Bupati Yosef Lede tak hanya urus panen, tapi juga siapkan generasi tahan lapar lewat program MBG, Koperasi Merah Putih, dan pemberdayaan Karang Taruna. Anak muda Kupang, bersiap jadi motor perubahan.
Penulis: Yoseph Bataona (Sekretaris SMSI NTT)
FaktahukumNTT.com, Opini – Mari bicara soal masa depan. Tapi bukan yang muluk-muluk seperti mobil terbang atau kota pintar. Mari bicara tentang masa depan yang paling nyata dan paling penting: tidak lapar.
Itulah visi sederhana namun sangat strategis dari Bupati Kupang, Yosef Lede, dan Wakilnya, Aurum O. Titu Eki. Dalam 100 hari kerja pertama mereka, keduanya tak hanya sibuk membuat program, tapi juga menyentuh akar paling penting dalam pembangunan: perut rakyat dan semangat anak muda.
Coba kita lihat, ada MBG (Makan Bergizi Gratis), program nasional yang kini mulai menjalar ke desa-desa Kupang. Tapi Bupati Yosef tak sekadar menjalankan program pusat. Beliau menyuntikkan gagasan lokal—bahwa makanan bergizi itu harus berasal dari tanah sendiri, bukan kiriman dari luar daerah. Kalau dapurnya di Sulamu, ya panennya juga harus dari Sulamu. Cerdas, kan?
Lalu muncul ide Koperasi Merah Putih, bukan koperasi yang cuma sekadar papan nama. Ini adalah koperasi dengan akses dana sampai 500 miliar rupiah khusus Kabupaten Kupang, yang bisa dipakai untuk membangun kekuatan pertanian, peternakan, bahkan ekonomi kreatif lokal. Dana segede itu? Kalau dikelola baik, bukan cuma lapar yang selesai—masa depan juga aman.
Dan inilah bagian paling keren: anak muda dilibatkan. Karang Taruna, yang biasanya identik dengan kegiatan 17-an dan futsal, kini diberi tanggung jawab besar—mengelola Dana Ketahanan Pangan Desa. Artinya, pemuda desa tak lagi jadi penonton di warung kopi, tapi jadi pelaku utama pembangunan.
