Penulis :

Cikal bakal berdirinya satu kampung (Nagi) bisa terlahir dari sebuah catatan kelam yang memilukan hati. Tapi di balik kisah pilu dan catatan tragis itu, ada hal positif dan cerita baru terukir. Nagi Weri, lahir dari kisah kelam dan cerita memilukan bencana banjir bandang tahun 1979, tepatnya 27 Februari, kini sudah memasuki 43 tahun yang lalu.

Hanya mereka, generasi Weri saat ini, yang waktu kejadian itu berusia 6 tahun ke atas masih bisa mengenang bencana itu.

Saat ini, generasi yang mengalami sendiri banjir bandang sudah menikah, sudah punya anak dan cucu bahkan cece.

Setiap kali di tanggal ini, 27 Februari, mereka akan berkisah lagi, mengenang dan bercerita kepada anak cucu mereka tentang situasi kelam saat itu, ketika banjir meluluhlantakkan kota Reinha dan kampung yang ada di seputaran gunung Ile Mandiri.

Menceritakan kisah banjir ’79 itu, seperti orang Israel menceritakan dan mengisahkan kembali “Peristiwa Paskah”, saat Allah membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Kisah dan cerita Paskah itu dirayakan, dihidupi dan dikenang oleh setiap anak dan cucu, dari generasi ke generasi. Keselamatan yang diberikan Allah menjadi nilai hidup, warisan yang terus diingat dan dihidupi, dan mereka bersikap untuk tetap setia pada Hukum Allah, mentaati dan mengasihi Allah. Dan karenanya Israel menjadi bangsa terpilih dan dikasihi Allah.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.