Informasi Terupdate Hari Ini

Menceritakan Kelahiran Melalui Tenun Ikat NTT

Membaca tubuh dalam perspektif sosio-religius dalam puisi Benang-Benang Ibu

0 200

Oleh : Arnoldus Yurgo, S.Fil (Wartawan FH-NTT Biro Lembata)

FaktahukumNTT.com, OPINI LEMBATA
Pendahuluan
Sastra merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar śās- yang berarti “instruksi” atau “ajaran”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu (https://id.wikipedia.org/wiki/Sastra). Yang tergolong dalam karya sastra adalah novel, cerpen, pantun, puisi, drama, lukisan/ kaligrafi dan sebagainya. Pada perkembangannya sastra sangat popular dan banyak digemari oleh pelbagai pihak.
Sastra dan kebudayaan merupakan dua entitas yang bersentuhan dengan eksistensi manusia. Oleh karena itu dalam masyarakat NTT, sastra dan kebudayaan merupakan kekayaan intelektual dan tradisi yang dimiliki oleh NTT. Kekayaan ini sejatinya merupakan warisan leluhur. Atar Semi dalam bukunya Kritik Sastra mengatakan bahwa sastra merupakan bagian dari kebudayaan atau pernyataan ekspresi kebudayaan. Kita angkat saja, Rendra dalam tulisannya “Mempertimbangkan Tradisi“ (kumpulan tulisan non-fiksi yang terbit tahun 1983) merupakan sebuah tulisan yang mengangkat tema seni dan budaya. Rendra bisa dikatakan sastrawan yang sangat mencintai tradisi. Demikian pula, Pater John Dami Mukese dalam kumpulan puisi-puisi jelatanya, mengguratkan satu puisi yang sangat terkenal yakni, “Kuliah Moral” yang sangat berakar pada adat dan budaya. Semuanya itu mau menegaskan betapa pentingnya budaya dalam bersastra. Karena itu, sastra mendapat aksentuasi yang perlu diwariskan oleh generasi NTT mendatang. Erich Langobelen, salah satu penyair muda NTT juga dalam tulisan-tulisannya menyentil seputar budaya. Karena itu penulis bermaksud menganalis salah satu puisi yang ditulis Erich dengan judul “Benang-Benang Ibu.”
Profil
Erich Langobelen lahir di Lewoleba, Lembata. Menempuh pendidikan menengah pertama di SMP St. Pius X Lewoleba dan kemudian pada tahun 2012 menamatkan SMA di Seminari San Dominggo Hokeng. Kini tercatat sebagai Mahasiswa STFK Ledalero, dan tinggal di Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret. Saat ini bergiat dalam komunitas Sastra Teater Tanya Ritapiret. Buku yang pernah diterbitkan yaitu, Luna (Penerbit Tollelegi,2015) Kini sedang mempersiapkan buku keduanya dengan judul, Tanduk Hitam Kemarau. Karya-karyanya pernah dimuat di Koran HU Flores Pos, SKH Pos Kupang, Jurnal Sastra Santarang, Antologi Puisi Sastrawan NTT, Media Indonesia, Kompas. Sebagai 1 dari 12 penulis Indonesia yang diundang oleh Majelis Sastera Asia Tenggara (MASTERA) untuk menghadiri program penulisan drama bersama para penulis dari negara-negara anggota MASTERA (Bogor, 2015).
Kematian Penulis (Ekskursi)
Penciptaan karya sastra merupakan salah satu proses kreatif. Dikatakan kreatif karena selalu melibatkan pengalaman manusia dan budaya sebagai bagian dari transformasi imajinasi yang kreatif. Lebih lanjut penciptaan karya sastra berupa cerpen, puisi, dan novel setidaknya mengandung tiga aspek utama, yakni decore (memberikan sesuatu kepada pembaca), delectare (memberikan kenikmatan melalui unsur estetika), dan movere (mampu menggerakan kreativitas pembaca).
Roland Gérard Barthes, seorang ahli semiotik dari Prancis berbicara mengenai ekskursi (kematian penulis). Yang dimaksudkan Barthes, yakni setelah sebuah karya yang dihasilkan penulis, penulis karya itu dianggap mati. Dan setiap pembaca boleh memaknai ataupun menafsir sesuai dengan substansi karya tersebut. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum, dalam bukunya Teori Kritik Sastra mengatakan bahwa;
“Teks-teks sastra hampir sebagian besar bersifat simbolik. Teks tidak menyajikan makna melainkan fenomena. Oleh karena itu, kemampuan peneliti masuk ke dalam fenomena, membaca teks hati-hati, terus-menerus, mereproduksi makna, reduksi pesan, dan akhirnya akan menemukan makna yang diharapkan. Makna harapan itu belum tentu hal yang hakiki. Oleh karena, makna itu sendiri tidak pernah kekal…. Makna itu ada setelah ditafsirkan.” (Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum.2013: 77)
Jika membaca teks puisi Erich, saya harus mengetahui terlebih dahulu apa fenomena yang ditangkap Erich dalam penjelajahan puisinya. Maka, saya harus membaca secara hati-hati, membaca secara terus menerus, dan akhirnya saya dapat menemukan makna yang diharapkan. Dan mungkin juga makna lain yang tidak disadari oleh Erich dalam tubuh puisi yang dibangunnya. Karena itu makna tidak pernah kekal, ia ada setelah ditafsirkan. Setiap pembaca membaca dari sudut pandang yang berbeda. Bisa saja ada makna lain yang terselubung, namun tidak disadari oleh penulis. Maka Roland Barthes, benar. Penulis karya sastra, setelah menulis ia dianggap mati. Dan setiap pembaca dapat menarik benang merah dari hasil pembacaannya.
Analisis Puisi
I
Dalam puisinya, Erich menulis;

Ibuku seorang penjahit
Sering-sering kami dijahitnya
Kebetulan akulah jahitan terakhir
Setelah empat jahitan terdahulu
Ketika membaca puisi ini, pertama yang harus kita lakukan adalah melihat latar belakang budaya si penyair. Erich berasal dari Lembata, sebuah daerah yang cukup banyak memiliki tenun ikat khas Nusatenggara. Karena itu fenomen yang ditangkap oleh Erich merujuk pada budaya tenun-menenun yang terjadi di Lembata-NTT. Hal ini terlihat dari bait pertama, baris pertama “Ibuku seorang penjahit.” Bukan sebuah kebetulan bahwa Erich memiliki ibu seorang penenun. Pada baris kedua, terdapat refleksi mengenai tubuh. “Sering-sering kami dijahitnya.” Erich merefleksikan tubuh dalam proses pembentukan dalam kisah kelahiran. Term “sering-sering” sebetulnya merujuk pada pembentukan tubuh. Di lain sisi, Erich mengubah subjek aku menjadi kami. Kami di sini mendapat arti aku dan yang lain ikut juga terbentuk dari jahitan ibu. Pada baris ketiga dan keempat “Kebetulan akulah jahitan terakhir/ setelah empat jahitan terakhir.” Pada baris ini tampak jelas Erich menguraikan bahwa tokoh aku adalah jahitan terakhir dari ibu setelah empat jahitan. Erich sudah membuka luang kepada pembaca bahwa ia adalah anak kelima setelah empat orang kakaknya. Maka dapat kita ketemukan bahwa Erich membangun kisah kelahiran dari tilik budaya lokal tenun ikat. Sangat kedaerahan. Demikian pula dalam Epilog, sebuah catatan atas buku Luna karya Erich, Afrizal Malna juga melihat puisi benang –benang ibu dari rajutan biologis dan spiritual yang membuka peluang pembaca kepada tenunan khas Nusatenggara.
II
Benang-benang ibu tak bisa dibilang banyak
Sebab yang tersisa hitam dan
Putih yang lama tak dipakainya

Pada bait kedua, Erich menampilkan sebuah persoalan. Persoalan mengenai benang. Benang barangkali sebuah symbol tubuh yang dirajut dari sekian banyak benang. Dalam kuliah filsafat manusia, Dr. Leo Kleden pernah berbicara mengenai metafor sungai. Yang mana sungai-sungai besar terbentuk dari ribuan bahkan jutaan mata air kecil. Begitu juga identitas manusia terbentuk melalui pengaruh dan warisan yang sangat luas yang kita terima dari banyak orang sampai membentuk jati diri. Senada dengan pandangan di atas, Erich sebetulnya menggambarkan tubuh manusia dalam metafor benang. Mungkin saja Erich mau mengungkapkan bahwa identitas diri yang dibangun belum sempurna atau utuh (Benang-benang ibu tak dibilang banyak). Hal ini dapat dilihat dari term “sebab”. Term “sebab” merujuk pada sebuah masalah yang belum selesai. Ketidaktuntasan itu nampak dalam persoalan benang hitam yang masih tersisah dan benang putih yang belum dipakainya. Ketidakselesaian ini mau mengatakan bahwa identitas diri seutuhnya masih menggeliat. Diksi atau pilihan kata “geliat”, dalam bahasa Viktus Murin, berarti masih mencari bentuk, masih mengalami fase jatuh bangun (up and down).
III
Sejak kecil ibu menjahit semua kami dengan
Dengan benang-benang hitam
Terutama di kepala
Cukup sakit
Tapi begitu berarti

Pada bait ketiga, Erich kembali menyuguhkan kisah kelahiran dalam jahitan ibu. Tapi kali ini agak berbeda. Erich menempatkan “Sejak kecil” sebagai panggung awal penceritaan. Tokoh aku sudah ada tapi masih kecil. Erich sengaja menggunakan kata “semua kami”, merujuk pada segelintir orang. Mungkin saja yang dimaksud Erich adalah keempat kakaknya. Namun bisa jadi pembaca turut serta diajaknya bekelana dalam puisinya. Penyair dalam penggembaraannya ia sadar, bahwa ia belum terbentuk secara sempurna maka ia perlu ditempa, dijahit kembali agar siap menjadi pribadi yang menawan di lingkungannya. Tempaan serta didikan ibu kadang dirasa menyakitkan namun sangat berarti. Oleh karena itu dalam baris terakhir Erich menulis “Tapi begitu berarti.”
IV
“Ibu! Kenapa kau jahit kepalaku dengan benang hitam”
“Nak! Pada waktunya ia memutih. Lalu merpati datang dan hinggap.”

Sebuah pertanyaan yang singkat namun tajam. Inilah yang coba ditempatkan Erich dalam puisinya. Di dalamnya terkandung kepolosan seorang anak yang bertanya pada ibunya. Sebenarnya Erich menyembunyikan kekuatan atau daya magic puisinya pada pertanyaan semacam ini. Mengapa hitam dan bukan putih. Tampak jelas Erich menyembunyikan pesan dalam satu kalimat bahwa pada waktunya ia memutih. Pesannya sangat dalam. Manusia kadang menginginkan sesuatu agar lebih cepat dan kadang mengabaikan proses. Sebenarnya mengikuti proses adalah sebuah pergumulan untuk “menjadi.” Erich juga menyampaikan pesan bahwa belum saatnya rambut kita menjadi uban. Namun dalam kisah selanjutnya, Erich menawarkan kisah religius.” Lalu merpati datang dan hinggap”. Merpati dalam kitab suci adalah lambang Roh Kudus. Erich mau menggambarkan kedewasaan pribadi seorang manusia adalah tanda kehadiran Roh Kudus yang selalu menyertainya dalam usia-usia hidupnya. Hingga pada akhirnya ia mengerti rambut itu dapat beruban sendiri.
V
Suatu ketika aku dewasa Rambutku benar-benar hitam dan Tebal sampai bergulung
Ibu lalu menarikku dengan paksa dan
Menjahitku lagi
Tapi kali ini dengan benang-benang putih
Yang lama disimpannya dalam hati

Pada bait kelima, Erich membuka kembali kisah kelahiran dengan tokoh aku yang sudah dewasa. Kedewasaan itu menyadarkan aku bahwa rambutku kian hitam dan tebal. Sebuah kesadaran baru bahwa aku sudah berada pada usia yang semakin tua. Namun, dalam usia seperti itu, ibu masih menarik aku dan menjahitku lagi. Pertanyaannya, mengapa ibu tetap menjahitku walau dalam usia yang semakin menua? Atau lebih sederhananya mengapa aku perlu mendapat petuah dan didikan ibu dalam usia yang sedemikian? Lebih lanjut yang mau dipaparkan di sini adalah benang-benang putih yang sudah lama disimpan ibu dalam hati. Tampak di sini Erich mencoba memasukkan benang lebih kepada kekhususannya. Maka, metafor tubuh dalam benang (benang putih) diubah secara radikal dalam bentuk penutup tubuh. Sebuah pembalikan yang cukup tajam. Yang dimaksudkan di sini adalah jubah. Erich sebetulnya mengisahkan kisah kelahirannya hingga mencapai usia yang dibilang semakin dewasa. Hingga, pada titik ini, kita dapat mengerti latar belakang Erich saat ini. Sebagai seminaris, yang juga memilih mengenakan jubah adalah tindak refleksinya yang mendalam. Ia berusaha memasukkan benang putih pada puncak pergulatannya mengenakan jubah sampai leher yang dijahit ibu. Tubuh diubah dalam bentuk jubah. Namun, Erich masih tetap mempertahankan benang dalam gaya penceritaanya sehingga terkesan benang masih berdiri dalam tubuh yang sesungguhnya. Hal ini dapat kita temukan dalam bait keenam dalam puisi Erich,

Dijahitnya seluruh tubuhku sampai leher
Sampai bersinar
Sungguh yang ini begitu sakit
Semua kulit telah digigit benang.
VI
Percakapan selalu mendapat tempat yang menarik dalam batang puisi tubuh yang ditulis Erich. Justru sebuah puisi akan menjadi menarik jika maknanya terselubung dalam percakapan. Percakapan pada bait ketujuh adalah percakapan dalam nada religius.

“Ibu! Kenapa kau siksa aku?”
“Nak! Tidak tahukah kamu? Kamu akan melayani bapa-Mu?”
“Tidak baik membersikan pialaNya dengan benang hitam
Kusam!”
Erich menyajikan percakapan dalam sebuah pertanyaan. Pertanyaan beranjak dari sebuah persoalan. Dapat kita ketemukan Erich membangun persoalan dari pertanyaan atas penyiksaan yang dialaminya. Penyiksaan yang dialami Erich sebetulnya langkah awal dari sebuah pergolakan dalam dirinya. Dan pergolakan itu mendapat jawabannya yakni sebuah pelayanan, yang sebetulnya Erich tahu itu. Ia sadar bahwa pilihan untuk melayani itu sulit. Maka kita dapat menarik kesimpulan sederhana bahwa sesungguhnya Erich mau menyampaikan bahwa melayani Tuhan harus membutuhkan benang putih. Benang putih yang berarti lambang jubah dielaborasi sedemikian sehingga mendapat makna baru yakni kemurnian diri, kepolosan dan sikap memberi diri menjadi abdi dan pelayan Tuhan yang setia.
VII
Seperti Maria, Ibu Yesus yang selalu menyimpan perkara dalam hati. Di dalam diri manusia terdapat dua tipe yakni yakni masculinum dan femininum (laki-laki dan perempuan). Dan Erich juga menampilkan lebih jauh sikap keibuan dalam diri sang aku. Lebih lanjut pesan terakhir seorang Ibu adalah sebuah sebuah gugatan serentak ajakan untuk tetap berada pada posisi hidup yang suci dan selalu bersandar pada Allah. Hal ini nampak dalam syair-syair dibawah ini;

Aku pun hanya menyimpannya dalam hati
Lalu pesan ibu lagi

“Jangan sampai putih ini menghitam, meski hitam harus diputihkan!”

Penutup
Mencari kandungan pesan yang tersirat dalam sebuah puisi amatlah sulit. Namun, bukan berarti kita tidak mampu menangkap setiap alur cerita dan daya imajinatif penulis. Melainkan kita membutuhkan kepekaan dalam menangkap setiap bunyi, kata, rasa bahasa serta daya imajinatif penulis dalam berkarya. Karena itu saya patut mengapresiasi tulisan ini. Bagi saya setiap ide adalah setitik oase yang menyegarkan mata, batin dan jiwa seseorang. Profisiat Erich, lanjutkan.

Comments
Loading...