DARI PENDIDIKAN MENUJU PARIWISATA

Dibaca 178 kali

Tabir Rahasia Pariwisata Kota Batam                        (Syahban Albukori.S.Pd)

BATAM (faktahukumntt.com) Kunjungan kerja tim Fakta Hukum Indonesia-Nusa Tenggara Timur, dalam rangka mengungkap tabir rahasia pariwisata di pulau Batam. Penelusuran tim menuai hasil dengan terkuaknya fakta siapa dibalik pesatnya pertumbuhan pariwisata tersebut.

Dalam penelusurannya di pulau batam tim melihat bahwa pertumbuhan pariwisata di pulau batam sangat pesat dibadingkan dengan NTT. Hal ini tak terbayangkan oleh tim bahwa ternyata kunci sukses pariwisata di pulau tersebut tak terlepas dari sentuhan tangan  putra daerah asal Nusa Tengara Timur “Syahban Albukori.S.Pd” dari Pulau Adonara.

Batam yang terkenal dengan daerah perindustrian dan daerah kepulauan yang berbatasan langsung dengan dua Negara yaitu Singapore dan Malaysia, tersimpan banyak hal yang sangat menarik terkait dengan pariwisatanya. Hal ini membuat Batam dan Indonesia semakin dikenal luas hingga ke manca negara. Pertumbuhan pariwisata yang bertumbuh dengan baik tidak terlepas dari para pemikir atau ahli yang mampu mengemas pariwisatanya. Hal ini tidak dapat dilepas-pisahkan dari seorang putra daerah asal Nusa Tenggara Timur yang berasal dari pulau Adonara Flores Timur. Dia sebagai design maker-nya sehingga mampu mengangkat pariwisata Batam hingga terkenal ke manca negara.

Syahban Albukori.S.Pd, pria kelahiran Adonara  41 tahun yang silam yang mempersuntingkan Ina Adonara (sekampung) dan di karunia satu putra dengan tiga putri. Ia pernah mengenyam pendidikan di SD Inpres Lamahala hingga kelas lima SD dan melanjutkan sekolahnya di Larantuka pada tahun 80an. Syahban hanya bersekolah satu tahun saja karena kondisi ekonomi orang tuanya yang membuatnya melanjutkan sekolahnya di Pulau Batam. Di Batam Syahban merasa ada keanehan karena dianggap belum cukup umur dan pendek sehingga Syahban ditahan dua tahun. Walaupun demikian Syahban tidak putus asa, ketika naik kelas enam SD ia membuktikan dirinya bahwa anak kampung yang berasal dari Adonara dapat berprestasi di negeri orang. Ia meraih juara satu dikelasnya, sambil bergurau Syahban mengatakan kecerdasannya akibat mengkonsumsi ikan tongkol asal Adonara.

Syahban yang kecil dan pendek melanjutkan pendidikan menengahnya di SMP Islam Al Azhar Batam, dan kembali menoreh prestasinya dengan beberapa kali mengikuti lomba kontes bahasa ingris dan pernah mewakili sekolahnya mengikuti cerdas cermat di SMP Islam Al Azhar Jakarta dan mendapatkan juara tiga. Syahban juga aktif pada organisasi Angkatan Muda Islam Indonesia Provinsi Riau. Melanjutkan sekolah menengah atasnya pada SMEA Ibnu Shina mengambil jurusan akutansi, namun karena kenakalan remaja Syahban dipindahkan ke jurusan manajemen walau demikian Syahban membuktikan dirinya hingga meraih juara. Syahban juga terpilih mewakili Kota Batam ke Pekan Baru mengikuti Elits-Hits-Kontes. walaupun bukan spesialisnya bahasa inggris namun dari kecil ia telah dididik oleh orang tua untuk belajar bahasa inggris sehingga ia mahir berbahasa inggris.

Syahban memiliki pengalaman kerja sebelum di angkat menjadi PNS. Waktu SMEA kelas 2 Ia bekerja pada  perusahaan BUMN distrubutor mobil Indonesia. Setelah tamat SMEA Ia melanjutkan kuliahnya di Perguruan Tinggi jurusan Akademi Bahasa Asing. Seiring dengan berjalannya waktu ia dikirim ke Kupang untuk mempelajari adat istiadat Adonara dan melanjutkan pendidikan di Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang dengan mengambil jurusan FKIP bahasa Inggris dan sempat menjadi asisten Dosen selama satu semester. karena sesuatu hal yang membuat ia harus kembali ke Batam. Perlu dicatat bahwa setelah tamat SMEA saya sudah bekerja dan memiliki jabatan supervisor penjualan di tokoh buku gramedia. Selain itu ia pernah menjadi personalia pada suatu perusahaan elektronik di Batam dan Asisten Panitera di salah satu kantor pengacara di Batam. Pernah menjadi penyiar radio dan bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi. Saat di kupang ia pernah bekerja pada perusahaan trevel namun karena kondisinya tidak meyakinkan untuk melanjutkannya. Kemudian ada tawaran yang lebih menantang maka ia kembali ke Batam untuk mengikuti seleksi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Mengawali Karier sebagai PNS

Syahban Mengawali kariernya sebagai PNS pada tahun 2002 di bagian protokol. “pekerjaan yang sangat menyenangkan namun menyita waktu, menyusun kegiatan pejabat daerah baik yang ada di kota Batam maupun di luar”. Selama berada pada bagian protokol ia sudah menjejaki  beberapa negara saat mendampingi pejabat daerah dan mendapatkan salah satu prestasi yang luar biasa bagian protokol; ia pernah dipercayamenjadi protokol internasional yang terbaik dan pernah menjadi protokol di Istana Negara pada tahun 2003. Dalam waktu selama 7 tahun menjadi protokol ia pindah menjadi ajudan wakil walikota batam selama 1 tahun.  Setelah itu dipindahkan ke Dinas Pariwisata sebagai staf namun karena berkat pengalaman dan kinerja yang ia lakukan akhirnya dipercara sebagai kepala seksi di salah satu kelurahan dan menjadi lurah hingga ditarik kembali ke dinas pariwisata dan mendapatkan jabatan yang paling-paling dinantikan orang untuk mengembangkan karier sebagai seorang pecinta pariwisata”.

Baca Juga :  Dispar Kabupaten Nagekeo Launching Kegiatan Pelatihan Tata Kelola Destinasi, Ini Pesan Bupati Nagekeo.

Seorang Pemikir dan Aktor

Syahban adalah seorang pemikir dan aktor yang pantas di tiru. dalam perbincangannya dengan tim FHI ia mengatakan “Dikantor ia sering membuat klastrat untuk suatu pekerjaan, yang seharusnya ini dapat multi player yang efeknya lebih ke masyarakat namun karena anggaran terbatas sehingga kegiatan tersebut tidak berjalan. Menjadi beban tersendiri bagi pribadinya jika ide yang muncul dari diri sendiri tapi tidak berjalan karena keterbatasannya anggaran”.

Berkat pengalamanya yang segudang membuat Syahban mendapatkan kepercayaan yang tidak dipikirkan sebelumnya? kepada tim FHI  ia menuturkan bahwa di dinas pariwisata ia di percayakan oleh Kementerian Pariwisata menjadi fasilitator destinasi bagian pesisir untuk kepulauan Riau. selang satu tahun di nobatkan menjadi fasilitator destinasi terbaik tahun 2017 dan mendapatkan reword menjadi narasumber di beberapa kabupaten kota di kepulauan riau dan di daerah sumatera”. Saat ditanyai tentang suka duka yang dihadapinya ia mengungkapkan bahwa “suka jauh lebih banyak ketimbang duka karena saya sangat mencintai pekerjaan”. Bagi saya “satu beban yang tidak dikerjakan maka menjadi beban bagi diri sendiri, karena merasa apa yang dicita-citakan dan apa yang diharapkan tidak tercapai, itu duka yang luar biasa”.

Kenapa pemerintah RI memberikan pengharagaan kepada anda sebagai fasilitator bisnis terbaik? Jawabannya sederhana karena kita telah berbuat bagi pariwisata. kalau kita tidak berbuat bagi pariwisata maka tidak ada prestasi yang diberikan oleh pemerintah. “Jika anda ingin melakukan sesuatu untuk negara maka lakukanlah dan jangan menunggu negara lakukan untuk anda”.

Ketika pertama kalinya Syahban mendapatkan Surat Keputusan (SK) dari Kementrian Pariwisata sebagai fasilitator destinasi. Apa yang akan ia lakukan? Tentunya ia sudah mempunyai time schedule dan planing-planing yang sudah dirancang. Syahban mengaku setiap bulan wahib hukumnya mengirim laporan tentang kegiatan yang telah dilakukan di daerah masing-masing. Laporan mengenai apa yang telah dibuat untuk daerah dan apa yang akan dibuat untuk Indonesia khususnya di bidang pariwisata. Hal ini yang Syahban lakukan melalui program harus mendatangkan wisatawan ke Indonesia.

Pada tahun 2017, Syahban mampu mendatangkan wisatawan ke Indonesia kurang lebih 33.000 wistawan manca negara datang ke batam melalui iven yang ia lakukan. Program tersebut menjadi dasar bagi kementrian pariwisata menjatuhkan pilihan kepada Syahban atas prestasinya melalui iven tersebut. “melalui program tersebut kita mencoba membuat satu iven sendiri yang belum pernah ada di daerah. Misalkan batam, iven yang belum pernah ada dan dibuat oleh pemerintah maupun komunitas sebelumnya namun saya mengemasnya dengan tujuan untuk mendatangkan wisatawan, Ini membuahkan hasil!, sebut Syahban

Langkah pertama yang perlu diketahui terlebih dahulu bahwa Wisatawan penginnya apa? Disitulah kita melakukan konektivitas dengan negara tetangga Singapore Dan Malaysia. Kita mencoba kerja sama dengan Singapore Underskor dan Johor Indonesian Toursm (JOTIK). Langkah berikutnya  mengadakan meeting untuk menciptakan satu iven dan ketika iven itu sudah muncul, langkah selanjutnya targetnya adalah menjual  paket biar mereka datang ke Batam untuk menikmati iven tersebut. contohnya Simple Batam Art And Culture Perfoman itu belum pernah dilakukan, Festival Kopi, Fhising Board Tornament, Tour de Force And Garis Promosion itu belum ada kemasan-kemasan sebelumnya tetapi kita mencoba menciptakan itu sehingga wisatawan itu terpancing datang ke Batam.

Nah, ketika wisatawan datang ke Batam apa yang mau mereka lihat apa yang mereka ingin dapatkan. Hal itu yang tidak terpikirkan oleh orang banyak tentang keinginan karakteristik wisatawan, setelah kita pelajari semua maka dapatlah ide itu. Jadi ketika dia (wisatawan) datang dia lihat tampilan yang kita suguhkan dan dia dapatkan hasil bisa berupa informasi dan bisa berupa produk di bawah ke negaranya. Inilah yang harus kita ciptakan agar pariwisata kita ingin dikenal banyak orang maka ketika berkumpul di Kementrian Pariwisata mereka menetapkan saya sebagai fasilitator pariwisata terbaik.

Baca Juga :  Festival Sarung Tenunan NTT dan Musik Akan Menjadi Agenda Tahunan

Ada hal menarik yang perlu dipelajari oleh daerah-daerah lain di Indonesia khusunya Nusa Tenggara Timur (NTT) tuturnya. Setiap laporan  dari saya selalu langsung diterima oleh pak menteri dan bukan laporan orang lain. Sehingga setiap kegiatan laporan dari daerah lain diminta untuk mencontohi laporan dari Batam. Konsep sudah jelas dan dari konsep itu kita kumpulkan agen trevel untuk membuat satu paket. Ketika satu paket sudah dikemas dengan baik mereka tinggal memberikan kepada negara-negara tetangga seperti singapore, malaysia dll untuk dijual ke masyarakat mereka “ini loh kegiatan-kegiatan yang ada di batam” kalian bisa menikmati. Dengan demikian mereka terus mendaftarkan diri sampai ribuan orang untuk datang ke Batam dan kita service mereka dengan hanya menunjukan apa yang menjadi produk unggulan kita dan itu kita tampilkan kepada mereka.

Ungkap Syahban kepada tim FHI “Keinginan besar bukan suatu kejenuhan tapi rasa terpanggil untuk mengembangkan daerah dimana saya lahir dan dibesarkan yaitu Daerah Flores Timur, dalam pengembangan pariwisata bukan karena tugas negara tapi hati kecil berkata mengapa kamu hanya mengembangkan daerah lain sedangkan daerah kamu sendiri yang memiliki potensi alam dan pariwisata yang sangat bagus tapi mengapa kamu tidak kembangkan. Saya terpancing oleh keinginan yang luar biasa tapi lagi-lagi saya bukan bagian dari pada itu (ASN di Lingkup Pemerintah Kab. Flotim) makanya saya tidak berani untuk melakukan. Namun kalau pemerintah Flores Timur melibatkan saya dalam hal potensi pengembangan pariwisata yang ada di sana khususnya destinasi yang dimiliki kita bisa berkaloborasi untuk mengembangkannya.

“Ini keinginan besar saya, Bukan hanya di Flores Timur tapi NTT pada umumnya. Kalau disini orang lebih banyak meminta kita pengembangan daerah mereka  tapi kita sendiri tidak menyadari kalau kita memiliki potensi yang luar biasa itu yang terjadi”.

Harapan saya kalau  mengkoneksikan ke daerah asal maka bagaimana pemerintah perlu dan peduli akan destinasi pariwisata, karena pariwisata sangat mempengaruhi masyarakat. Pariwisata tidak berkembang perekonomian masyarakat tidak berkembang. tetapi kalau pariwisata berkembang secara otomatis masyarakat juga akan menikmati dan mereka mungkin tidak menjadi perantauan yang kebanyakan kita lihat sekarang ini. Masyarakat tentunya fokus untuk pengembangan daerah melalui usaha kecil menengah atau industri kecil menengah. Masyarakat bisa lakukan pengembangan diri melalui usaha kecil menengah atau industri kecil menengah untuk melakukan penjualan secara langsung untuk wisatawan yang berkunjung ke sana.

Kalau saya mau membandingkan dengan NTT. NTT memiliki banyak keunggulan cuma kita (masyarakat) belum tersadarkan oleh itu. kalau di parawisata nasional ada 3 kemasan atau 3 produk harus di unggulkan dalam setiap pengembangan pariwisata. Pertama, wisata alam: kita punya gunung, punya pantai dan pulau-pulau yang luar biasa. Kedua, wisata buatan penggabungan antara mitra kepariwisataan masyarakat maupun pemerintah dalam mengembangkan sebuah destinasi baru. Destinasi itu berupa destinasi alam bisa juga destinasi buatan yaitu berupa iven yang dikemas dari karakter kebudayaan yang beraneka ragam yang ada di NTT. Jika kegiatan dilakukan oleh Dinas Pariwisata Provinsi NTT, maka dipandang perlu  mengumpulkan seluruh kabupaten kota se NTT untuk membuat suatu budaya berupa Pawai, Carnaval atau Tampilan Panggung. Kemasan-kemasan yang harus di rancang yang ketiga adalah pariwisata budaya. Budaya  yang harus dikembangkan apalagi di daerah kita antara budaya, agama dan adat sangat berkaitan. Oleh sebab itu dikemas dalam satu tema yang luar biasa. misalkan salah satu tren itu collaboration in cattle ”perpaduan antara budaya” terus kita jual ke pariwisata. Wisatawan tidak akan melirik Bali lagi tapi akan melirik NTT. Karena pariwisata yang paling besar Bali dan untuk Nusa Tenggara. NTT bisa menjadi urutan ke tiga tergantung bagaimana kita mengemas pariwisata agar bisa dijual.

Menurut Syahban, Untuk mendatangkan wisatawan kembali ke NTT perlu dilakukan the world gate Event. Dia (wisatawan) datang untuk mendapatkan iven apa yang kita tawarkan sesudah itu apa yang dia beli untuk menjadi kenangan dia? Bagaimana jika dia datang kembali tanpa ada even? Apa yang harus dia liat? Jawaban atas pertanyaan inilah yang harus kita lakukan. Dan ini telahkita lakukan di Kota Batam.  Misalkan tour the balerang. Tour the balerang dikemas sedemikian rupa sehingga setelah Iven mereka akan kembali untuk ikut serta atau sekedar latihan saja, jadi bukan untuk tournament. Faktanya bahwa saat ini mereka selalu datang untuk latihan dari etape pertama sampai etape akhir. Dan  itu hanya untuk sekedar latihan tetapi otomatis dia datang rutin karena dia menikmati alam dan masyarakatnya juga welcome. Akan tetapi kalau dia datang masyarakatnya cuek lalu tidak ada sarana dan prasana yang bagus; akses jalannya harus sebagus apa yang dia bayangkan sehingga dia akan kembali lagi.

Baca Juga :  Saat Presiden Ajak Jan Ethes Naik Andong di Malioboro

Bisa saja kegiatan  tour de flores dan tour de timor bisa berkembang ketika kita memberikan suatu hal yang unik.  Uniknya tidak usah hal yang langsung jadi, tapi kita ciptakan  masyarakatnya dulu; masyarakat yang cinta akan pariwisata. ketika wisatawan datang kita suguhkan dengan misalnya tarian atau kita menyuguhkan makan khas daerah atau tampilan-tampilan pakaian adat, teater rakyat dan sebagainya. Saat wisatawan pas lewat melihat waduh ini orang pakaiannya unik, itulah ciri khas dari pada kita dan itu yang harus kita suguhkan. Kalau di Batam hari jumat pakai pakain dengan memakai batik. Sedangkan kita memiliki baju adat sumba dll., dengan kain tenun yang luar biasa. Memang kebanyakan masyarakat belum sadar manfaat pariwisata kalau dikembangkan itu luar biasa.

Lagi-lagi kembali ke pemerintah, pemerintah harus memberikan edukasi kepada stake holder karena kunci utama perokonomian masyarakat tepatnya pariwisata. Untuk kemajuan sebuah daerah tepatnya stake holder punya peran penting dalam pengembangan pariwisata. “Berbuatlah untuk masyarakat sebelum orang lain menjual yang sifanya bukan berbuat tapi menjual pariwisata yang ada sekarang ini. Mari kita kembangkan pariwisata untuk masyarakat sebelum orang lain membelinya. Nantinya kita tidak akan menciptakannya dan kita tidak tau bahwasannya itu punya kita tapi sudah menjadi milik orang lain. Maka sekarang berpikirlah untuk masyarakat bukan berpikir untuk orang dari luar”, pesan Syaban

“Kiat-kiat sukses dari pendidikan hingga pariwisata, pengalaman yang mendidik saya, pergaulan dan juga semua itu tidak terlepas dari kemauan belajar dari segala sesuatu yang belum kita lakukan. Selain itu saya punya prinsip hidup yaitu berbuatlah sebelum rasa malas itu tiba. Misalkan saya mengambil sarjana ilmu pendidikan jadi ketika kita mendidik anak sekolah yang nakal kita coba untuk melakukan pendekatan, nah ketika masuk dalam dunia kerja dan kita menghadapi masyarakat yang nakal kita coba melakukan pendekatan. Tentunya beda porsinya kalau anak-anak kita melakukan pendekatan langsung nurut tetapi masyarakat belum tentu. Maka caranya kita menciptakan sebuah inovasi dan masyarakat akan nurut. Kalau orang ingin maju maka dia tidak berbicara tentang angka tapi kalau dia ingin maju mestinya berbicara tentang nilai maka berhasil”, ungkap Kepala seksi sarana pariwisata Kota Batam.

Tapi dalam moto hidup saya berbeda saya ingin berhasil bukan karena orang lain tapi saya ingin berhasil karena diri saya sendiri “I want to bee sucses bicause of me not of you”. Inilah moto hidup saya semenjak SMP dan itu menjadi dasar pijak dalam perjalanan panjang hidup ini. Dan dimana sudah saya tunjukan kepada orang lain khususnya orang tua saya karena orang tua saya pernah membuat statement kepada saya semenjak SMP. Saya masih ingat saat itu beliau (Ayah) sambil memegang satu cangkul dan satu sapu lalu ia menyatakan, “kalau anda ingin sekolah terus maka belajarlah dengan baik tapi kalau anda tidak ingin bersekolah maka peganglah cangkul atau sapu maka jadilah seperti orang-orang ini. Pesan inilah memotivasi saya sehingga saya bisa mencapai semua yang saya cita-citakan. Untuk itulah dalam kesempatan ini saya memberikan apresiasi kepada bapak saya, karena bapak saya yang memberikan semangat dalam pengembangan diri saya. Saya sadari bahwa pengembangan karakter diri saya sendiri tidak terlepas dari orang tua. Orang tua saya berkata kalau kamu mau hidup enak kamu harus jadi PNS. (Yos Bataona)

 

 

 

 

 

Tulisan ini berasal dari redaksi

Comment