Informasi Terupdate Hari Ini

QUO VADIS PEMIMPIN..?

(Memangku Jabatan Atau Menduduki Jabatan)

0 207

Oleh : Yurgo Purab (Wartawan FH-NTT Biro Lembata)

FaktahukumNTT.com, OPINI
Pemimpin adalah orang yang bergerak lebih awal, orang yang menggerakan orang lain dan mengarahkan pikiran, pendapat dan tindakan orang lain. Inti dari kepemimpinan tidak terletak pada kedudukan yang ditempatinya tetapi lebih pada tugas dan fungsinya. Pemimpin ada demi orang atau sesuatu yang lain, bukan demi dirinya sendiri. Pengertian yang tereksplisit di atas setidaknya memberikan gambaran seorang pemimpin yang ideal. Pemimpin ideal adalah dia yang tidak berdiri di depan dan juga di belakang maupun kanan dan kiri masyarakat, tetapi dia berdiri di tengah, menjadi poros utama yang menggerakan massa.

Dalam bahasa metaforis, pemimpin ibarat poros sepeda motor yang menggerakan terali dan roda agar berputar dengan lancar. Itu membutuhkan kerja sama elemen-elemen di dalamnya agar roda pemerintahan dapat berjalan seimbang. Keseimbangan itu terlaksana jika orang-orang yang dipercayakan dapat mengabdi dengan tulus sambil memerhatikan integritas dan akuntabilitas dalam bekerja.

Mendiang Mantan gubernur NTT, Piet Alexander Tallo pernah mengungkapkan filosofi mengenai jabatan.“Seorang pemimpin semestinya memangku jabatan, bukan menduduki jabatan,” ujarnya. Term memangku dan menduduki jabatan merupakan dua term yang ambivalen. Mengapa? Jika ditelusuri secara lebih mendalam perihal perkatakan mantan gubernur NTT tersebut, maka setidaknya, ada konsep yang lahir dari pemikiran salah satu tokoh NTT ini. Konsep memangku jabatan mengafirmasi pengertian bahwa pemimpin dalam nada positif sedangkan konsep menduduki jabatan menegasi pemimpin dalam artian negatif.

Memangku jabatan seperti yang dibicarakan di atas menggarisbawahi beberapa pengertian. Memangku jabatan merupakan suatu nada persuasif. Nada ajakan bahu membahu. Nada yang mengajak rakyat dan pemerintah untuk bekerja sama mendandani wajah bangsa dan negara.  Term memangku harus benar-benar disadari oleh seorang pemimpin bahwa tugas memangku adalah sebuah kepercayaan dari rakyat. Kepercayaan yang di dalamnya terkandung sebuah harapan akan perubahan. Perubahan itu diletakan oleh rakyat kepangkuan pemimpin.

Animo rakyat demikian tidak mengurangi kerja sama kedua bela pihak. Jika kerja sama itu terjalin secara apik, maka demokrasi dinilai berhasil dan menjawabi kebutuhan rakyat.

Menduduki jabatan memiliki dua makna. Pertama menduduki jabatan jika dipandang secara positif berarti menempati tempat rakyat. Tempat rakyat adalah kursi seorang pemimpin. Kursi itu adalah harapan yang diletakkan sepenuhnya oleh rakyat. Pemimpin harus bertanggung jawab atas kursi yang didudukinya.

Jika diselisik lebih jauh, menduduki jabatan dapat pula bergema negatif. Gema negatif muncul ketika seorang pemimpin lupa akan tempat duduknya. Ia lupa akan jabatan yang diembannya, lupa kursi rakyat di bawahnya, dan memandang jabatan sebagai bantal empuk yang dijadikan alas untuk menindas dan menguras rakyat.
Menduduki jabatan boleh-boleh saja sejauh seorang pemimpin tidak lupa untuk bangun bekerja. Dapat pula, kursi jabatan melalaikan dan menidurkan seseorang ketika ia sudah kenyang, sedangkan ia lupa siapa yang memberi kekenyangan itu.

Saat ini pengakuan publik tentang figur pemimpin ideal tidak lagi pada apa yang ia janjikan tetapi apa yang ia buat. Publik tidak memandang latar belakang seorang pemimpin tetapi apa motivasi di balik kepemimpinannya.

Bung Kanis Pari, dalam salah satu pidatonya, pernah berujar demikian “Risiko pemimpin tenar; tenggelam dalam puji, dan lupa diri, runtuh berderai. Risiko pemimpin besar; mabuk popularitas, goyang keseimbangan, berantakan. Nasib pemimpin bijak; sahabat yang paling setia adalah hati nurani sendiri. Berhasil, semua kebagian sorak. Gagal, semua buru-buru cuci tangan !

Comments
Loading...