Informasi Terupdate Hari Ini

BI PERWAKILAN NTT MENGENDALIKAN HARGA CABAI RAWIT

0 85

Kupang (faktahukumntt.com) Bank Indonesia Perwakilan Nusa Tenggara Timur telah mengendalikan harga cabai rawit hingga minus 6%, sebagaimana di ketahui bersama bahwa harga cabai melonjak pada tahun-tahun sebelumnya.

Kepala Perwakilan BI NTT Naek Tigor Sinaga saat dijumpai di sela-sela sukuran masa akhir jabatan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, di Gedung Olah Raga (GOR) Oepoi Kupang, Jumat, 13 Juli 2018, kepada wartawan Sinaga mengatakan, Bank Indonesia sebagai fungsinya advesor kepada pemerintah Provinsi NTT yang dipandang oleh Bapak Gubernur menjadi satu nilai plus bagi BI yang berkontribusi bagi daerah.

Sinaga mengatakan, Sebagaimana kita ketahui bahwa di awal tahun, program unggulan  BI telah melakukan sinergitas antara seluruh OPD, dan juga melakukan kerja sama antara semua daerah. Pada awal tahun 2017 begitu harga cabai yang begitu meningkat namun dengan kesiapan dan sinergitas yang ada teryata pihaknya mampu melakukan operasi pasar yang dibantu satgas cabe rawit pada saat itu. dan itu merupakan satu kesuksesan, karena harga cabai yang tadi infalsinya 58% sejak bulan januari bisa turun menjadi -6%,   ini merupakan satu terobosan   Sebagaimana sinergitas terjadi antara BI sebagai fungsinya advesor kepada pemerintah Provinsi dan juga OPD yang ada, dan itu yang dipandang oleh Bapak Gubenur sebagai suatu nilai plus dari kontribusi BI ke daerah.

Kehadiran BI di tengah-tengah masyarakat NTT untuk meningkatkan pendapatan ekonomi, Selain itu BI juga mengembangkan Ekonomi Kreatif untuk mendatangkan pariwisata ke Nusa Tenggara Timur, sebagaimana diketahui bahwa BI telah membangun enam kampung tenun, dimana kampung tenun itu berupaya untuk bagaimana mensinergikan penenun-penenun pada lokasi-lokasi tertentu untuk bergabung, BI juga memikirkan aspek pemasaranya, dan BI sendiri mengikut-sertakan mereka ke beberapa pameran-pameran yang dilakukan oleh BI.

Kali ke tiga pada tanggal, 20/07/18 kita juga bawa mereka ke Jakarta Convention Center (JCC) untuk  bisa memamerkan karya-karyanya dan tentunya, omset pada saat itu lumayan dapat mencapai 250 juta penjualan mereka disana. Selain itu juga kita membangun kampung tenun sebagai destinasi wisata dan destinasi pendidikan karena apa? Destinasi wisata itu maksudnya bahwa banyak wisata-wisata tidak perlu datang ke rumah-rumah penduduk melihat hasil proses tenun tetapi cukup datang dikampung-kampung tenun yang kita bagun.

Salah satunya baru diresmikan di Waingapu pada rumah adat dengan konsep tenun rumah adat itu merupakan objek wisata juga selain dari pengembangan UMKM, pengembangan  perempuan dikembangkan sebagai destinasi wisata yang akan ada di perbatasan Belu dan kita bangun juga rumah tenun yang berintegrasi dengan vesion sebagai tempat pameran dan ini merupakan suatu upaya kita untuk mengengbangkan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru yang kedepan BI akan angkat tenun-tenun ini berskala internasional. “Kami yakin bahwa dengan kepemimpinan bapak Gubernur yang  baru terutama ibu gubenur nanti itu akan kita dorong lagi karena saya mendengar beliau sangat konsen terhadap pengembangan ini”, Kata Tigor. Papi

 

Comments
Loading...