TEKAN BAHAYA ROKOK PADA ANAK, FORUM ANAK HARUS JADI PELOPOR HIDUP SEHAT

Dibaca 173 kali

Faktahukumntt.com. – Bogor (29/11)

[dropcap]M[/dropcap]endapatkan derajat kesehatan tertinggi, merupakan salah satu hak anak yang harus dipenuhi agar anak mampu tumbuh dan berkembang dengan baik, termasuk melindungi anak dari asap rokok yang dapat mengancam kesehatannya. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, persentase perilaku merokok anak usia 10–18 tahun sebesar 9,1%, meningkat dari tahun 2013 sebesar 7,2%. Dibutuhkan pelibatan Forum Anak (FA) untuk menjadi “trendsetter” atau pelopor melalui aktivitas olahraga untuk mendorong teman – temanya hidup sehat.

“Saat ini kita harus fokus kepada para perokok pemula. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya jumlah perokok usia anak. Forum Anak, sebagai pelopor berperan untuk merangkul teman – teman sebayanya untuk menjauhi rokok. Semua berawal dari anak. Mulai dari pengembangan pendidikan, kesehatan, hingga infrastruktur harus melibatkan anak. Peran orang tua juga dibutuhkan dalam membimbing anak sedini mungkin untuk menjauhi rokok. Jangan abaikan anak dari bahaya rokok,” ujar Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Kesehatan dan Kesejahteraan Anak Kemen PPPA, Hendra Jamal’s pada kegiatan Workshop Peran Forum Anak sebagai 2P (Pelopor dan Pelapor) mengenai Bahaya Rokok dan Pentingnya Kesehatan Reproduksi di Bogor, Jawa Barat.

Berdasarkan Survei yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia dan Dinas kesehatan kota Bogor pada 2019, usia pertama kali anak di Kota bogor mulai merokok adalah 12,8 tahun atau setara kelas 6 Sekolah Dasar (SD). Oleh karenanya, Wali Kota Bogor, Bima Arya mendorong strategi agar anak – anak tidak merokok sejak usia dini melalui kegiatan olahraga.

Baca Juga :  Kelompok Milenial Sambut Baik Rencana Terbitnya Izin Liga 1 dari Kapolri

“Jika sejak usia anak sudah merokok, Indonesia akan selesai dan hancur. Maka, strategi kita ke depan adalah mendorong agar masyarakat Indonesia tidak merokok sejak usia anak, dengan begitu di usia selanjutnya mereka akan terhindar dari rokok. Sebagian besar anak – anak juga merokok karena terpengaruh oleh temannya. Nah, peran FA sangat penting sebagai 2P. Kalian tidak cukup hanya meminta orang lain untuk tidak merokok. Kalian juga harus menjadi “trendsetter” atau pelopor yang mengajak masyarakat di sekeliling kalian untuk hidup sehat. Hal tersebut juga telah saya lakukan, dengan cara menjadi “trendsetter” agar masyarakat di Kota Bogor ikut olahraga berlari bersama saya,” tutur Bima Arya.

Selain mendorong FA untuk menjadi “trendsetter” hidup sehat, Bima Arya mengatakan bahwa Pemerintah Kota Bogor telah melakukan beberapa upaya untuk menghindarkan anak dari bahaya rokok, di antaranya membuat Peraturan Daerah terkait Kawasan Tanpa Rokok (KTR), larangan pengorganisasian iklan produk rokok, dan yang paling terbaru adalah larangan penggunaan rokok elektronik atau “Vape”.

Baca Juga :  Sugeng Suparwoto Menegaskan NTT akan Jadi Sumber Energi Listrik Tenaga Matahari bagi Indonesia bahkan Dunia

Bima Arya melanjutkan bahwa sekadar pelarangan pun tidak cukup untuk menghindarkan anak dari rokok, kita harus membuat kegiatan
positif agar anak tidak sekalipun berpikir untuk merokok. Oleh karenanya, Pemerintah Kota Bogor telah membuat Gerakan “Smoke Free Generation”, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat “Bogor Berlari”, dan Pengembangan Sekolah Sehat Berkarakter.

“Melarang saja tidak cukup untuk membuat anak terhindar dari rokok, kita harus berusaha agar anak – anak tidak berpikir sama sekali untuk merokok. Oleh karenanya, kita harus menyelenggarakan aktivitas yang menghindarkan anak dari bahaya rokok. Kegiatan tersebut bersifat progresif dan demonstratif dengan melibatkan anak – anak untuk melawan rokok. Saya berharap FA bisa membangun relasi dengan komunitas pegiat olahraga dan mendorong pemerintah di daerahnya masing – masing untuk menekan bahaya rokok melalui kegiatan yang positif,” tutup Bima Arya. (Rilis)

Baca Juga :  Kepala Bappenas Minta Alumnus ITB Kawal Transformasi Digital Indonesia

 

Tulisan ini berasal dari redaksi

Comment