Kepala Desa, Pantai Sulamanda Butuh Air Bersih, Listrik dan Kendaraan Sampah 

Dibaca 524 kali

Faktahukumntt.com – Sulamanda, Oelamasi

[dropcap]S[/dropcap]entuhan inovasi wisata pantai Sulamanda membuat jumlah pengunjung meningkat di bulan Oktober hingga November ini. Saking banyaknya, ada pengunjung yang tidak kebagian spase dan harus mencari lokasi wisata lain.” Hal ini patut diapresiasi sejalan dengan pertumbuhan terdapat keterbatasan yang menjadi sumber permasalahan yang sangat mengkuatirkan yakni  akses air bersih, listrik, kendaraan sampah dan akses yang harus ddiperbaik.

Demikian penyampaian Kepala Desa Mata Air, Benyamin Kanuk saat ditemui awak media [17/11/2019] di Pantai Sulamanda.

Pasca Rapat Koordinasi [RAKOR] seluruh camat dan kepala desa zona 3 Kabupaten Kupang [15/11/2019], setiap hari Jumat Pemerintah Desa Mata Air melakukan RAKOR di pantai Sulamanda.

“Kami mengecek tingkat pengunjung ke lokasi wisata Pantai Sulamanda berapa orang dan berapa besar dampaknya bagi peningkatan pendapatan pelaku kuliner di lokasi wisata Sulamanda. Darinya kita bisa mengukur tingkat pertumbuhan pengunjung ke Sulamanda dan dampak pertumbuhan ekonomi masyarakat seperti apa.” Tandas Benyamin Kanuk.[sc name=”BACA JUGA” ]

Kades yang pernah meraih sepatu emas acara Kick Andy tersebut dengan wajah sumringah menceritakan bahwa setiap hari pelaku kuliner di lokasi Pantai Sulamanda meraup pendapatan minimal rata-rata Rp 200.000 hingga Rp 500.000 lebih/hari.

Baca Juga :  KEBERAGAMAN MERUPAKAN KEKUATAN BANGSA INDONESIA

Khusus untuk pendapatan BUMDES, lanjut Benyamin, di bulan Oktober mencapai angka di atas Rp 8 Juta. Posisi data per 17 November sudah mencapai Rp 3 Juta lebih. Dalam setiap hari Minggu bisa mencapai Rp 1.500.000.

Sarus, salah satu pelaku kuliner sekaligus pemilik kantin Libra di lokasi Sulamanda saat ditemui awak media menceritakan bahwa pendapatannya paling besar/minggu bisa mencapai Rp 3 Juta.[sc name=”BACA JUGA” ]

Salah satu kelebihan daya tarik kantinya ialah layanan live musik disaat pengunjung datang berwisata di Pantai Sulamanda. Sambil bersantai para pengunjung menikmati layanan kantinnya.

“Beta pung pendapatan tertinggi kalau lagi rame pernah mencapai Rp 2.865.000/hari. Sedangkan hari-hari biasa kalau sepi kotong dapa sakitar Rp 300.000 sa. Bagi kotong itu besar.” Tandas Sarus.

Sarus menceritakan bahwa Kadesnya (Benyamin Kanuk) setiap hari selalu memonitor langsung perkembangan mereka di lokasi wisata Sulamanda dan berdiskusi soal perkembangan usaha dan pendapatan mereka setiap hari.

Menyambung sharing Sarus, Kades Mata Air mengungkapkan bahwa tujuannya rutin melakukan monitor ialah untuk mengukur pertumbuhan ekonomi masyarakatnya.

Baca Juga :  Dukung Akses Informasi Bagi Masyarakat, Fasilitas Wifi Super Hadir di Labuan Bajo

“Karena kalau saya membangun wisata ini dan masyarakat saya rugi, ya untuk apa saya buat. Melihat pertumbuhan pendapatan mereka hari ini, saya tambah bersemangat.” Tandas Benyamin.[sc name=”BACA JUGA” ]

Walau demikian, Lanjut Benyamin, Sulamanda masih butuh dukungan sarana prasarana, khususnya jalan masuk ke lokasi.

“Dulu jalan masuk kesini tidak pernah dipikirkan bahwa suatu saat pantai Sulamanda akan ramai seperti hari ini. Jalan saat itu dibangun hanya untuk jalan tani atau kelompok tani. Kendaraan roda empat keluar masuk mengalami kesulitan saat berpapasan. Kedepan saya akan mengupayakan ada jalur keluar untuk menghindari kemacetan yang menggangu arus masuk keluar pengunjung ke Sulamanda.” Papar Benyamin.

Kendala lain yaitu listrik. Lokasi wisata Sulamanda masih membutuhkan akses listrik mengingat lokasi pantai Sulamanda jauh dari perkampungan sehingga listrik belum masuk sampai di Sulamanda.

Ditambah keterbatasan air bersih. Terkait ini Benyamin mengungkapkan bahwa sampai sekarang kami masih menggunakan PDAM dan air tengki untuk layanan MCK dan mandi membersihkan badan setelah berenang di pantai.

Baca Juga :  Batam Penyumbang Wisman Terbesar di Kepri

Soal bagaimana menjaga sampah, menurut Kami sudah buat pafing block. Kami sudah sediakan mesinnya. Kami pisahkan sampah plastik dan sampah organik.

Pemerintah Desa Mata Air sementara ini menyewa mobil pick up untuk mengangkut sampah keluar menuju Tempat Pembuangan Sampah [TPS] di wilayah dusun V desa Mata Air yang berjarak sekitar 4 km dari sini.

“Terkait sampah, saya sudah pernah meminta kendaraan sampah sejenih Motor Viar dari Dinas Kebersihan tetapi belum dijawab.” Tegas Benyamin.

Walau tidak ada, lanjut Kades Benyamin, kami tetap usahakan sendiri kebersihan lokasi ini dari sampah. Setiap Senin ada kerja bakti pembersihan lokasi pantai ini bersama masyarakat.

Kades Benyamin juga berharap selain inovasi menanam tambah pohon bakau, masyarakat juga diharapkan menjaga pohon-pohon di lokasi ini jangan sampai punah.

Pemerintah juga mengusahakan membangun penahan ombak untuk menghindari abrasi pantai. Terkait beberapa kendala tersebut di atas Kades Benyamin juga sangat terbuka terhadap pihak lain yang ingin mendukung kebutuhan dan inovasi Wisata Pantai Sulamanda.

“Sudah Lama Aku Menanti Anda (SULAMANDA)”, ujar Kades Mata Air. (HM)

Tulisan ini berasal dari redaksi
Tetap terhubung dengan kami:

Comment