BRUCE LEE NTT For INDONESIA

Dibaca 1.5K kali

 

Faktahukumntt.com, Siapa sih Bruce Lee asal NTT. Pria kelahiran Dusun Kelang, Pulau Semau tanggal 18 Febuari 1957. Ia adalah anak ke 3 dari 7 bersaudara merupakan anak dari Ibu Elisabeth Lesitona (Sus Lis), seorang penyanyi Keroncong RRI Kupang tahun 1950-1966 dan Ayah Yermias Manafe (Papa Ma’u), seorang polisi Brimob yang bertugas di Jakarta. oleh kedua orang tuanya ia diberi nama Herison Lesitona Manafe (Herison) yang kemudian karena kepiawiannya memainkan dunia perfilman maka ia dikenal sebagai Bruce lee-nya Indonesia asal NTT.

“Mimpi seorang Pemuda Desa Tentang Hidup Damai di Kota Besar”

Herison Lesitona Manafe, mempunyai satu istri Bernama Henderina Gang Banoet dan 7 orang anak,  2 anak mantu  yaitu Deal R. Kelly, Msc (suami Yesi Elisabeth Lesitona) dan Hana (istri alm. Tomi Jeri Fredison Manafe). Reni Gladis Manafe berprofesi sebagai Bidan Rumah Sakit Kota Kupang, almh. Mega Adolvina Manafe, Fren Wonder Manafe yang Profesi sebagai Desain Interior, Mega Simphoni Manafe (Pegawai di Dispenda Provinsi NTT) dan Brando Di Caprio Manafe mahasiswa Politani jurusan Peternakan. Serta memiliki 4 cucu; Angelo Kelly, Kegen Kelly, Orion Kelly, Neten Manafe.

Herison kecil memulai Pendidikannya di Sekolah Rakyat (SR) tahun 1965-1968 di Oeba Kupang- NTT dan Pada tahun 1968 Herison se Keluarga Hijrah dari Pulau Semau ke Batavia yang kini dikenal dengan Jakarta mengikuti jejak sang ayah yang bertugas sebagai Menpol di Batavia.

Herison melanjutkan pendidikannya hingga SMA di Jakarta pada tahun 1977. Pria yang keseHerisonannya biasa disapa Herison oleh keluarganya mulai menekuni bela diri Karate pada tahun 1971-1999. Al-hasil, Herison pernah sukses meraih juara 1 karate kejuaraan Lemkari se Indonesia di Glora Pancasila Surabaya, juara 1 Komda DKI di Jakarta dan beberapa kejuaraan Nasional lainnya. Selain itu Heri pernah membintangi sejumlah film laga.

Beranjak Dewasa, Herison yang serius meniti karier sebagai seorang aktor memilih ikut latihan akting dunia perfilman di PT. Sinabung Raya Film. Ia langsung dibimbing oleh produser sekaligus sutradara Lie Soen Bok pada tahun 1976. Dalam dunia  akting dan Faither (dunia seni dan peran bela diri) ia mendapat bimbingan dari penulis skenario alm. R. Joko Lelono dan penilai akting aktor senior, alm. H. Hamid Arif .

Baca Juga :  PMI Kembali Kehilangan Relawan Terbaiknya dalam Operasi Tanggap Darurat Gempa Lombok

Masa muda Herison merupakan masa yang penuh perjuangan. Saat usianya masih belia (17 tahun), Herison mendapat peran antagonis untuk bermain film bersama Edi S. Jonathan dengan judul Film “Cakar Maut”, yang disutradari oleh Lie Soen Bok pada tahun 1977. Dalam film tersebut ia diminta untuk menggunakan nama skenarionya Heri.  Film Cakar Maut kemudian sukses di pasaran, meskipun Herison baru pertama kali terjun ke dunia akting namun aktingnya di setiap adegan sangat baik dilakukan. Ia tidak mengalami kesulitan dalam film Cakar Maut sebab ia merupakan orang tekun dan giat berlatih.

Herison kembali beraksi sebagai Peran Pembantu dalam film yang berjudul Jurus Maut. Film yang disutradarai oleh N. Riantiarno, Produser sekaligus Penulis, Lie Seen Bok dan di Produksi oleh PT. Soenabung Raya Film ini berdurasi 98 menit dan dirilis tahun 1978. Dalam film ini ia tetap memakai nama skenario Heri. Sukses dalam penampilannya membuat Herison makin dikenal dalam dunia perfilman Indonesia. Sehingga pada tahun berikutnya (1979).

Ia kembali tampil pada Film yang berjudul Si Pitung Beraksi Kembali  dimana Herison berperan sebagai Peran Pembantu dari Deki Zukarnaim. Ia tetap menggunakan nama Skenario Heri i Pitung Beraksi Kembali adalah sebuah film Indonesia dirilis tahun 1976 yang disutradarai oleh Djoko Lelono serta dibintangi oleh Dicky Zulkarnaen dan Chitra Dewi. Dalam Film berdurasi 93 menit ini Herison berperan sebagai teman seperguruan Si Pitung yang kemudian oleh Sang Guru, Herison dititipkan pada Si Pitung, selanjutnya bersama Si Pitung berperang melawan Penjajah.

Film selanjutnya yang membawa nama Herison Lesi Tona Manafe alias Herison menuju puncak karier di dunia perfilman adalah film yang berjudul Tantangan Alam Semesta, dimana Herison Lesitona  berperan sebagai pemeran utama yang ahli dalam bela diri karate. “Akibat meletusnya Gunung Galunggung, Rusli jadi sebatang kara. Ia lalu mengadu nasib ke Jakarta, tempat ia mengalami berbagai kepahitan. Ingin jadi kuli kasar saja harus lewat kelompok kuli yang sudah mapan. Penderitaan mulai surut berkat keterampilannya dalam ilmu bela diri, meski hal ini juga menimbulkan iri dua jagoan di tempat itu, Herman dan Robert. Rusli kemudian bisa menikmati hidup gemerlap, tapi ternyata tidak memuaskan jiwanya. Ia lalu pulang ke desanya dan membangun rumah yang hancur akibat lahar”

Dalam film inilah Herison menggunakan nama Rusli sebagai nama skenario namun justru ia lebih dikenal dengan sebutan Bruce Lee Indonesia asal NTT. Untuk perannya itu Rusli (Herison) melakukan berbagai persiapan khsusus seperti mendalami teknik-teknik beladiri; kecepatan dalam pukulan dan tendangan. Penampilan Rusli (Herison) dalam film ini membuat decak kagum berbagai pihak karena Rusli bener-bener memunculkan karakter Brucee Lee. Film ini kemudian dirilis pada tahun 1983, Sutradara  Lie Soen Bok, Penulis (Wisjnu Mouradhy & Lie Soen Bok). Patner Herison dalam Film ini yakni Indah Fajarwati, Sujud Rahmanto dan Mujiono.

Baca Juga :  Presiden Jokowi: Bersihkan Bursa Dari Praktek Jual Beli Saham yang Tidak Benar

Selanjutnya tahun 1986, Herison di Kontrak oleh PT. Inem Film sebagai raja antagonis berjudul Pengejaran di Bukit Hantu dengan nama skenario Tomi Purnama. Produser Shonny Effendy Sutradara dan Penulis, SA Karim. Herison tampil bersama Kamsul Chandrajaya, Tuty Wasiat, Leo Chandra, Robert Santoso, Eddy S Santoso.

Tahun 1985, Herison di Kontrak oleh PT. Budiana Film berteman dengan Barry Prima dalam pemberantasan Heroin yang mana nyali Herison benar-benar diuji dengan Judul Film Darah Perjaka disutradarai oleh Ackyl Anwari.

Tahun 1985, Herison di kontrak oleh PT. Budiana Film sebagai peran antagonis berpartner dengan Advent Bangun dengan judul film  Bukit Berdarah. yang disutradari oleh Ato Suharto. Produser Sudjana Budiana Penulis Cerita, Djoko Lelono. Pada tahun yang sama, Herison dikontrak lagi oleh PT. Sinaboeng Raya Film, sebagai peran utama pada film Pendekar Betawi (Joko Lalono) dan Jurus-Jurus Sakti (Wisnu) produsernya Lie Soen Bok.

Akhir dari Kisah Herison dalam dunia Perfilman Indonesia pada Tahun 1991. Ia di Kontrak oleh PT. Romeo Film, sebagai Pembunu bayaran Erik (Herison) berjuang mati-matian untuk mencuri Komodo dan dijual di Luar Negeri.  Film dengan durasi tayang 94 menit ini, berjudul Menerjang Prahara di Komodo.  disutradarai oleh Tommy Burnama dan Produser Robert Samara adalah Film terakhir yang dilakoni Herison Lesitona Maanafe. Dalam setiap penampilannya, Herison sebagai salah satu tokoh antagonis yang mahir dalam bela diri mengikuti jejak Bruce Lee.

Setelah selesai shuting Film Menerjang Prahara di Komodo Herison kembali ke NTT dan ditugaskan oleh Pengurus Besar (PB) Lemkari, Dr. Anton Lesiangi, SE untuk mendirikan Perguruan Lemkari (Lembaga Karate do) di 12 Kabupaten se NTT. Sejak itu Herison sudah tidak kembali ke Jakarta namun aktif sebagai Ketua Majelis Sabuk Hitam Karatedo Lemkari di bidang Tehnik untuk NTT hingga tahun 1999 dengan predikat karate IV. Artinya Herison mengetuai seluruh sabuk  putih sampai hitam di Provinsi NTT.

Baca Juga :  Jokowi Sontak Kaget Ditinggal Dua Menteri Saat Pandemi Covid-19

Bagi Herison melakoni dunia perfilman tentunya ada Suka dan dukanya. Hal yang membahagiakan antara lain bisa dikenal dan dikenang oleh Rakyat Indonesia, memiliki banyak uang, makanan terjamin dan fasilitas terjamin, dekat dengan wanita-wanita cantik dan tokoh-tokoh berpengaruh. sedangkan  dukanya, di benci banyak orang, dimarahin dan dibentak sutradara terkadang honor kontrak dikurangi berdasarkan adegan.

Ketika mulai memasuki usia senja, Herison beralih profesi sebagai ahli dekorasi Nikah dan duka yang diberi nama Betania yang dinakodai istri tercinta, Henderina Gang Banoet putri asli Timor-NTT. Walaupun Herison adalah seorang aktor terkenal yang selama beraksi di depan kamera selalu dikelilingi artis-artis cantik ibukota namun ia tidak tergiur untuk menikahi mereka. Justru Herison menjatuhkan Pilihannya kepada putri asli NTT. Ini adalah janji  Herison kepada sang Ibunda di usia 15 tahun.

Herison memiliki satu cita-cita terpendam yang diungkapkannya saat menemui redaksi faktahukumntt.com. Ia ingin membangun NTT sesuai dengan bakat dan pengalaman yang di torehnya,  khususnya di dunia perfilman. “saya bercita-cita mendidik dan mengajar putra-putri NTT menjadi aktor dan artis film. Ya tentunya film yang secara khusus menggali serta mempromosikan wisata budaya NTT hingga manca negara. Untuk hal ini, Ia berencana mendirikan studio akting perfilman. Herison berkeyakinan bahwa dengan adanya studio tersebut tentunya bakat dan kemampuan putra-putri NTT akan dibina dan dilatih untuk bisa bersaing dengan aktris dan aktor Ibu Kota Jakarta. Tentang rencana ini Herison sedang berkoordinasi dengan Putri Tercinta, Yesy Lesitona Kelly di London. (Yoseph/Papy).

 

Tulisan ini berasal dari redaksi
Tetap terhubung dengan kami:

Comment