Informasi Terupdate Hari Ini

Catatan Pertama tentang PILPRES

0 76

Opini

Jokowi & lingkarannya memang lihai, bukan karena berpasangan dgn Kyai Ma’ruf amin atau mementalkan Prof Mahfud di detik-detik terakhir, tetapi cakap & cerdik mengacaukan lawan tandingnya. Kecerdikan itu dimulai dengan menarik TGB sebagai peluncur memperkuat posisi politik Jokowi dari sisi penguatan isu & saat yang sama melemahkan internal Partai Demokrat.

Koalisi Prabowo-SBY yang hari-hari kemarin dirancang demikian apik, berubah berantakan. Andi Arif yang secara politik berpatron sama SBY sejak zaman aktivisnya di Jokja, mengeluarkan pernyataan mengejutkan tentang istilah baru di jagat tanah air menyebut sang jenderal KARDUS.

Istilah kardus bermakna tempat penyimpanan uang atau bahkan bisa dimaknai kardus itu sarana penyimpanan uang hasil pencucian (jika benar). dihubungkan dengan rangkaian pernyataan Andi Arif bahwa PAN, PKS dibayar masing-masing 500 Milyar, maka kardus yg bermakna tempat penyimpanan uang yang mudah dan tenteng dapat diterima secara logis.

Pernyataan Andi Arif itu adalah sebuah pesan politik yang menegasikan lebih awal keretakan Koalisi Prabowo-SBY. Dugaan saya, pesan politik Andi Arif itu adalah jawaban kecerdasan Andi Arif mengintai permainan para pihak yang sebarisan diluar pagar. Pasca itu, Jokowi dengan sejumlah Partai pengusung mengumumkan Kyai Ma’ruf Amin sebagai Cawapres.

Benarkah memilih Kyai Makruf Amin hanya karena faktor NU?

Bagi saya bukan semata soal itu. Jokowi & PDIP berkepentingan memenangkan dua pertarungan yakni menang Pilpres & menang pemilu legislatif. Apa hubungan dengan Kyai Makruf Amin dalam konteks misi itu?

Memilih berpasangan dengan Kyai Makruf Amin adalah strategi mematikan potensi perlawanan ummat Islam pasca tumbalnya Ahok dalam Pilkada DKI. Bagaimanapun, jika menarik ke belakang, bahwa akar utama tumbalnya Ahok bermula dari Fatwa MUI. Jokowi & PDIP telah selesai menjawab potensi kemungkinan terulang 212 dgn menggandeng Kyai Makruf Amin.

Faktor NU, tentu saja menjadi alasan pertimbangan memilih Kyai Makruf Amin, tetapi tidak terlalu signifikan mengantarkan Jokowi ke singgasana kursi Presiden periode ke 2. Kenapa? Mega yang berpasangan dengan Kyai Hasim Mujadi dlm Pilpres yang lalu justeru terpental jauh dari pasangan SBY-JK.

Memang Jokowi keren dari sisi strategi mengacaukan lawan. Nampaknya, SBY yang selama ini diyakini banyak pihak sebagai monster Jokowi maupun PDIP Diujungnya meratapi kesulitan. Mungkinkah Prabawo rujuk kembali dengan SBY pasca tamparan Andi Arif menyebut Jenderal Kardus?

Dari pada maju kena, mundur kena, lebih baik maju mundur cantik seperti lagu Syahrini.(NN)

Comments
Loading...