapura, Bugis, Flotim, Thailand dan beberapa dari Jawa. Mereka sudah lama menetap di sana. Bahkan beberapa diantara mereka sekarang menjadi pebisnis hebat.
*

Langit merah meruncing diufuk barat. Di kolong rumah, ibu lagi menanak nasi. Aku dan ayah menyeduh milo hangat diatas bilahan bambu sambil menatap senja yang perlahan memudar.
“Hidup itu keras nak, sebenarnya ayah tidak mau ke Malaysia. Dan mungkin juga ibumu tak akan melahirkanmu di sini”, kata ayah
“Lalu kenapa ayah ke sini?”, kataku mencari tahu.
“Keadaan yang memaksa ayah harus begini nak. Di kampung kita banyak orang memilih untuk merantau aja. Tak ada lapangan pekerjaan, bahkan orang yang melarat semakin melarat. Ditambah lagi Ile Ape, desa ayah itu sumber airnya terbatas. Bahkan untuk minum saja orang masih minum air sumur. Debit airnya berkurang sewaktu-waktu. Kadang juga airnya keruh dan terkontaminasi dengan belerang. Mereka yang duduk diatas kursi seolah tuli nak. Masa sih pemimpin turun di lapangan, kan nanti sepatunya kotor”, ucap ayah berusaha menjelaskan kepadaku.
“Ayah ingin merubah nasib nak. Ayah tinggalkan semua keluarga di kampung sampai-sampai kakekmu meninggalpun ayah tak sempat melihat raut mukanya”, tutur ayah melanjutkan penjelasannya.
Aku belum terlampau dewasa tapi aku mengerti kata-kata ayah. Betapa hidup itu memang keras. Pernah ayah bercerita kepadaku tentang ayah Eman dan Ayah Laus, saudara kandung ayah yang meninggal di negeri ini. Kata ayah, mereka bekerja keras demi menafkai keluarga. Tak hanya itu banyak cerita tentang orang-orang Flores dan Timor yang mendapat perlakuan senonoh dari majikannya. Ada yang disirami air panas disekujur tubuhnya, ada yang diseterika di raut mukanya bahkan ada yang disiksa dengan perlakuan yang amat keji. Beragam cerita menjadi momok menakutkan bagi sebagian orang di kampung ayah. Tapi toh ayah bersama beberapa rekan sekampung tetap memilih jalan ini. Bagi ayah jujur adalah kunci mendulang sukses di negeri orang. Beberapa kali ayah masuk kantor dan di atas meja ayah selalu tersimpan beberapa lembar uang dengan jumlah yang lumayan besar. Kata ayah inilah ujian pertama untuk pegawai baru. Ayah tak pernah menyentuh sedikitpun uang itu. Keesokan harinya Majikan masuk kantor dan berucap
“ maaf aku lupa beberapa lembar uang di meja anda.” Sejak saat itu ayah dipercayakan sebagai mandor dalam memfasilitasi proyek pengangkutan kayu balak di Tawau. Sebagai orang kepercayaan, ayah bekerja semaksimal mungkin. Karena demi kepercayaan kadang ayah pulang larut malam dengan teman sekampungnya. Namun semua itu tak jadi masalah yang penting ayah pulang dengan selamat.
*
Tiap hari minggu aku, ayah dan ibu pergi ke gereja. Letak gereja lumayan jauh. Jika mengendarai motor jarak tempuh sekitar 30 menit. Di Malaysia perayaan ekaristi hari minggu dirayakan tiga kali dalam tiga bahasa. Biasanya bahasa Inggris menjadi pembuka perayaan pagi itu, lalu dilanjutkan dengan bahasa Mandarin dan ditutup dengan bahasa Malaysia. Biasanya orang Flores dan Timor mengikuti perayaan ekaristi berbahasa Malaysia. Selain karena keterbatasan bahasa, alasan lain yakni jarak tempuh setiap orang berbeda. Ada juga imam dari Flores yang menjalani masa pastoral di negeri itu. Maka tak heran perayaan ekaristi ketiga biasa disebut perayaan ekaristi untuk paguyuban orang Timor dan Flores. Hal ini bukan berarti semata-mata orang Flores saja yang mengikuti perayaan ekaristi kala itu tetapi banyak juga penduduk asli setempat dan ada beberapa dari negara Indonesia khususnya Madura dan sekitarnya. Hari minggu merupakan hari yang mempersatukan atau gereja katolik biasa menyebutnya communio. Pada hari itulah orang Flores dan Timor menjalani cuti (libur kerja). Perayaan ekaristi pagi itu berlangsung meriah. Saat Romo Tedy menutup perayaan ekaristi dengan berkat penutup halaman gereja serentak ramai. Banjir massa membentang dari halaman gereja sampai ujung jalan. Wajah-wajah baru tampak sibuk memencet tombol HP. Ada yang terkejut. Kok, kapan datangnya? Lalu muncul pertanyaan menyusul tinggal dimana? Maklum tiap tahun jumlah orang-orang Flores dan Timor meningkat drastis di Malaysia. Mereka tidak peduli tentang berita di Televisi yang menampilkan penyiksaan sadis terhadap beberapa rekan sekampung mereka. Mereka juga tidak takut tentang berita hukuman gantung yang dialamatkan terhadap Wilfrida Soik. Yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana saya bisa hidup atau saya makan apa hari ini.

Baca Juga :  Ayu, Putri Adonara-Flotim Kini Menjadi Koordinator Guest Booker Di Berita Satu Tv
Tulisan ini berasal dari redaksi
Tetap terhubung dengan kami:

Comment