Penulis : Yurgo Purab

Pelbagai suku yang datang dan menetap di bumi Lamaholot, patut dilihat sebagai hal yang menakjubkan bagi perkembangan dan pertumbuhan khazanah budaya. Dari suku-suku inilah, sejak berabad-abad yang lampau, mulai tumbuh dan berkembang pelbagai suku baru, dialektika bahasa baru, identitas nama dan diri baru yang mengedepankan kekerabatan, persaudaraan dan kekeluargaan-hasil kolaborasi dan integrasi yang berkarakter lamaholot.

Karakter dan corak perkembangan yang demikian, mendapat penegasan dari sebuah ungkapan klasik orang-orang Lewotolok-Amakaka-Ile Ape, ‘tite semua tana tawa ekan gere, tawa bitol wato mean. Luo lado lolon lour weli nong ekan gere, gere sieng tana wadan. Tite semua, puhun tika kiwan, wuhan bage watan’.

Ungkapan ini membahasakan bahwa walaupun semua penduduk terbagi dan berkembang menjadi banyak dari gunung ke laut/pantai, namun rasa satu seasal-seia sekata-senasib sesaudara, tetaplah menjadi warna dan perekat khas kehidupan.

Di Adonara, ungkapan kesatuan antara penduduknya telah melahirkan slogan, Tanah Tadon Adonara, Tana Nara Nuha Nebon. Untuk merekatkan rasa kebersatuan dari keragaman yang ada, muncul pula ungkapan yang bernuansa mengayomi, Lewotanah Kelibene Bel’eng Kelek’eng Belah’ang. Kelibene Bel’eng sehingga mampu bote hada hong helek naaro golek, yang berarti: menggendong, memangku dan membopong. Kelek’eng Belah’ang sehingga ba’ang dongot hada gawak na’aro gawaka, yang berarti: merangku, memanggul di bahu.Ungkapan ini bermakna bahwa pulau Adonara, merupakan pulau yang mau mengayomi segenap turunannya sampai pada generasi manapun (cfr. Romanus Tubo Ola, Pembunuhan Dalam Perang Tanding di Adonara Dalam Terang Kisah Kain dan Habel Dalam Kejadian 4:1-16 serta Relevansinya Bagi Karya Pastoral Gereja”. Skripsi.STFK Ledalero; 2022).