Namun, pemerintah menegaskan akan terus mempertahankan dan memperkuat agenda hilirisasi nikel melalui kebijakan insentif fiskal.

“Kita akan mendukung hilirisasi nikel supaya nikel kita dipakai betul. Saya mau hidupkan mimpi itu lagi,” ujarnya.

Saat ini, pasar mobil listrik di Indonesia didominasi kendaraan asal China yang sebagian besar menggunakan baterai Lithium Iron Phosphate (LFP). Teknologi baterai tersebut dikenal lebih murah dan memiliki tingkat keamanan tinggi, tetapi tidak menggunakan nikel.

Sejumlah merek yang memakai baterai LFP antara lain BYD, Chery, Aion, DFSK, hingga Toyota dan Lexus untuk beberapa model kendaraan listrik mereka di Indonesia.

Sementara itu, baterai berbasis nikel seperti Nickel Manganese Cobalt (NMC) lebih banyak digunakan oleh produsen kendaraan premium seperti BMW, Hyundai, Kia, Mercedes-Benz, Volvo, dan Mini.

Sebelumnya, pemerintah juga mengumumkan rencana pemberian insentif untuk 100 ribu unit mobil listrik mulai Juni 2026. Insentif tersebut akan diberikan dalam bentuk PPN DTP dengan besaran berbeda sesuai kandungan nikel dalam baterai kendaraan.