Flores, FHNC – Flores dan Tantangan Energi di Jalur Cincin Api. Sebagai bagian dari jalur Cincin Api Pasifik, Indonesia dianugerahi cadangan energi panas bumi yang melimpah. Di antara sekian wilayah potensial, Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT) menempati posisi strategis. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), terdapat lebih dari 30 titik potensi panas bumi di pulau ini, dengan kapasitas total mencapai sekitar 900 megawatt (MW).

Sejak 2017, Flores bahkan memperoleh predikat sebagai “Pulau Panas Bumi”, simbol harapan besar bagi transisi energi bersih nasional. Namun, ironi masih membayangi: dari potensi hampir seribu megawatt, kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) yang telah beroperasi baru mencapai 18 MWe, jauh di bawah kebutuhan listrik regional yang sebagian besar masih bergantung pada bahan bakar fosil.

Ketergantungan ini bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga berdampak fiskal. Tak kurang dari Rp790 miliar per tahun dana APBN dikeluarkan untuk subsidi dan kompensasi bahan bakar minyak di NTT. Di tengah limpahan energi bersih yang siap dimanfaatkan, fakta ini menjadi potret kontras antara potensi dan realisasi.

Ketika Energi Bertemu Budaya Flores

Di balik lambannya realisasi pengembangan energi panas bumi, muncul tantangan non-teknis yang justru lebih rumit: resistensi sosial dan budaya.

Bagi masyarakat Flores, tanah bukan sekadar sumber ekonomi, melainkan ruang sakral yang menyatu dengan identitas dan leluhur. Ketika aktivitas eksplorasi energi dilakukan tanpa dialog yang bermakna, muncul kekhawatiran akan hilangnya keseimbangan ekologis, perubahan sosial, dan tergerusnya nilai adat.

Kondisi ini disorot dalam Forum Strategis Lintas Sektor yang digelar di Kantor Gubernur NTT pada 28 April 2025. Forum tersebut mempertemukan pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha energi, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil untuk membahas arah baru pengembangan panas bumi di Flores.

Salah satu pembicara utama, Ir. Pri Utami, M.Sc., Ph.D., IPM, pakar geotermal dari Universitas Gadjah Mada (UGM), menekankan bahwa keberhasilan proyek panas bumi tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan investasi, tetapi juga oleh penerimaan sosial yang dibangun melalui pendekatan budaya inklusif.

“Desain awal proyek energi harus menempatkan budaya lokal sebagai instrumen utama. Jika nilai-nilai adat diabaikan, resistensi sosial akan menjadi keniscayaan,” tegasnya.

Lima Pilar Strategi Pembangunan Inklusif

Pri Utami memaparkan lima strategi kunci agar pengembangan panas bumi di Flores tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga adil dan berkelanjutan.

1. Integrasi Nilai Budaya dan Adat Lokal.
Eksplorasi energi harus menghormati ruang sakral dan tatanan adat. Dialog partisipatif dengan para tokoh masyarakat menjadi fondasi legitimasi sosial setiap proyek.

2. Pemetaan Aktivitas Ekonomi Lokal.
Pengembangan energi perlu bersinergi dengan sektor produktif seperti pertanian, pariwisata, dan industri kreatif. Kolaborasi ini menciptakan ekosistem ekonomi yang berlapis, mengurangi risiko sosial-ekonomi akibat proyek besar.

3. Regulasi Pemanfaatan Langsung Energi Panas Bumi.
Diperlukan aturan khusus untuk mendorong pemanfaatan langsung energi panas bumi bagi kegiatan ekonomi masyarakat, misalnya untuk pengeringan hasil pertanian, wisata energi, atau spa alami.

4. Pendidikan dan Kesadaran Publik.
Penguatan kesadaran generasi muda menjadi kunci. Melalui integrasi muatan lokal geologi dan energi ke dalam kurikulum sekolah, masyarakat tumbuh dengan rasa memiliki terhadap sumber daya energi mereka sendiri.

5. Transparansi Informasi Lingkungan.
Keterbukaan data mengenai kondisi lingkungan, hasil survei, dan pemantauan berkala akan memperkuat pengawasan partisipatif masyarakat dan mencegah konflik di kemudian hari.

Sebagai salah satu pusat penelitian energi terbarukan di Indonesia, Universitas Gadjah Mada (UGM) memiliki peran strategis dalam mendorong pengembangan panas bumi nasional yang berbasis ilmu pengetahuan dan nilai lokal.

Pri Utami menegaskan bahwa UGM bukan hanya penyedia sumber daya manusia dan riset teknologi eksplorasi, tetapi juga jembatan antara pengetahuan ilmiah dan kearifan lokal.

“Transformasi energi tidak hanya memerlukan modal dan teknologi, tapi juga kesadaran kolektif dan penghormatan terhadap ekosistem sosial-budaya,” ujarnya.

Flores: Dari Pinggiran Menjadi Pusat Peradaban Energi

Kini, Flores berdiri di persimpangan sejarah energi nasional. Jika pengembangan energi panas bumi dikelola dengan pendekatan budaya inklusif, pulau ini berpotensi menjadi model nasional bagaimana teknologi modern dapat berpadu dengan nilai-nilai adat untuk menciptakan energi berkeadilan sosial.

Bagi Indonesia, Flores bukan sekadar titik di peta sumber daya alam. Ia adalah laboratorium masa depan — tempat di mana sains, budaya, dan keberlanjutan berkolaborasi untuk membangun peradaban energi yang tidak hanya menyalakan listrik, tetapi juga menyalakan kesadaran bangsa.