Mengubah Stigma Miskin Melalui Pengembangan Pertanian dan Ketahanan Pangan

Dibaca 11.1K kali Reporter : Maria verified

Gubernur VBL didampingi Bupati Kupang Korinus Masneno saat melakukan panen raya di Kabupaten Kupang. Gbr. dok.humaskabkpg

KUPANG, faktahukumntt.com – 31 Desember 2021

Perlahan tapi pasti, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai mengubah stigma provinsi miskin dan tertinggal. Hal ini terbukti dimana NTT dipercaya menjadi kawasan lumbung pangan dalam program food estate yang mendukung ketahanan pangan nasional.

Pada dasarnya Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki beranekaragam tanaman pertanian yang unggul dan dapat dijadikan sumber pendapatan bagi masyarakat seperti jagung, umbi-umbian, kacang-kacangan, dan berbagai jenis sayuran.

Keadaan alam yang kaya dan beraneka ragam tumbuhan pangan perlu untuk di lestarikan dan di kembangkan melalui program-program pemerintah, khususnya dalam meningkatkan sektor Pertanian guna peningkatan ekonomi masyarakat, yaitu tertuang dalam visi dan misi NTT Bangkit NTTSejahtera.

Menurut Wakil Gubernur NTT, Josef Nai Soi dalam suatu kesempatan mengatakan bahwa untuk mengolah sumber daya alam yang ada di NTT dibutuhkan tiga komponen utama dan penting dalam mewujudkan ketahanan pangan, menjaga stabilitas dan maupun pasokannya.

Manusia menjadi salah satu komponen utama dan penting dalam mewujudkan ketahanan pangan, menjaga stabilitas dan pasokannya. Oleh karena itu, hal pertama yang sudah dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT ialah membangkitkan kemauan masyarakat lokal untuk tidak hanya bertani, tapi juga berkebun dan berternak. Itu karena pangan tidak selalu datang dari sektor pertanian. Jadi harus mix (digabung), sehingga ketahanan pangan bisa terjamin.

Baca Juga :  Konser Musik dengan Konsep Drive-In pada Puncak Peringatan HUT Ke-3 Kepemimpinan Firmanmu

Selanjutnya, komponen kedua ialah tanah dan air. NTT potensial menjadi kawasan lumbung pangan karena ketersediaan lahan yang luas. NTT memiliki lahan seluas 837 ribu hektare.

Komponen ketiga, yaitu pengelolaan produk pangan. Hal ini berkaitan dengan pengetahuan yang dimiliki oleh sumber daya manusia penggarap. Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat, Pemprov NTT melakukan beragam sosialisasi. Salah satu daerah yang menghasilkan pertanian dan memiliki ketahanan pangan yang mumpuni adalah Kabupaten Kupang yang merupakan salah satu kabupaten yang memiliki wilayah yang luas.

Komponen ketiga, yaitu pengelolaan produk pangan. Hal ini berkaitan dengan pengetahuan yang dimiliki oleh sumber daya manusia penggarap. Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat, Pemprov NTT melakukan beragam sosialisasi, pelatihan dan penyuluhan.

Baca Juga :  Kepolisian Resor Ende Lakukan Pengamanan Ibadah Sholat Idul Fitri 1 Syawal 1443 Di Ende

Dengan berjalannya tiga komponen tersebut, potensi pengembangan pangan di NTT dapat diwujudkan.

“Waktu pertama kali kami datang ke NTT,  kami lihat banyak lahan kami yang tidur. Tapi sebenarnya bukan lahan yang tidur, manusianya yang tidur. Oleh sebab itu kami minta masyarakat NTT jangan tidurkan lahan, bangkit, bangunkan lahan supaya tidak tidur. Kita mulai lakukan program yang namanya tanam padi, tanam jagung, panen sapi,” ucap Josef.

Pemprov NTT berupaya mengubah mentalitas masyarakat dalam menyikapi pangan. Bila sebelumnya masyarakat bertani, berkebun, dan berternak hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, maka saat ini didorong pula untuk meningkatkan taraf ekonomi penggarap.

Pemprov NTT memandang perlu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat untuk mengentaskan mereka dari kemiskinan.

Saat ini, Pemprov NTT tengah melakukan pengembangan lahan pertanian melalui program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) sebagai bentuk dukungan terhadap program food estate.

Baca Juga :  Ketua BPD GBI NTT Menegaskan GBI Wajib Mendukung Semua Program Pemerintah Kabupaten Kupang

Pengembangan lahan food estate tidak hanya berdampak terhadap peningkatan produksi padi dan jagung, namun juga pengembangan sektor peternakan di NTT, sehingga hasil panen petani meningkat dan mendorong petani untuk menanam dua hingga tiga kali setiap tahun.
Program Pemprov NTT ini mendapat dukungan dari BPTP NTT melalui kegiatan Pendampingan Inovasi dalam Pengembangan Kawasan Pertanian di Perbatasan terus melakukan pendampingan baik dengan memberikan pelatihan (Bimtek) tentang budidaya aneka sayur, ternak, dan tanaman pangan, juga menampilkan teknologi melalui demplot. Kegiatan di kawasan perbatasan dilakukan di lima kabupaten di Timor, yaitu Kabupaten Malaka, Belu, TTU, TTS, dan Kupang.

Kegiatan dari BPTP NTT ada tiga, yaitu Pendampingan Inovasi dalam Pengembangan Kawasan Pertanian di Perbatasan, Perbenihan dan Pengembangan Tanaman Jagung, dan Hilirisasi Teknologi dan Inovasi Ternak Sapi.

Dengan demikian melalui Pengembangan Pertanian dan Ketahanan Pangan menjadikan provinsi NTT sebagai lumbung pangan dan mendukung ketahanan pangan Nasional.

Tulisan ini berasal dari redaksi
Tetap terhubung dengan kami:

Comment