Gerakan Gereja Ramah Disabilitas bukan hanya simbol empati, tetapi sebuah revolusi kultural dalam cara gereja dan masyarakat memandang perbedaan. Dari NTT, sebuah pesan kemanusiaan disuarakan: bahwa kasih Kristus harus hadir tanpa sekat.
Bupati Kupang Yosef Lede menutup sambutannya dengan sebuah seruan yang menyentuh hati:
“Kalau gereja adalah tubuh Kristus, maka kaum disabilitas adalah bagian dari tubuh itu. Kita tidak bisa mengabaikannya. Gereja harus jadi rumah bagi semua.”
Langkah kecil ini mungkin dimulai dari Kupang, tetapi gema kasih dan kesetaraan yang diusungnya bisa menjadi inspirasi besar bagi seluruh Indonesia.
