DPRD NTT dan Polsek Fatuleu Dukung Forum Peduli Guru Tangani Kasus Pemukulan Guru

Dibaca 93 kali

Forum Peduli Guru Bersama Kadis P & K (Tengah)

Faktahukumntt.com -FATULEU KUPANG

Tindakan premanisme di dalam ruang kelas di SMA Negeri 1 Fatuleu pada tanggal 3 Maret lalu di Kabupaten Kupang yang dilakukan oleh tiga pelajar berinisial CYT (19) OK (19) dan YCVPH terhadap guru Bahasa Indonesia bernama Yelfred Malafu, dikutuk dan dikecam oleh Pimpinan dan anggota DPRD Komisi V.

Kecaman dan kutukan terhadap pelajar yang berkarakter premanisme disampaikan oleh Wakil Ketua II Komisi V Kristien Samiyati Pati (Nasdem), anggota Yan Piter Windi (Gerindra), Anawahana Kolin (PKB), Edwar Liu (Hanura). Kutukan terhadap tindakan premanisme ini disampaikan dalam rapat bersama Forum Peduli Guru NTT,(FPG) pimpinan Beny Mauko dkk di ruang Komisi V pada Jumat (6/3).

“Menurut Ana Kolin pengeroyokan oleh tiga siswa di SMA N 1 Fatuleu adalah kejahatan kemanusiaan. Karena ini kejahatan extraordinary maka harus disikapi secara sigap oleh seluruh komponen karena ini persoalan pidana.

Ruang SMAN 1 Fatuleu Bersama Kadis P & K Prov NTT, Korban (Pegang mic)

Untuk itu, atas nama Komisi V DPRD NTT kami minta Kepolisian khususnya Polsek Fatuleu harus memproses dan menghukum para pelaku sesuai UU yang berlaku atau pidana”, tegas polutisi PKB itu.

“Tidak boleh main-main soal kasus ini, karena martabat guru di seluruh Indonesia sedang terinjak oleh siswa maupun orangtua wali dan berlindung dibalik Ham. Maka pengawalan proses hukum terhadap kasus ini harus tuntas supaya memberi efek jerah dan menunjukan ke masyarakat Indonesia, NTT dan lebih khusus Kabupaten Kupang bahwa guru bukan malaikat dan juga dilindungi oleh HAM juga.

Baca Juga :  Ingat.! Setiap Tanggal 11-15 Bantuan Kuota Internet dari Nadiem Cair

Kejadian ini harus tuntas supaya tidak perlu terulang lagi guru mati, ataupun dipukul karena melaksanakan tugas dimana mencerdasakan anak bangsa sesuai perintah UUD. Mari semua pihak harus bisa melindungi keberadaan guru dalam kelas dan mereka juga harus terjamin keamanan mereka ketika melaksanakan tugas mengajar.

Sementara Wakil Ketua II DPRD NTT, Petrus Christian Mboek, yang ditemui FPG pimpinan Beny Mauko dkk di ruangannya sebelum bertemu Komisi V menyampaikan bahwa ia mendukung proses hukum hingga tuntas di Polsek Fatuleu karena ia akan kawal khusus.

Karena perkembangan teknologi saat ini, maka apresiasi masyarakat maupun siswa terhadap guru makin hari makin rendah. Padahal tanpa guru, maka semua pihak juga tidak akan bisa buat apa-apa”, tegas politisi Nasdem ini.

Baca Juga :  Gelar Diskusi Akhir Tahun, Inilah Rekomendasi BMPS Mengenai Pembangunan Pendidikan NTT Tahun 2020

“Mau sehebat apapun perkembangan teknologi sehingga membuat orang mudah mengakses segala sesuatunya tetapi guru adalah segalanya. Karena menjadi guru tidak sekedar mentransfer knowlidge tetapi ada upaya mendidik yang tidak ada di manapun kecuali guru.

Untuk itu, ia meminta pemerintah khususnya Kepala Dinas Pendidikan NTT Benyamin Lola harus tegas. Supaya memberi efek jerah agar masyarakat pelajar tidak boleh seenaknya menyerang guru secara membabibuta. Karena gurulah yang membentuk dan meletakan dasar pengetahuan dan knowlidge siapapun di kolong langit ini.

Ia juga mendukung Polsek Fatuleu supaya menuntaskan kasus ini. Proses perdamaian secara adat dan kekeluargaan boleh berjalan tetapi proses hukum pidana terhadap pelaku kejahatan harus jalan terus. Proses hukum tetap harus berjalan sesuai koridor tanpa tekanan dari pihak manapun”, pungkas mantan Wapemred Suara pembaharuan itu.

Sementara Anton Woda, Kapolsek Fatuleu, yang ditemui VN bersama FPG mengatakan menjamin proses hukum tetap berjalan walaupun ada perdamaian secara kekeluargaan dari keluarga Yelfred Malafu, maupun keluarga pelaku kekerasan.

Baca Juga :  Tumbuhkan Karakter Anak Bangsa Sejak Dini untuk Mencintai Lingkungan Hidup

Kepolisian Polsek Fatuleu tetap menjamin hak pendidikan dari para pelaku pengeroyokan untuk mengikuti ujian semester. Tetapi proses hukum tetap jalan karena kami bisa menggunakan seragam polisi juga karena guru.

Proses pidana terhadap 3 orang prlaku akan tetap berjalan, karena 2 orang pelaku itu sudah berusia 19 tahun. Jadi silahkan berdamai secara kekeluargaan menutut adat tetapi proses hukum akan tetap berjalan”, pungkas Anton Wodo.

Sementara Benyamin Lola selaku Kadis Pendidikan mendukung FPG NTT untuk berempati pada Yelfred Malafu tetapi harus sesuai koridor supaya tidak memunculkan persoalan baru.

Sementara Ketua Forum Peduli Guru NTT Beny Mauko mengapresiasi Wakil Ketua II dan pimpinan DPRD khususnya Komisi V dan Polsek Fatuleu. Karena apa yang dilakukan oleh FPG adalah melindungi martabat guru-guru di Indonesia dan NTT yang sedang diinjak.

Karena itu, semua pihak harus memberi perhatian supaya marwah pendidikan, kehormatan guru, keselamatan guru, dan kenyamanan dalam melaksanakan proses KBM tidak terganggu”, pungkas Beny. (*/HM)

Tulisan ini berasal dari redaksi

Comment