Meneropong Makna Bumi adalah Rumah Kita Bersama

Dibaca 529 kali

Yohanes Rao, S,Pd, (Guru PNS SDK. Nian TTU Pemerhati Alam dan Lingkungan serta Penulis Buku)

Oleh : Yohanes Rao, S,Pd, (Guru PNS SDK. Nian TTU Pemerhati Alam dan Lingkungan serta Penulis Buku)

OPINI, faktahukumntt.com – 7 November 2021

Bagi para penulis kitab suci, usia manusia yang singkat sangatlah kontras dengan bumi yang terus ada. Ya, selama ribuan tahun, banyak generasi datang dan pergi, dan alam terbukti sanggup menopang kehidupan. Namun sekarang suasananya berubah.

Sejak perang dunia ke II, dunia ini mengalami perubahan yang amat pesat. Hanya dalam 70 tahun manusia telah menyaksikan kemajuan yang luar biasa dalam bidang transportasi, komunikasi dan tekhnologi lainnya. Dan hal ini telah menghasilkan perubahan ekonomi secara drastis. Kini, banyak orang bisa menikmati standar hidup yang tadinya mustahil bagi mereka. Sementara itu jumlah penduduk bumi sudah meningkat hampir tiga kali lipat.

Baca Juga :  Jenderal Luhut Binsar Panjaitan Bergerak

Tapi, semua perubahan ini tentu ada dampaknya. Manusia yang telah dengan kecongkakkannya merusak bumi sehingga bisa-bisa tidak sanggup lagi menopang kehidupan. Beberapa ilmuan malah mengatakan bahwa kita telah memasuki babak baru geologis, yaitu antoposen, suatu era ketika manusia semakin memengaruhi keadaan planet ini.

Kitab suci semua agama menubuatkan suatu masa ketika manusia akan “membinasakan bumi”. Ada yang bertanya apakah kita memang sedang hidup pada masa tersebut? Seberapa parah kerusakannya? Apakah manusia akan menghancurkan alam sehingga tidak dapat diperbaiki lagi? Beberapa ilmuan merasa bahwa dampak berbagai perubahan yang terjadi sulit diperkirakan. Karena itu mereka khawatir jangan-jangan kita sudah berada di “ujung tanduk”. Perubahan iklim yang tak terduga bisa sekonyong-konyong mendatangkan musibah.
Misalnya coba perhatikan lapisan es di Antartika barat. Ada yang percaya bahwa jika temperatur atmosfer dan samudra terus meningkat, lapisan es ini akan meleleh tanpa bisa dihentikan. Lapisan atas es secara alami memantulkan sinar matahari. Jika lapisan ini semakin tipis, samudra di bawahnya yang kurang bisa memantulkan cahaya, akhirnya akan terkena terpaan sinar mentari.

Baca Juga :  Transformasi Paradigma Himpunan: Upaya menjadikan HMI sebagai Rumah Peradaban
Selanjutnya
Tulisan ini berasal dari redaksi
Tetap terhubung dengan kami:

Comment