Mengenang Kisah Pilu Banjir 1979 di Larantuka (Sebuah Catatan Pinggir)

Dibaca 509 kali Reporter : Redaksi verified

Cikal bakal berdirinya satu kampung (Nagi) bisa terlahir dari sebuah catatan kelam yang memilukan hati. Tapi di balik kisah pilu dan catatan tragis itu, ada hal positif dan cerita baru terukir. Nagi Weri, lahir dari kisah kelam dan cerita memilukan bencana banjir bandang tahun 1979, tepatnya 27 Februari, kini sudah memasuki 43 tahun yang lalu.

Hanya mereka, generasi Weri saat ini, yang waktu kejadian itu berusia 6 tahun ke atas masih bisa mengenang bencana itu.

Saat ini, generasi yang mengalami sendiri banjir bandang sudah menikah, sudah punya anak dan cucu bahkan cece.

Setiap kali di tanggal ini, 27 Februari, mereka akan berkisah lagi, mengenang dan bercerita kepada anak cucu mereka tentang situasi kelam saat itu, ketika banjir meluluhlantakkan kota Reinha dan kampung yang ada di seputaran gunung Ile Mandiri.

Baca Juga :  Menjadi Pengusaha Muda NTT

Menceritakan kisah banjir ’79 itu, seperti orang Israel menceritakan dan mengisahkan kembali “Peristiwa Paskah”, saat Allah membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Kisah dan cerita Paskah itu dirayakan, dihidupi dan dikenang oleh setiap anak dan cucu, dari generasi ke generasi. Keselamatan yang diberikan Allah menjadi nilai hidup, warisan yang terus diingat dan dihidupi, dan mereka bersikap untuk tetap setia pada Hukum Allah, mentaati dan mengasihi Allah. Dan karenanya Israel menjadi bangsa terpilih dan dikasihi Allah.

Kembali ke kisah Banjir ’79. Setiap anak dan generasi orang Nagi Larantuka dan sekitarnya, harus menjadikan cerita itu, sebuah karya keselamatan, yang diberikan oleh Allah kepada nenek moyang dan orang tua terdahulu.

Baca Juga :  Pengawasan Pemilihan Dimasa Pandemi Covid-19

Kisah keselamatan itu, juga menjadi tilas balik lahirnya kampung (nagi dan lewo) yang baru pasca banjir ’79.

Kisah itu, semestinya harus dimaknai sebagai “kisah paskah” bagi orang Larantuka dan sekitarnya. Bahwa Tuhan telah membebaskan mereka dari malapetaka tersebut.

Bagaimana hidup selanjutnya?

Setiap kali mengenang kisah banjir ’79, selalu akan terpatri dalam hati generasi anak Nagi dan Lewo di seputaran Ile Mandiri untuk bersyukur kepada Allah.

Wujud syukur itu ditandai dengan hidup baik: taat pada perintah Tuhan, aktif dalam hidup menggereja, ambil bagian dalam hidup bersama di masyarakat, menjadi pioner untuk kebaikan bersama.

Sehingga ingatan dan kenangan akan kisah pilu banjir ’79 mempunyai nilai tambah, tidak sekedar melarung lilin dan kembang di laut untuk menghormati mereka yang jadi korban bencana banjir ’79.

Baca Juga :  Politik Tender Politik

Nagi Weri, sebagai tanah baru, yang menjanjikan kehidupan baru, menjadi cerita indah bagi generasi orang Nagi Larantuka. Bahwa Nagi Weri, lahir dari kisah dan cerita pilu, tapi saat ini Weri menjadi “tanah terjanji” untuk sebuah hidup yang lebih baik.

Kita panjatkan doa untuk keselamatan para korban dan mendoakan generasi baru untuk hidup lebih baik. Sehinga syair lagu ini punya makna: “Oh Tuhan, apa salah dan dosaku, derita ini bertubi menimpa. Andaikan ini jawaban kehendak-Mu. Tak kuingkari Salib kota Reinha.”

Weri, 27 Februari 2022

RD. Pey Hurint

Tulisan ini berasal dari redaksi
Tetap terhubung dengan kami:

Comment