Politik Tender Politik

Dibaca 423 kali Reporter : Lukas Onek Narek, S.H. verified

Foto : Lukas Onek Narek, S.H.

(Sebuah Refleksi Politik di awal Tahun, di tengah hajatan Politik Pilkada di sejumlah wilayah kabupaten/kota wilayah NTT)

Bagian Keempat

Praktek Tender Fee Proyek”

Soe, faktahukumntt.com – 23 Januari 2021

Agaknya lucu membaca terminologi Praktek Tender Fee Proyek. Lazim orang tauh hanyalah istilah Tender Proyek. Pengajuan penawaran kerja secara tertulis disertai kelengkapan dokumen kepada pihak pemilik proyek. Kalau memenuhi syarat makan akan dibuat dokumen kontrak kerja. Itu yang dipahami sebagai Tender Proyek. Beda jauhnya dengan istilah Tender Fee Proyek. Praktek Tender Fee Proyek sesungguhnya merupakan salah satu akibat dari Praktek Politik “Tender Politik”.

Sesungguhnya apa itu Fee Proyek ? Kata Fee berasal dari bahasa Inggris asal kata Feondo bahasa Latin artinya biaya atau ongkos. Sangat bertautan dengan imbalan kerja jasa.
Fee Proyek artinya biaya yang didapat dari jasa mengerjakan sebuah proyek. Bagi pemilik proyek artinya, biaya yang dikeluarkan untuk membiayai sebuah proyek.

Baca Juga :  Ibu-Ibu Bertelanjang Dada

Anehnya, istilah Fee Proyek di sejumlah wilayah di NTT termasuk kabupaten Lembata sendiri Fee Proyek menjadi istilah yang santer sekali diperbincangkan. Agaknya terbalik. Praktek fee proyek ini seharusnya diberikan pemilik proyek kepada jasa kontraktor karena jasa mengerjakan proyek, tetapi justru kontraktor yang seolah wajib memberikannya kepada pemilik proyek. Kontraktor siapa pun wajib menyetor fee proyek kepada pemilik proyek. Penyetorannya pun, bukannya dilakukan di akhir pelaksanaan proyek namun dilakukannya di awal pengerjaan sebuah proyek.

Praktek Fee Proyek ini menjadi sangat marak. Mustahil, kontraktor dapat mengerjakan sebuah proyek tanpa didahului dengan penarikan fee proyek. Kontraktor tidak menyerakan fee proyek di awal pengerjaan proyek, jangan pernah harap kontraktor akan dapat mengerjakan proyek tersebut walau sudah memenangkan tender. Proyek dapat dengan mudah beralih tangan ke kontraktor lain hanya karena lamban atau tidak menyetor fee proyek.

Baca Juga :  Niat Jadi Imam Tak Sampai, Kini Leo Kuliah Sambil Jual Ikan
Tulisan ini berasal dari redaksi

Comment