Universitas San Pedro Buka Akses Kerja Internasional, Wakil Rektor III: Skill dan Bahasa Jadi Penentu
FHC, Universitas San Pedro terus memperluas peluang bagi mahasiswa dan generasi muda Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memasuki pasar kerja global. Melalui kerja sama dengan ZME GIZ Indonesia dan ASEAN, kampus tersebut menggelar Sosialisasi Peluang Kerja Luar Negeri bertema Karier Global di Kota Kupang, Senin (9/6).
Kegiatan yang dihadiri 155 peserta itu menjadi langkah nyata Universitas San Pedro dalam membuka akses kerja internasional, khususnya ke Jerman. Sosialisasi tidak hanya diikuti mahasiswa Universitas San Pedro, tetapi juga melibatkan sejumlah perguruan tinggi di Kota Kupang yang turut mengirimkan mahasiswa dan dosen pendamping.
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Universitas San Pedro, Timotius Ajito, S.Pd., M.Pd., mengatakan kerja sama dengan GIZ merupakan bagian dari upaya kampus menghadirkan solusi konkret terhadap tantangan ketenagakerjaan yang dihadapi lulusan perguruan tinggi dan generasi muda NTT.
Menurutnya, kerja sama tersebut tidak berhenti pada penandatanganan dokumen kemitraan, melainkan langsung diwujudkan dalam berbagai program yang memberikan akses dan informasi kepada masyarakat mengenai peluang kerja di luar negeri.
“Universitas San Pedro menjalin kerja sama dengan GIZ yang merupakan salah satu lembaga dari Jerman. Kerja sama ini bertujuan membuka kesempatan bagi mahasiswa dan masyarakat untuk bisa bekerja di luar negeri. Kami tidak hanya menjalin kerja sama, tetapi langsung mengimplementasikannya melalui kegiatan sosialisasi seperti ini,” kata Timotius.
Ia menjelaskan bahwa program Karier Global dirancang untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai peluang kerja yang tersedia di Jerman sekaligus persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon tenaga kerja.
Kesempatan tersebut, kata dia, tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa Universitas San Pedro, tetapi terbuka bagi seluruh masyarakat NTT yang memiliki keinginan untuk bekerja di luar negeri melalui jalur resmi dan sesuai prosedur.
“Putra-putri NTT tidak hanya mahasiswa San Pedro. Seluruh masyarakat NTT yang memiliki minat bekerja di Jerman dapat memanfaatkan peluang ini. Melalui sosialisasi ini mereka memperoleh informasi yang benar mengenai proses dan persiapan yang harus dilakukan,” ujarnya.
Timotius menilai peluang kerja di luar negeri menjadi salah satu alternatif penting di tengah meningkatnya jumlah pencari kerja dan terbatasnya lapangan pekerjaan yang tersedia di dalam negeri.
Ia menyinggung masih banyak lulusan perguruan tinggi yang belum terserap dunia kerja. Karena itu, akses terhadap pasar kerja internasional dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperluas pengalaman kerja generasi muda NTT.
“Dengan adanya kerja sama bersama GIZ ini, peluang bagi putra-putri NTT untuk bekerja di Jerman sangat terbuka. Ini menjadi kesempatan yang harus dimanfaatkan dengan baik karena prosesnya dilakukan secara resmi dan prosedural,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Timotius juga menekankan bahwa keberhasilan seseorang memperoleh pekerjaan di luar negeri tidak hanya ditentukan oleh ijazah atau gelar akademik yang dimiliki.
Menurutnya, dunia kerja global lebih menekankan pada kompetensi, keterampilan, serta kemampuan beradaptasi dengan tuntutan pekerjaan dan lingkungan internasional.
“Kuliah jangan hanya untuk mengurus ijazah. Mahasiswa harus mengasah kompetensi, skill, dan life skill mereka. Karena bekerja di Jerman bukan soal ijazah semata. Dunia kerja membutuhkan kemampuan yang benar-benar bisa diterapkan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa ijazah hanya menjadi bukti seseorang pernah menempuh pendidikan tinggi. Namun, kemampuan berpikir kritis, keterampilan teknis, etos kerja, dan kemampuan komunikasi menjadi faktor yang lebih menentukan dalam persaingan kerja global.
Karena itu, penguasaan bahasa asing menjadi syarat yang tidak bisa diabaikan. Timotius menyebutkan bahwa kemampuan berbahasa Jerman merupakan salah satu persyaratan utama bagi tenaga kerja yang ingin bekerja di negara tersebut.
Selain bahasa Jerman, kemampuan berbahasa Inggris juga menjadi nilai tambah yang sangat penting untuk mendukung komunikasi dan adaptasi di lingkungan kerja internasional.
“Skill dan bahasa menjadi penentu. Untuk bekerja di Jerman, seseorang wajib memiliki kemampuan bahasa Jerman. Bahasa Inggris juga sangat membantu. Negara seperti Jerman memiliki standar yang ketat sehingga calon pekerja harus benar-benar mempersiapkan diri,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa negara-negara maju seperti Jerman dan Jepang menerapkan proses seleksi yang ketat terhadap tenaga kerja asing. Oleh karena itu, calon pekerja harus memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri serta kemampuan bahasa yang memadai.
Sebagai bentuk dukungan terhadap kebutuhan tersebut, Universitas San Pedro berencana menyediakan program kursus bahasa Jerman bagi mahasiswa dan masyarakat umum yang ingin mempersiapkan diri bekerja di luar negeri.
Saat ini kampus tersebut belum memiliki program bahasa Jerman secara formal dalam kurikulum akademik. Namun, pihak universitas telah menyiapkan langkah untuk menghadirkan pelatihan bahasa sebagai bagian dari program pendampingan calon tenaga kerja.
“Untuk saat ini kami memang belum memiliki program bahasa Jerman secara khusus. Tetapi kami akan menyediakan kursus bagi para peserta sebagai wadah pembelajaran dan persiapan sebelum mereka mengikuti program kerja ke Jerman,” jelasnya.
Tidak hanya itu, Universitas San Pedro juga akan membuka program pelatihan bagi calon tenaga kerja yang ingin mengikuti peluang kerja internasional melalui jalur kerja sama yang telah dibangun bersama mitra dari Jerman.
Program tersebut akan terbuka tidak hanya bagi mahasiswa Universitas San Pedro, tetapi juga bagi masyarakat NTT yang ingin meningkatkan kompetensi dan mempersiapkan diri memasuki pasar kerja global.
Melalui kolaborasi dengan GIZ dan berbagai program pengembangan kompetensi yang disiapkan, Universitas San Pedro berharap semakin banyak generasi muda NTT yang mampu bersaing di tingkat internasional. Kampus tersebut juga berkomitmen menjadi jembatan bagi lahirnya sumber daya manusia unggul yang tidak hanya memiliki pendidikan formal, tetapi juga keterampilan dan kemampuan bahasa yang dibutuhkan dunia kerja global.
