Teater ‘Pada Mulanya’ Guncang Panggung Pesta Emas Sesado Hokeng

Dibaca 684 kali Reporter : Yurgo purab verified

Panggung Pesta Emas Seminari San Dominggo Hokeng tampak riuh dengan aneka lampu dan ornamen-ornamen seni. Malam itu, bulan mati. Cahaya temaram lampu seakan menjadi penghantar awal adegan teater, “Pada Mulanya” yang dibawakan awak teater Suara.

“Pada Mulanya”, merupakan kisah proses inkulturasi agama Katolik dalam budaya Lamaholot. Inkulturasi ini berujung pada pembaptisan masyarakat adat menjadi umat Kristen.

Frater Domi Djaga, calon imam Keuskupan Larantuka, Founder Teater Suara adalah pengusung teater tersebut.

Penulis naskah amat lihai menyertakan tempuling akhir dari teater yakni, ekaristi.

Dengan durasi 45 menit, teater tersebut mampu menghipnotis warga Sesado. Derap kaki, gimik dan gestikulasi para aktor menghadirkan sensasi seni yang menghentak-hentak emosi penonton. Apalagi alunan musik sebagai obor yang menyuluh setiap adegan tersebut. 

Yosua Luon, koodinator Teater Suara amat peka melihat realitas seni dengan menampilkan piranti-piranti khas Lamaholot, seperti Korke bale, Tarian perang, Obor, Eken Matan Poto, serta kolaborasi sakramen Ekaristi, Pembaptisan dan Perayaan Ekaristi.

Baca Juga :  Setelah Jokowi Kenakan Sarung Adat Hoineno, Harganya Naik Menjadi Rp1.500.000

Yosua mengisahkan bahwa teater ini sebenarnya direkomendasikan untuk dipentaskan dalam kegiatan visitasi Bapak Uskup Larantuka 3 Minggu yang lalu. Namun durasinya cukup panjang maka dibatalkan.

“Meskipun dibatalkan, tetapi malam ini, kami telah menampilkan yang terbaik berkat koordinasi dari RD. Silu Wutun, RD. Inno Koten. Segala persiapan menyangkut latihan dasar, pembagian peran, dialog, dan latihan sudah dilaksanakan jauh-jauh hari,” kata Yosua.

Frento Bahy, siswa kelas X, yang juga aktor teater mengatakan bahwa latihan teater yang sudah dijalani bersama merupakan berkat dari kekompakan kerjasama, dan kesalingpengertian satu dengan yang lain.

Baca Juga :  Merantau

Sementara itu, Randy Tukan mengatakan bahwa teater ini sangat bagus karena ada kolaborasi antara agama dan budaya.

“Agama dan budaya menjadi satu kesatuan, sebab Ama Rera Wulan, Ina Tana Kan dan Tritunggal Mahakudus adalah satu,” tandasnya.

Romo Silu Wutun, Pr dalam sambutannya, ia mengatakan, kelompok teater ini merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang ada di Seminari Hokeng. Ia berharap kegiatan semacam ini terus dikembangkan dan tetap berjalan dengan baik.

“Untuk semester depan, kita akan mulai dengan pengembangan minat dan bakat,” terangnya.

Baca Juga :  Aktualisasi Proses Saling Berbagi dan Memberi

Untuk itu, katanya, setiap kelompok minat harus sungguh-sungguh.

Akhir kata, Yosua Lion berharap Teater Suara harus terus mengasah “tombaknya” sesuai dengan semboyan Teater Suara: Kami datang bukan untuk nama besar tapi untuk sebuah pesan.***

Tulisan ini berasal dari redaksi
Tetap terhubung dengan kami:

Comment