Hilang Uang Yang Dititipkan Di Toko, Siapa yang Harus Bertanggungjawab?

Dibaca 729 kali

(Kajian Hukum Oleh Marianus Gaharpung Dosen Fakultas Hukum Universitas Surabaya)

FaktahukumNTT.com, KAJIAN HUKUM

Kronologi.
Sebuah tas milik Theresia Pio, korban pencurian uang yang merupakan Dana Desa Wolodhesa, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, Propinsi NTT, sebesar 161 juta rupiah pada Jumad (7/8/2020) sekitar pukul 15.45 WITA di Toko Rejeki Maumere, Jalan Raja Centis, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Alok Timur, ditemukan di Jalan Brai, Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka pada Selasa (11/8/2020).

Kajian Hukum.
Pertanyaannya apakah penerima titipan (toko)tersebut harus bertanggungjawab? Saya membaca berita ini cukup heboh bahwa uang BLT dari salah satu desa di Sikka yang mana oleh pegawainya setelah ambil uang dari bank dititipkan di toko karena mau berbelanja ternyata hilang.

Baca Juga :  Dandim 1624/Flotim Perketat Pengamanan Hari Raya Paskah Di Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata!

Pasti banyak pertanyaan yang beredar di Sikka , misalnya sudah tahu dalam tas ada uang sebanyak itu mengapa harus dititipkan, berarti kurang ada aspek kehati-hatian dari orang yang menitipkan tas tersebut. Ada juga pertanyaan, mengapa pegawai dari desa saat menitipkan tas yang berisi uang tidak menjelaskan bahwa ada uang ratusan juta tolong dijaga. Dan, saya sangat yakin penerima titip (pegawai toko/pemilik toko) jelas akan menolak menerima titipan tas karena tidak mau ambil risiko dan jika tetap menerima titipan tas dan ternyata hilang sudah pasti penerima titipan ( pemilik toko) yg wajib bertanggungjawab.

Kajian hukum tentang penitipan barang diatur dalam Pasal 1694- 1793 KUH. Perdata. Pasal 1706 KUH. Perdata, penerima titipan wajib memelihara barang titipan itu dengan sebaik-baiknya seperti memelihara barang -barang kepunyaannya sendiri.

Baca Juga :  "LESBI DAN HOMO" Upaya Memahami Eksistensi Dan Jatidiri Mereka

Pasal 1707 KUH. Perdata jika penerima titipan itu mula- mula menawarkan diri untuk menyimpan barang tersebut . Jika penerima titipan meminta dijanjikan suatu upah untuk penitipan itu. Jika dijanjikan dengan tegas bahwa penerima titipan bertanggungjawab atas semua kelalaian dalam menyimpan barang titipan itu.

Dari dua pasal tersebut diatas, ada aspek legal reasoningnya bahwa penerima titipan membuka jasa penitipan, sehingga wajib hukumnya penerima titipan harus menjaga barang titipan seperti memelihara barang kepunyaannya sendiri. Pertanyaannya, apakah toko tersebut membuka jasa penitipan barang jika tidak, maka penerima titipan tidak wajib bertanggungjawab. Tas berisi uang tersebut yang tahu adalah yang punya tas sedangkan pegawai toko tidak tahu harusnya karena toko tersebut adalah bukan jasa penitipan, maka pegawai yang punya tas berisi uang wajib menjelaskan bahwa ada uang ratusan juta dalam tas sehingga pegawai toko akan ekstra hati hati menjaga tas tersebut atau barangkali pegawai toko akan menolak menerima tas tersebut karena tidak mau ambil risiko. Aspek legal reasoning lainnya dari pasal tersebut di atas adalah pegawai tokolah yang menawarkan menerima titipan barang dan mendapat upah dari penitipan tersebut

Baca Juga :  Apartment vacancies rise for first time in 6 years

Kesimpulan.
Pegawai toko tidak menawarkan penitipan barang, dan tidak menerima upah, maka risiko apapun termasuk barang barang yang ada dalam tas (uang) ternyata hilang tidak otomatis dibebankan tanggungjawab hukum baik pidana maupun perdata(ganti rugi) kepada pegawai toko/pemilik toko. (*/Red)

 

Tulisan ini berasal dari redaksi
Tetap terhubung dengan kami:

Comment