LITERASI JATIDIRI SMP NEGERI 1 NUBATUKAN MENEGAKKAN KRAKTER PENDIDIKAN

Dibaca 4 kali

LEMBATA-FHI, Kiat Menegakkan Disiplin literasi ‘’JATIDIRI’’ bagi siswa-siswi SMP Negeri 1 Nubatukan merupakan tujuan literasi kiat menegakkan karakter dan budi pekerti disiplin di sekolah. Yustina Luku sebagai kepala Sekolah harus kreatif dan Patriotisme. Hal di sampaikan pada malam pementasan seni budaya di aula utama Kopdit ANKARA Lamahora. Yustina menyampaikan sambutan di hadapan Bupati Lembata,para SKPD/OPD  dan para orangtua wali murid yang hadir menyaksikan malam Literasi seni budaya.

Lanjut Yustina,  kegiatan ini merupakan dukungan dan kerjasama baik dari anak-anak dan para Guru serta tenaga kependidikan . Saya tahu bahwa anak-anak kita harus diberi bekal yang matang dalam membina emosional dan krakter  serta disiplin ilmu yang harus berawal dari akar pengetahuan yang anak-anak miliki, ungkap Yustina. (20/12/2017)

Anak-anak kita luar biasa  memilki kemampuan yang saat berkembang sesuai dengan berjalannya arus media teknologi. Dengan demikian dari pihak sekolah harus melati dan mendidik anak-anak lembata dengan kemampuan emosional ilmu yang di tanam dari dasar, ungkap Yustina.

Yustina menguraikan  lagi jenis gerakan mutan lokal (MULOK)  budaya dan seni yang ditampilkan pada malam itu mementaskan ; group paduan  seni suara, seni baca puisi, seni busana   lokal karya tenunan motif sembilan (9)  kecamatan di kabupaten lembata. Tenunan tersebut merupakan karya tangan terampil perempuan lembata.  Ada  juga kain sarung motif  tetunan dari daerah NTT Pada umumnya. Dari pihak sekolah bersama komite menampilkan kepada publik  yang utama adalah nilai budaya literasi yang merupakan sifat lokal  yang harus ada dan tumbuh dalam jiwa anak-anak.

Kita tidak mencari pujian namun kita memperlihatkan secara dekat kepada orangtua dan Bupati Lembata dan wakil Bupati bahwa program gerakan literasi  ‘’anak tulis anak  baca anak cerdas’’. Anak baca pengetahuan dari berbagai peran media budaya bahasa lokal yang menciptakan busana busana lokal yang mengankat nama Lembata kedunia pendidik mulok nasional. Mata pelajaran mulok disekolah harus masuk dalam kurikulum. Terutama bahasa daerah,pakaian daerah. Pendidikan muatan lokal didalam kelas harus di ajarkan kepada anak-anak sehingga perkembangan dunia indutri pariwiasata pada lemabata semakin hari bertumbuh dari jiwa anak-anak yang tahu menghargai nilai diri dan sifat karakter masyarakat  lembata.

Pada malam itu juga Bupati lembata Eliaser Yentji Sunur diberi kesempatan untuk me-launching buletin majalah CERIA karya literasi anak-anak. Buletin CERIA merupakan kerjasama para guru dan anak-anak yang bertujuan untuk mengisi kreatif untuk melati menulis dari hal yang sederhana menjadi sederhana.

Dalam sambutan Bupati Yentji Sunu, berkomitmen  agar buletin Majalah CERIA ini harus ceria terus dalam pikiran anak-anak. Sunur mengajak untuk lebih membudayakan baca suatu tulisan, karena pada dasarnya orang lembata belum termotifavi untuk baca suatu tulisan hampir tidak berakar . Dan, hal ini menggambarkan  bawah budaya   baca dari dalam diri sendiri tidak ada. Apa  lagi budaya tulis itu pasti sama sekali tidak tercipta. Kita disini ada  budaya gosip dan budaya iri  lebih  di utamakan, ungkap Sunur.

Dari hasil liputan Wartawan FHI pekan lalu dari pembicaraan Bupati Lembata bahwa, anak-anak harus diberi mulok jurnalistik. Dalam mulok ini anak akan diperkaya cara menulis yang baik dengan kosa kata yang sederhana, kata Sunur.

Lanjut Sunur, guru-guru juga harus tahu menulis jangan guru tidak tahu menulis tetapi memaksa anak-anak untuk menulis. Didikan guru harus tahu menulis, saat ini tuntutan kenaikan pangkat atau jabatan Guru harus memiliki karya tulis. Dengan demikian guru harus lebih cerdas dan tahu  menulis. Pemerintah pusat dalam hal ini kementrian Pendidikan saat ini sudah memberikan uang yang begitu banyak untuk biaya pendidikkan anak-anak. Tugas Guru sekarang manfaatkan Gedung sekolah, fasilitas perpustakaan dan labor bahasa, komputer, studio internet yang dibangun  dari dana  pemerintah untuk dapat dipergunakan sebaik-baiknya, tegas Sunur.

“Bagi anak-anak kita harus tetap menulis. Inspirasi anak harus dituangkan diatas kertas jangan diungkapkan di tembok-tembok yang mengotori dinding toko-toko atau pagar dikota lewoleba”, ungkap Sunur.

Setiap  anak harus memiliki buku bacaan setiap hari atau majalah atau koran yang menjadi literasi. Bukan saja membaca tapi tuangkan pikiran anda dengan tulisan yang sederhana. Bupati juga menambakn lagi saat ini eletronik semakin berkembang sehingga anak-anak harus dewasa dalam mempergunakan secara baik.

Kepada orangtua Bupati mengajak agar orangtua yang membesarkan anak merupakan tugas utama, tetapi perhatikan juga prilaku anak-anak untuk menghormati jati diri. Karena jati diri anak-anak bangsa sekarang banyak masuk dalam jurang; jalan yang memaksa untuk mengingkari jati diri. Untuk itu tugas dan tanggung jawab orangtua adalah pintar dan bijak menganalisa sifat lingkungan sekitar anak sehingga tidak membuat orangtua bingung dalam mengontrol anaknya.

Harapan Bupati kepada para pendidik dan anak-anak didik SMPN 1 Nubatukan untuk selalu menghormati diri sebelum menghargai orang lain. Karena sebuah lembaga pendidikkan adalah lembaga bijaksana, ungkap Yentji Sunur, Bupati Lembata. Salam  literasi. (ROFINUS)

Tulisan ini berasal dari redaksi

Comment