HUT ke-70 GPIB: Pemuda Gereja Provokator Damai

Dibaca 463 kali

Jakarta (faktahukumntt.com), Dalam rangka HUT ke-70 GPIB pada 31 Oktober 2018, Dewan GP GPIB dan Departemen GERMASA GPIB menilai penting untuk merayakan secara khusus, dengan menjadikannya sebagai momentum untuk merefleksikan kembali keberadaan GPIB kini dan ke depan menurut pengalaman dan perspektif pemuda.

Bertepatan dengan itu, setiap tanggal 28 Oktober bangsa Indonesia merayakan Hari Sumpah Pemuda, suatu momentum besar bangsa untuk merenungkan kembali nasionalisme Indonesia di tengah tantangan terkini dan yang akan datang. Merefleksikan kedua momentum ini secara bersamaan merupakan suatu langkah penting bagi pemuda-pemudi GPIB lewat kegiatan Study Meeting dengan tema Potensi & Tantangan Pemuda dalam rangka Pembangunan Indonesia berlandaskan Pancasila, UUD 45 dan Bhineka Tunggal Ika.

Baca Juga :  Presiden Sebut Indonesia Berkomitmen Wujudkan Perdamaian di Afghanistan

Hadir sebagai Narasumber Korneles Galanjinjinay, Ketua Umum GMKI Periode 2018-2020, Grace Natalie, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia dan Pdt. Jacky Manuputty, Asisten Utusan Khusus Presiden untuk Dialog Antar Agama & Peradaban.
Menurut Korneles, “Pemuda Gereja terlalu banyak diam, menjadi silent majority daripada isu-isu dan masalah intoleransi. Pemuda Gereja perlu mengkonsolidasikan kekuatan untuk melawan isu-isu hoax dan masalah-masalah intoleransi”.

Pemuda Gereja harus menjadi Garam dan Terang Dunia lewat keaktifannya dalam proaktif berkomunikasi dan berinteraksi dengan semua elemen kebangsaaan untuk menjaga Indonesia dari serangan radikalisme dan terorisme, pungkas Korneles Galanjinjinay.

Baca Juga :  Menko Polhukam Ajak Masyarakat Gelorakan Budaya Bahari di Hari Nusantara

Grace Natalie juga mengungkapkan bahwa Pemuda Gereja tidak boleh alergi politik karena politik adalah jembatan menuju keadilan dan perdamaian. “Saya terinspirasi dengan pak Ahok dan pak Jokowi untuk berjuang mewujudkan keadilan, kesejahteraan dan perdamaian melalui jalan politik”.

Pdt. Jacky Manuputty selaku Asisten Utusan Khusus Presiden untuk Dialog Antar Agama & Peradaban juga mengungkapkan bahwa “Pemuda Gereja harus menjadi provokator damai. Bukan provokator hoax. Pemuda Gereja harus mampu menggerakkan masyarakat untuk mewujudkan perdamaian dan keadilan melalui instrument sosial media. Contoh salah satunya Gerakan Save, yang mampu mempengaruhi kebijakan dan kuasa politik-pemerintahan”.

Baca Juga :  Yohanes Keso: SD Santo Yoseph Melaksanakan Ujian Online Berbasis Komputer

Kegiatan study meeting ini merupakan rangkaian acara HUT ke 70 GPIB ini juga diharapkan Memperkuat persekutuan dan pergerakan pemuda GPIB melalui upaya mengidentifikasi potensi dan tantangan masing-masing, dan melakukan analisas sosial peta situasi dan kondisi pemuda GPIB pada umumnya. Memperkuat kepekaan dan kepedulian GP GPIB terhadap berbagai masalah sosial yang terjadi kini dan ke depan. (cmtk)

Tulisan ini berasal dari redaksi
Tetap terhubung dengan kami:

Comment