Tanpa penghalang, tanpa batas, Presiden menyapa satu per satu warga. Ia bersalaman, mencium tangan orang tua, menepuk pundak anak-anak, dan duduk bersama di tikar yang dibentangkan di tanah. Momen sederhana itu kemudian menjadi simbol bahwa negara—melalui pimpinan tertinggi—tidak berjarak dari mereka yang tengah berjuang pulih dari cobaan.
“Negara hadir di saat kita berkabung, negara hadir di saat kita lemah, dan negara akan terus berdiri bersama kalian,” ujar Presiden Prabowo di hadapan para warga, disambut tepuk tangan riuh meski malam sudah larut.
Suasana pada malam pergantian tahun itu berbeda sekali dari keramaian pesta kembang api di kota-kota besar. Di Batu Hula, warga dan Presiden Prabowo bersama menyanyikan lagu-lagu nasional seperti “Tanah Air” dan “Rayuan Pulau Kelapa.” Suara mereka bergema pelan di udara, seakan menyatukan batin dalam doa dan harapan agar 2026 membawa ketentraman dan kemajuan.
Ibu Sari (45), salah satu warga yang rumahnya rusak parah akibat bencana beberapa bulan lalu, menuturkan bagaimana momen itu memberi kekuatan yang tak terduga. “Kami kehilangan banyak hal. Rumah, ternak, bahkan harapan. Tapi malam ini… ketika beliau duduk bersama kami, menyapa kami, kami merasa tidak sendirian,” ujarnya sambil menahan haru.
