Informasi Terupdate Hari Ini

Gubernur NTT : Merayakan Natal Bertujuan Mengembalikan Hati yang Damai di semua level Guna Meningkatkan Kualitas Pendidikan Berkarakter di Kota Kupang

0 77

Kota Kupang-(faktahukumntt.com), Perayaan Natal bersama yang digelar oleh SMA/SMK se-Kota Kupang ini merupakan ide dan inspirasi dari ibu Kepala UPT dan Ibu Kadis Pendidikan Provinsi NTT yang mana para Kepala Sekolah juga terinpirasi untuk mensukseskan acara natal bersama ini, ungkap Kepala Sekolah SMKN 5 Kota Kupang, Alexander Giri, STP., M.Si. sekaligus sebagai Ketua Panitia.

Peserta yang hadir dalam perayaan Natal dan Tahun Baru Bersama ini sekitar 500 orang terdiri dari tamu undangan, termasuk Gubernur NTT Bapak Fran Lebu Raya, Kadis Pendidikan Provinsi NTT, Kepala UPT pendidikan wilayah I Kota Kupang, Kabupaten Kupang dan TTS, Bapak Koordinator pengawas dan Bapak/Ibu pengawas, Bapak-Bapak Kepala Bidang SMA/SMK pada Dinas Pendidikan Provinsi NTT, Para Kepala Sekolah SMA/SMK UPT Wilayah I Kota Kupang, Wakil Kepala Sekolah serta Bapak/ibu guru SMA/SMK se-kota Kupang.

Ketua Panitia menjelaskan bahwa Perayaan Natal bersama ini merupakan bagian dari rasa syukur kami dimana pada bulan November para kepala sekolah SMA dan SMK Negeri UPT wilayah satu kota Kupang telah dipupuhkan dalam jabatan sebagai kepala sekolah. Acara syukuran Natal dan Tahun baru ini juga sekaligus kami persembahkan dalam sujud syukur dan doa yang tulus untuk Ibu Kadis Pendidikan yang berulang tahun pada tanggal 10 Januari 2018, untuk itu dari tempat ini saya mewakili seluruh Kepala Sekolah dan para guru menyampaikan Selamat Ulang Tahun, ucap Alexander.

Gubernur NTT, Drs Fran Lebu Raya yang diberi kesempatan berbicara menyampaikan ucapan Natal Kepada seluruh Kepala Sekolah, guru dan siswa SMA/SMK se kota Kupang, semoga damai natal terus menerus menjadi landasan, pijakan dan keteduhan hati kita untuk membangun pendidikan di NTT. Juga selamat tahun baru 1 Januari 2018, tahun baru selalu membawa harapan baru, semangat baru; semangat untuk menjadi lebih baik dan membawa optimisme baru. Hidup mesti optimis dan menggugah kita untuk bekerja lebih keras, kerja lebih cerdas, dan kerja tuntas.

Frans menjelaskan Natal setiap tahunnya sama, tahun baru juga sama. Tidak ada Natal tanggal 20 Desember karena 20 Desember adalah HUT NTT. Natal pasti tanggal 25 Desember, tahun baru pasti tanggal 1 Januari. Tidak tahu kenapa dibuatkan kalender 365 hari, kenapa dibuatkan kalender 12 bulan, kenapa satu minggu itu 7 hari. Kita ini mewarisi sesuatu yang sejak dulu ditetapkan. Kalau Suku Boti punya waktu satu minggu itu 9 hari; ada hari lingkungan (tidak boleh bakar-membakar/tidak boleh tebang-menebang), ada hari damai (tidak boleh berantem) dan sebagainya. Suku Boti merupakan sebuah desa tradisional yang berada di Kecamatan Kie Kabupaten Timor Tengah Selatan. Desa Boti ini cukup terkenal, karena di sana bermukim sebuah suku asli (Suku Boti) yang hingga kini masih mempertahankan tradisi nenek moyang mereka, Jelas Frans.

Lanjut Frans, waktu yang 12 bulan atau natal 25 Desember itu merupakan satu rentang waktu dimana manusia pada tingkat tertentu mesti ada penurunan daya-daya tertentu. Oleh karena itu setiap Natal dibangkitkan kembali, diingatkan kembali, dimotivasi kembali, disemangati kembali tentang kelahiran baru, bukan secara biologis tetapi secara identitas diri kita mesti lahir baru. Kemarin kita malas-malasan mesti punya semangat baru untuk kerja lebih keras. Natal setiap tahun bacaannya sama, lagu-lagu juga sama, Natal 10 tahun yang lalu bacaannya sama, lagu-lagunya sama dengan natal tahun ini. Tetapi tantangan kita berbeda; tantangan 20 tahun yang lalu berbeda dengan tantangan sekarang dan yang akan datang. Tetapi pesannya tetap sama yakni Damai. Ini hal yang sangat prinsip, damai itu urusan hati bukan urusan bibir. Dalam kedamaianlah kita bisa melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya dengan tujuan yang mulia dikalangan kepala sekolah dan para guru bertujuan bercita-cita melahirkan anak didik yang berkualitas. Kalau kita bicara tentang pendidikan ya pendidikan yang berkualitas.

“Pendidikan yang berkualitas itu apa? Melahirkan anak yang cerdas secara intelektual, cerdas secara sosial, cerdas secara spiritual, tidak sekedar pintar tetapi dia harus menjadi manusia yang cerdas dan kita semua tahu peran kepala sekolah, para guru itu sangat penting, strategis dan menentukan. Karena itu sejak dulu saya tidak setuju Kepala sekolah didefinisikan sebagai guru dengan tugas tambahan. Kepala sekolah dipandang sebagai tugas tambahan dari seorang guru, padahal seorang kepala sekolah memegang peranan yang sangat penting yakni mesti melaksanakan tugasnya sebagai manajer untuk mengelola pendidikan di Unit yang bersangkutan. Dan patut bersyukur karena sudah ada peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2017 kepala sekolah disebut sebagai manajer tidak lagi disebut sebagai guru dengan tugas tambahan” pungkas Frans.

Menurut Frans, Merayakan natal dikalangan para kepala sekolah, guru dan para siswa tentu ingin mengembalikan hati yang damai di semua level yakni kepala sekolah, guru, tenaga administrasi, para siswa damai di hatinya. Karena itu sekolah harus menciptakan suasana damai. Para pendiri republik ini menyebut sekolah sebagai taman siswa, mengapa taman? Karena suasan pendidikan harus suka cita, harus bergembira. Diharapkan kita harus mengembalikan sekolah itu sebagai taman membuat semua orang yang datang ke sekolah dengan penuh sukacita; kepala sekolah, para guru, tenaga administrasi, para siswa datang ke sekolah dengan senang hati dengan gembira mengikuti seluruh proses kegiatan belajar mengajar dengan sukacita supaya hasilnya juga penuh sukacita.

“Saya senang merayakan natal. Secara kalender memang Natal sudah selesai tetapi merayakan natal itu perlu terus menerus.  Suasana Natal adalah kesempatan bagi semua orang yang hadir untuk memberi dan menerima suka cita. Dengan begitu maka pasti terciptalah kedamaian di hati. Untuk bisa melaksanakan tugas sebagai kepala sekolah, guru dan juga siswa dengan baik manakala suasana di lingkungan pendidikan damai, aman dan nyaman. Bayangkan seorang nenek tua di kota Kupang ini setiap pagi dia menjajakan jualannya dari pintu ke pintu untuk dia bisa hidup hari itu. Jika kota ini jauh dari kedamaian maka nenek tua itu tidak akan bisa hidup hari itu. Maka saya senang para Kepala sekolah dan guru mau melaksanakan acara Natal bersama ini agar kita diingatkan akan pentingnya Damai. Damai di hati membuat kita semua mampu untuk bekerja lebih keras, bekerja lebih cerdas dan bekerja tuntas untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara”, pinta Frans. (Jose-Oscar).

Comments
Loading...