Dari Ruang Kuliah ke Lokasi Proyek, Mahasiswa Teknik Sipil Undana Ditempa Jadi Supervisor Konstruksi Lewat Program Kemanusiaan

FHC, KUPANG – Dunia pendidikan tinggi terus dituntut menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menghadapi persoalan nyata di masyarakat. Tantangan tersebut dijawab Universitas Nusa Cendana (Undana) melalui program kolaboratif bersama Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) yang memadukan praktik konstruksi dengan misi kemanusiaan.

Program tersebut diwujudkan melalui pembangunan ruang Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) Teknik Sipil yang saat ini sedang berlangsung di lingkungan kampus Undana.

Menariknya, proyek tersebut tidak hanya melibatkan mahasiswa dan dosen, tetapi juga para pengungsi internasional yang tinggal sementara di Kota Kupang.

Dalam proyek itu, mahasiswa Teknik Sipil mendapat peran strategis sebagai perancang sekaligus supervisor lapangan. Mereka bertanggung jawab memastikan seluruh tahapan pekerjaan konstruksi berjalan sesuai spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.

Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., yang meninjau langsung proyek tersebut pada Jumat (3/7/2026), menilai program ini menjadi contoh implementasi nyata konsep pembelajaran berbasis pengalaman atau experiential learning.

Mahasiswa tidak lagi hanya belajar dari teori di ruang kuliah, tetapi langsung menghadapi dinamika proyek konstruksi yang sesungguhnya.

Mulai dari perencanaan, pengukuran, manajemen tenaga kerja, pengendalian mutu, hingga penyelesaian masalah di lapangan menjadi bagian dari proses pembelajaran yang mereka alami secara langsung.

Kepala Laboratorium Teknik Sipil Undana, Prof. Dr. Ir. Denik S. Krisnayanti, S.T., M.T., mengatakan proyek tersebut merupakan bagian dari program On Job Training yang dirancang untuk menguji efektivitas pelatihan konstruksi yang telah diberikan kepada para pengungsi.

“Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu teknik sipil secara langsung, sekaligus mengukur hasil pelatihan yang diterima peserta dari IOM,” ujarnya.

Menurut Denik, mahasiswa memperoleh pengalaman penting dalam mengelola proyek dengan kondisi yang berbeda dari simulasi akademik.

Mereka harus berinteraksi dengan peserta yang berasal dari berbagai negara, memiliki latar budaya berbeda, dan menggunakan bahasa komunikasi yang beragam.

Kondisi tersebut menuntut kemampuan kepemimpinan, komunikasi, dan adaptasi yang kuat.

Bagi mahasiswa, pengalaman ini menjadi bekal penting untuk menghadapi dunia kerja yang semakin kompleks dan multikultural.

Di sisi lain, keterlibatan pengungsi internasional dalam proyek ini juga memiliki makna yang tidak kalah penting.

Selama bertahun-tahun, Kota Kupang menjadi salah satu lokasi penampungan sementara bagi pengungsi dari berbagai negara yang menunggu proses penempatan ke negara ketiga.

Dalam masa tunggu yang panjang, banyak dari mereka mengalami keterbatasan aktivitas produktif karena tidak memiliki akses terhadap pekerjaan formal.

Program pelatihan konstruksi yang difasilitasi IOM hadir sebagai upaya meningkatkan kapasitas dan keterampilan mereka.

Melalui proyek pembangunan ruang HMP Teknik Sipil, para peserta memperoleh kesempatan mengaplikasikan keterampilan yang telah dipelajari di kelas dalam kondisi kerja nyata.

Hasil kerja mereka nantinya akan dievaluasi dan menjadi dasar pemberian sertifikat kompetensi.

Dokumen tersebut dapat menjadi nilai tambah ketika mereka memperoleh kesempatan untuk melanjutkan hidup di negara lain melalui program resettlement.

Namun pelaksanaan program juga menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah pengelolaan logistik dan koordinasi pekerjaan.

Yawari, salah seorang peserta, mengaku masih terdapat keterlambatan distribusi material yang memengaruhi ritme pekerjaan.

Ia berharap evaluasi yang dilakukan dapat menghasilkan sistem kerja yang lebih efektif pada pelaksanaan tahap berikutnya.

Menanggapi hal itu, pihak Undana memastikan seluruh masukan akan menjadi bahan evaluasi bersama IOM.

Program tahap kedua bahkan telah dipersiapkan untuk menjangkau kelompok pengungsi lain yang belum memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan.

Kolaborasi antara Undana dan IOM ini memperlihatkan bahwa kampus dapat berperan lebih luas daripada sekadar institusi pendidikan.

Melalui pendekatan yang menggabungkan pendidikan, pembangunan infrastruktur, dan misi kemanusiaan, Undana menghadirkan model pembelajaran yang memberi manfaat ganda.

Mahasiswa memperoleh pengalaman profesional, universitas mendapatkan tambahan fasilitas, sementara para pengungsi memperoleh keterampilan dan harapan baru untuk masa depan mereka.

Di tengah berbagai tantangan global terkait migrasi dan pengungsi, program ini menjadi contoh bahwa kolaborasi lintas sektor mampu menciptakan solusi yang saling menguntungkan dan berorientasi pada kemanusiaan.