Agustinus mengungkapkan bahwa setelah berpindah dari Komisi III ke Komisi X pada Januari 2026, Stefano mulai melakukan pemetaan berbagai persoalan pendidikan tinggi di NTT.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah berdialog langsung dengan pimpinan sejumlah perguruan tinggi untuk menyerap aspirasi dan mengidentifikasi tantangan yang dihadapi kampus-kampus di daerah.

Hasil pertemuan tersebut menunjukkan sejumlah persoalan mendasar yang masih menjadi hambatan dalam peningkatan mutu pendidikan tinggi, antara lain keterbatasan fasilitas laboratorium, minimnya dukungan infrastruktur pembelajaran, persoalan sertifikasi dosen, hingga keterbatasan akses mahasiswa terhadap bantuan pendidikan.

“Pak Stevano ingin mengetahui secara langsung persoalan yang dihadapi perguruan tinggi, terutama kampus swasta yang selama ini menjadi tulang punggung pendidikan tinggi di NTT,” ujarnya.

Dalam konteks pembangunan SDM, Agustinus menilai keberadaan teknologi kecerdasan buatan atau AI harus dimanfaatkan sebagai instrumen pendukung peningkatan kualitas pembelajaran, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir kritis mahasiswa.