Kepdes Amakaka Sebut Potensi desa Amakaka adalah Pertanian dan hasil Laut, Isak Jema Seruhkan Harga Jual Ikan

Dibaca 322 kali

Kepala Desa Amakaka, Thomas Tiro(Foto : Akuratnews.com)

FaktahukumNTT.com, LEMBATA

Wabah virus corona telah membuat banyak warga panik dan memilih tinggal diam di rumah saja. Tetapi tidak bagi sebagian nelayan di pesisir pantai desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata. Pantauan media faktahukumntt.com Sore hari, (Rabu 17/6/2020) para nelayan sedang bergegas ke pantai mencari ikan di laut.

Ketika disambangi media ini, dikediamannya, Bapak Isak Jema, salah satu nelayan desa Amakaka mengatakan bahwa; desa Amakaka memiliki potensi besar di bidang perikanan. “Perputaran uang di lewotolok (Desa Amakaka) sangat besar kalau diatur secara baik”, tegasnya.

Ia menambahkan, bahwa jumlah nelayan yang memiliki rompong (tempat pengumpul ikan) lumayan banyak diantaranya bapak Bernardus Beseng, Syarif Sofian, Jamal Keluli, Hendrikus Hali, Khairul Hali, Usman Bala, Bernardus Usu, Alex Saban dan Isak Jema.

Hal ini didukung oleh pernyataan kepala Desa Amakaka, Thomas Tiro, bahwa salah satu potensi di desa Amakaka adalah hasil laut (perikanan) selain pertanian.

Diakui kepdes Amakaka bahwa selama ini yang berjalan hanya GAPOKTAN (gabungan kelompok Tani) karena mereka sudah punya wadah yang mengorganisir kegiatan mereka. Sedang kelompok nelayan belum dimanage dengan baik. “perdes bisa dibuat yang penting sudah ada kelompok”, Timpalnya.

Baca Juga :  Korinus Masneno Apresiasi Lomba Kontes Ternak Tingkat Kabupaten Kupang

Sebagai nelayan, Isak Jema mengakui bahwa selama ini mereka belum membentuk organisasi atau wadah nelayan pesisir pantai. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa memang dulu ada perkumpulan nelayan Lewotolok pesisir pantai semasa kepemimpinan Kepala Desa, Lamber Laba Raya. Tapi saat ini tidak ada lagi dan perlu dihidupkan kembali.

Pemandangan Desa Amakaka, Kec. Ile Ape Lembata disaat senja tiba. Foto: Yurgo Purab

Jema berharap agar harga ikan dapat ditentukan oleh pemilik rompong/ nelayan di pesisir pantai bukan pembeli dari luar daerah yang datang memborong dengan jumlah banyak. “selama ini kami merasa ditipu. Sejak dahulu sampai sekarang harganya sama saja”, ungkapnya.

Jema optimis bahwa hasil laut bisa menambah roda perekonomian masyarakat di desa ini jika dikembangkan dengan baik.

Baca Juga :  Peduli Nelayan, Ansy Lema Gandeng BKIPM Kupang Bagikan Paket Ikan Segar

Lebih jauh, Isak Jema mengatakan bahwa ia biasanya menjual satu ember mates ikan segar dengan harga maksimal 200.000 ribu dan minimal 150.000 ribu kepada pembeli juga pengencer (penjual keliling).

Siti Asma Barek, salah satu pengencer di desa Amakaka yang biasa membeli ikan dari nelayan di desa tersebut mengaku bahwa selama ini walaupun belum ada kerja sama yang tetap dengan pihak nelayan terkait, tetapi hasil jualan mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Ia berharap agar pemerintah desa dapat mengatur kerja sama antara nelayan dan pengencer di desa tersebut supaya hasil tangkapan nelayan bisa diberikan kepada mereka sebelum dijajakan ke luar daerah.

Hal yang sama disinggung oleh Jema, bahwa mereka akan fokus pada orang kampung jika jumlah ikan tidak banyak. Kalau lebih baru dijajakan keluar daerah. “Kita fokus orang kampung dulu”, katanya.

Ketika ditanya soal retribusi kapal-kapal asing yang datang dari luar daerah dan pembeli yang datang luar, kepala desa Amakaka, Thomas Tiro menanggapi bahwa ini keterbatasan pemerintah desa karena tidak ada aturan yang mengikat.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Ikut Menjadi Peserta Pawai Pesta Kesenian Bali 2019

Akhir kata, Tiro mengharapkan seluruh elemen di dalam pemerintahan entah itu lembaga adat, lembaga pemerintahan desa, para mahasiswa dan juga siapa saja untuk membangun desa.

Desa Amakaka merupakan salah satu desa yang berada di kecamatan Ile Ape kabupaten Lembata. Desa ini tampak indah karena berada di pesisir pantai yang melingkar indah. Tampak bebeberapa perahu berbaris apik di bibir pantai dan para nelayan yang sedang merapikan jala.

Begitu eksotik dan menawanya sunset di desa tersebut, sehingga banyak diburu masyarakat sambil berpose di sekitaran badan jalan. Tampak megah tiga patung berdiri tegap dan belahan jalan terbagi dua. Setiap orang yang melewati tempat ini akan menikmati panorama yang mengagumkan. (Yurgo Purab)

Tulisan ini berasal dari redaksi
Tetap terhubung dengan kami:

Comment