Informasi Terupdate Hari Ini

Sasando Medunia Pemiliknya Merana

0 87

FHI-NTT, Sasando tidak hanya menjadi kebanggaan Kabupaten Rote Ndao, namun kini telah menjadi aikon masyarakat Nusa Tenggara Timur hingga mendunia, tapi sangat di sayangkannya pemilik sasando merana akibat dari tidak adanya perhatian dari pemerintah Kabupaten Kupang dan Pemprov NTT.

Penemuan  musik tradisional sasando pada abad ke 17 oleh dua orang gembala ternak yaitu Balo Aman dan Lunggi Lain, musik yang terbuat dari daun lontar dengan berdawan tali gewang yang di tipiskan (ekenak) dengan berjumlah 12 tali. Untuk menghasilkan bunyi yang merdu, Balo aman dan Lunggi Lain menukar domba mereka dengan musik spanyol agar mendapatkan snarnya untuk dibuat pada musik sasando. Musik sasando di kembangkan oleh Pah Ndolu dengan jumlah snar sebanyak 24 pada jamannya, yang di lanjutkan anaknya Ogus Pah menjadi 34-56 snar, kini di lanjutkan oleh anaknya Yemias Ogus Pah, Pria berambut putih yang berkelahiran di Kabupaten Rote Ndao, Desa Laluk Oen, 22 Oktober 1939 yang di karunia 6 orang anak Laki-laki yang sangat mahir bermain sasando dan 3 orang wanita yang bertalenta penenun kain adat Rote.

Yermias menuturkan kepada awak media, keinginnya ingin mempertahankan musik tradsional ini karena musik tersebut karya leluhurnya yang kini menjada kebanggaan masyarkat NTT, Yermias juga menekan kepada anak-anaknya agar mereka tetap mempertahankan keasliannya walaupun pada bahagian tertentu mengalami perubahan akibat perkembangan jaman.

Sangat di sanyangkannya, musik yang kini menjadi aikon masayarakat NTT yang juga menjadi warisan bangsa Indonesia yang kini mendunia, tidak hanya mengharumkan nama bangsa namun juga mengangkat nama Nusa Tenggara Timur hingga terkenal di dunia. namun Yermias mengatakan bahwa perhatian pemerintah daerah baik Kabupaten Kupang sebagai pusat dari musik tersebut dan oleh Gubernur NTT sasando dijadikan aikon pada kantor gubernur, namun sama sekali tidak adanya perhatian oleh pemda terhadap Yermias Pah selaku pemilik musik sasando.

Tuturnya  kepada awak media, dengan merahasikan beberapa nama bahwa ada beberapa pejabat ekskutif dan legislatif memanfaatkan musik sasando untuk memperoleh uang dengan meminta tanda tangannya dengan beralasan akan mendapatkan bantuan, Yermias mengatakan bahwa beberapa kali ia mengajukan proposal kepada Gubernur Nusa Tenggara Timur namun hingga berita ini dituliskan tidak ada jawaban terhadap permohonannya bahkan ia juga berbicara langsung kepada Frans Leburaya sebagai Gubernur NTT saat melakukan kunjungan ke sanggarnya namun hingga kini nihil juga, hal  ini di aminkan oleh istri dan anak-anaknya.

Yermias mengatakan dirinya menukuni sasando sejak muda hinga kini, dan sang istri menekuni tenunan kain adat Rote hingga sekarang, hal ini di wariskan kepada ke sembilan anaknya. Untuk menghidupi sanggar dan kebutuhan keseharian mereka Yerrmias mengatakan bila mana ada kunjungan wisatawan atau juga pesanan dan hal ini tidak menentu. Harpannya bilama pemerintah daerah tidak menutup mata dan telinga agar dapat memperhatikan sanggar-sanggar yang berada di NTT agara budaya-budaya leluhur NTT yang kini telah punah karena  termakan masa agar dapat kembali di perhatikan. (Oscar)

Comments
Loading...