Informasi Terupdate Hari Ini

Lanjutkan Perjuangan “AYAHMU”

0 83

FaktahukumNTT.com, OPINI

Ketika pandemi Covid-19 mulai menyerang tanah air, para pendengki tidak saja asik menyerang sang ayah Presiden Jokowi, tapi anak-anaknya tak luput dari berbagai cacian, sindiran dan hinaan, bshkan yang terkait hanya untuk satu persoalan saja, yakni Covid-19.

Belum lagi persoalan lainnya. Seolah keluarga ini harus dipaksakan untuk selalu dalam posisi yang salah, buruk, dan tak sesuai hati nurani rakyat. Mereka menyerang ketiga anak dari sang Presiden dan menuduhnya tidak peduli pada Covid-19, padahal mereka tergolong pengusaha muda yang sukses dan tentu memiliki uang lebih untuk disumbangkan.

Namun kemudian masyarakat justru terkejut, karena nyatanya sebelum mereka ribut, nyinyir, menyindir dan memaki para putra Presiden yang dituduh tak peka, seorang Kaesang dan Gibran justru sudah jauh melakukan yang memang itu sudah biasa dilakukan sebelumnya, yakni berbagi kepada wong cilik yang berada di Solo dan kota-kota sekitarnya.

Bahkan untuk yang terakhir justru untuk Provinsi Jawa Tengah yang ia serahkan lewat Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Dalam beberapa tahap keduanya memberdayakan UKMN yang memproduksi APD atau alat pelindung diri yang kemudian dibagikan ke berbagai rumah sakit di Jawa Tengah. Tentu saja tidak hanya APD, namun juga masker, vitamin, bahkan hingga Sembako (sembilan bahan pokok) yang dibagikan kepada warga yang membutuhkan.

Sayangnya, ketika para pendengki tahu, bukannya mendukung dan berterima kasih, yang ada justru makin nyinyir dan banyak yang mengatakan bahwa itu hanya ‘Pencitraan’ dan itu lebih cenderung sebagai media kampanye untuk Gibran yang akan menuju Solo 1.

Padahal hal seperti ini adalah warisan sang ayah yang memang dermawan. Jadi ada pemilu atau tidak, keluarga ini sudah terbiasa berbagi, dan bukan hanya berbagi sebagian dari hartanya, tapi juga ilmu pengetahuan. Semisal dengan membuka kursus bahasa Inggris gratis bagi warga kurang mampu di bebarapa kota di Jawa Tengah.

Lalu bagaimana masa depan putra-putra presiden ini? Penulis jadi teringat apa yang dikatakan oleh Gibran kepada adiknya sang pemilik Sang Pisang, yang dirinya merasa agak terlambat untuk memulai terjun di dunia usaha, sehingga ia menasehati Kaesang agar sedini mungkin menggeluti usaha di usia belia, agar saat memasuki usia 35an sudah matang dan sukses, lalu bisa lebih banyak berbagi kepada orang yang membutuhkan.

Berbagi disini dalam arti bisa sesegera mungkin membuka lapangan kerja baru, yang itu artinya ikut menekan angka pengangguran. Lalu bisa berbagi dari sebagian keuntungannya untuk para kaum dhuafa, juga berbagi alat peralatan untuk lembaga yang memerlukan, dan lain sebagainya. Ini jelas pemikiran yang sangat mirip sang ayah. Sehingga bertolak dari pemikiran seperti itu pula, maka ada baiknya bila keduanya pun bisa segera terjun di dunia politik di usia muda juga, agar lebih bisa membantu masyarakat secara masiv.

Tak perlu dihiraukan nyinyiran siapa pun yang mengatakan bila untuk terjun di dunia politik, utamanya bila akan maju untuk memimpin suatu daerah itu harus yang berusia matang, memiliki pengalaman politik yang panjang, dan seterusnya. Nyatanya politisi yang bangkotan pun tak memberikan jaminan untuk sukses. Banyak praktisi atau profesional yang justru jauh lebih sukses ketika ia terjun menjadi politisi, dan sangat terlihat ketika menjadi pejabat publik di tingkat mana pun.

“Jadi mengapa tidak bila kalian berdua plus Bobby segera turun gelanggang, ketimbang kursinya diduduki oleh yang itu-itu saja dan datar tanpa ada kemajuan yang berarti. Lalu bagaimana dengan munculnya kesan sebagai politik dinasti? Abaikan saja. Mereka belum paham yang dimaksud politik dinasti. Ingat bahwa estafet kepemimpinan yang solid itu harus dipersiapkan sedini mungkin.”

Yang muda, yang berkarya..

Salam NKRI Gemilang 🇲🇨🇲🇨

Comments
Loading...