ASF Serang Ternak Babi di Nagekeo, Kadis: Belum Ada Obat dan Vaksin

Dibaca 144 kali

Faktahukumntt.com, Nagekeo – Kematian babi secara mengenaskan terjadi dalam jumlah besar akibat serangan virus African Swine Fever (ASF) pada beberapa wilayah di kabupaten Nagekeo, propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas (Kadis) Peternakan kabuapaten Nagekeo, Ir. Klementina Dawo, didampingi drh. Fransiskus X.P.G. Bethana, Kabid Kesehatan Hewan Dinas Peternakan kabupaten Nagekeo ketika ditemui media ini di ruang kerjanya, pada selasa (06/01/2020), menerangkan bahwa terkait penyebaran virus ASF pihak dinas telah menerima laporan dan untuk wilayah kecamatan Aesesa telah ditetapkan sebagai Zona Hitam dengan status darurat ASF.

kepala Dinas (kadis) Peternakan kabupaten Nagekeo Ir. Klementina Dawo.

Sementara itu hingga kini belum ada obat yang telah ditemukan untuk menyembuhkan penyakit yang menyerang babi akibat serangan virus ASF atau vaksin untuk untuk menekan laju penyebaran virus tersebut.

“sampai sekarang belum ada obat atau vaksin yang sdah ditemukan untuk virus ASF ini. Upaya Dinas sendiri sejauh ini cuma menyampaikan sosialisasi terkait terkait virus ASF. Upaya pencegahan hanya dengan Biosekuriti. menjaga kandang tetap higienis dan memastikan nutrisi yang baik untuk ternak” Ujar Kelementina.

Baca Juga :  Bansos Tetap Jalan, Muhajir Pastikan Kajian Kehalalan Vaksin Telah Selesai

Lebih lanjut dijelaskan oleh drh. Fransiskus X.P.G. Bethana, yang menerangkan bahwa kondisi serangan virus ASF untuk sementara tidak bisa dikendalikan dengan vaksin maupun obat karena belum ditemukan jenis obat dan vaksinnya.

“kondisi tersebut mirip serangan virus Corona, yang dapat menyelamatkan diri kita adalah mematuhi protokol kesehatan demikian juga ASF yang bisa kita lakukan dengan penerapan Biosekuriti” ucapnya.

langkah – langkah dan upaya yang dapat dilakukan peternak babi adalah jika babinya belum terserang ASF adalah, menerapakan biosekuriti dengan menjaga kebersihan kandang dan melakukan isolasi kandangan dengan menggunakan waring, tujuannya adalah menjaga lalulintas lalat karena lalat adalah vektor penular ASF.

Baca Juga :  Partai UKM Dukung Pelaku Ekonomi Divaksin Covid-19 Pada Prioritas Kedua

selain itu, penangangan bangkai hewan juga merupakan hal yang penting untuk diperhatikan peternak babi. Babi yang telah mati dianjurkan untuk tidak dibuang pada sembarangan tempat melainkan dikuburkan atau dibakar agar tidak dihinggapi lalat.

“Aturan yang sebenarnya jika ASF sudah masuk suatu wilayah, semua ternak babi harus di steeping Out atau dimusnahkan seluruhnya. tapi langkah itu tidak mungkin karena kita mau bunuh semua babi masyarakat yang mereka lihat masih segar, ini tidak mungkin. secara epidemiologi penyakitnya semua ternak babi pasti akan musnah dan kita sudah prediksi akan terjadi kematian babi besar-besaran” Demikian terang Dokter hewan kabupaten Nagekeo.

Baca Juga :  Ditemukan Puluhan Ikan Membusuk di Pantai Lamaau, Lembata. Dugaan Warga Akibat Erupsi Gunung Ile Lewotolok

Pada kesempatan tersebut, Kadis Peternakan kabupaten Nagekeo mengharapkan kerja sama semua elemen teristimewa masyrakat agar secara tertib menerapkan Biosekuriti dan penanganan bangkai. jika kematian hewan telah terjadi dalam jumlah besar, pihaknya akan berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) agar mampu menetapkannya sebagai status siaga bencana. ***

 

Tulisan ini berasal dari redaksi

Comment