Buka Forum FKIP Negeri Se-Indonesia, Gubernur NTT: Guru Tetap Jadi Kunci Utama di Tengah Disrupsi AI dan Teknologi Digital

FHC, Di tengah derasnya arus transformasi digital dan perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, peran guru dinilai tetap menjadi elemen paling menentukan dalam masa depan pendidikan Indonesia. Pesan itu menjadi sorotan utama saat Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, membuka Pertemuan Sela Forum Komunikasi (Forkom) Pimpinan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Negeri Se-Indonesia di Kota Kupang, Kamis (4/6/2026).

Forum nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Nusa Cendana tersebut mempertemukan para dekan dan pimpinan FKIP dari 32 perguruan tinggi negeri di Indonesia. Mengusung tema *“Paradigma Pembelajaran di Era Digital dan Society 5.0: Urgensi Deep Thinking Skills dan Deep Learning Approach dalam Transformasi Pendidikan Calon Guru”*, kegiatan ini menjadi ruang strategis untuk merumuskan arah baru pendidikan guru di Indonesia.

Dalam sambutannya, Gubernur Melki menegaskan bahwa dunia pendidikan sedang berada pada titik perubahan yang sangat menentukan. Kemajuan teknologi digital, big data, hingga AI telah mengubah cara manusia memperoleh informasi, berkomunikasi, bekerja, bahkan belajar.

Menurutnya, fenomena tersebut menghadirkan tantangan besar bagi lembaga pendidikan, khususnya institusi pencetak guru. Namun, di balik pesatnya perkembangan teknologi, terdapat satu hal yang tidak dapat digantikan oleh mesin maupun algoritma, yakni peran guru sebagai pendidik dan pembentuk karakter.

“Ke depan profesi guru tetap menjadi profesi yang penting, menarik, dan sangat dibutuhkan. Masa depan pendidikan Indonesia akan sangat ditentukan oleh kualitas para guru yang kita siapkan hari ini,” tegas Melki di hadapan para peserta forum.

Pernyataan Gubernur NTT tersebut mencerminkan pandangan yang kini berkembang di berbagai negara. Kehadiran AI memang mampu membantu proses pembelajaran melalui penyediaan informasi yang cepat, personalisasi materi belajar, hingga otomatisasi berbagai tugas administratif.

Namun, pendidikan tidak semata-mata berkaitan dengan transfer pengetahuan. Pendidikan juga menyangkut pembentukan karakter, empati, etika, kemampuan sosial, serta nilai-nilai kemanusiaan yang hanya dapat ditanamkan melalui interaksi antarmanusia.

Di era Society 5.0, guru dituntut tidak hanya menjadi penyampai materi pelajaran, tetapi juga fasilitator pembelajaran, mentor, inovator, sekaligus penggerak perubahan sosial. Karena itu, kualitas pendidikan guru menjadi isu yang sangat strategis.

Melki menilai transformasi pendidikan calon guru tidak cukup dilakukan melalui pembaruan kurikulum semata. Yang lebih penting adalah membangun kemampuan berpikir kritis (*critical thinking*), pemecahan masalah (*problem solving*), kreativitas, kemampuan berkolaborasi, serta kecakapan memahami konteks sosial yang kompleks.

Kemampuan-kemampuan tersebut dikenal sebagai *deep thinking skills* dan *deep learning approach*, yang menjadi fokus utama dalam forum FKIP tahun ini.

Senada dengan Gubernur NTT, Ketua Forum Komunikasi Pimpinan FKIP Negeri Se-Indonesia, Imam Sujadi, menilai perkembangan AI telah memaksa dunia pendidikan melakukan transformasi menyeluruh.

Menurutnya, perubahan yang terjadi saat ini bukan hanya menyangkut metode pembelajaran, tetapi juga tata kelola pendidikan guru itu sendiri.

“Ketika kita berbicara tentang transformasi pendidikan calon guru, maka yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana tata kelola pendidikan guru juga ikut bertransformasi. Perkembangan kecerdasan artifisial telah mengubah cara manusia belajar dan bekerja,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa FKIP sebagai lembaga pencetak guru memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan tenaga pendidik yang mampu menjawab tantangan zaman. Karena itu, forum nasional seperti ini menjadi penting untuk memperkuat kolaborasi, berbagi praktik terbaik, serta merumuskan kebijakan strategis bagi peningkatan mutu pendidikan nasional.

Sementara itu, Rektor Universitas Nusa Cendana, Jefri Samuel Bale, menekankan pentingnya memperkuat jejaring antar-Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) di seluruh Indonesia.

Menurutnya, salah satu tantangan besar pendidikan nasional adalah masih adanya kesenjangan mutu pendidikan antarwilayah. Oleh karena itu, kerja sama antarperguruan tinggi menjadi instrumen penting untuk mendorong pemerataan kualitas pendidikan.

“Kami percaya bahwa kekuatan jejaring antar-LPTK Negeri se-Indonesia merupakan kunci untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Kita tidak boleh membiarkan kesenjangan kualitas pendidikan terjadi antarwilayah,” kata Jefri.

Pernyataan tersebut relevan dengan kondisi geografis Indonesia yang sangat luas dan beragam. Daerah-daerah di kawasan timur Indonesia, termasuk NTT, masih menghadapi tantangan dalam akses pendidikan, distribusi tenaga pendidik, hingga kualitas sarana pembelajaran.

Melalui forum ini, para pimpinan FKIP diharapkan dapat merumuskan langkah konkret untuk memperkuat kualitas pendidikan guru secara merata di seluruh Indonesia.

Dekan FKIP Undana, Melkisedek Taneo, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut diikuti sekitar 100 peserta yang berasal dari 32 perguruan tinggi negeri di Indonesia.

Ia berharap forum ini dapat menghasilkan rekomendasi strategis yang mampu mempercepat transformasi pendidikan guru nasional. Tidak hanya adaptif terhadap teknologi, tetapi juga mampu melahirkan guru-guru yang inovatif, kompetitif, dan memiliki kemampuan berpikir mendalam.

Penyelenggaraan forum nasional di Kupang juga menjadi momentum penting bagi NTT untuk menunjukkan perannya dalam pengembangan pendidikan nasional. Selama ini, berbagai forum akademik berskala besar lebih banyak berlangsung di wilayah barat Indonesia.

Dengan menjadi tuan rumah Pertemuan Sela Forkom FKIP Negeri Se-Indonesia, Undana sekaligus mempertegas posisi NTT sebagai bagian penting dalam percakapan nasional mengenai masa depan pendidikan.

Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, pesan utama yang mengemuka dari forum ini adalah bahwa teknologi boleh berkembang tanpa batas, tetapi kualitas manusia tetap menjadi faktor penentu. Dan dalam membentuk kualitas manusia tersebut, guru tetap menjadi aktor utama yang tidak tergantikan.