“Kemarin lu telepon beta. Beta urus orang punya kesejahteraan, bukan urus lu pun berita yang tidak jelas,” katanya dalam percakapan tersebut. Bahkan, ia sempat menyebutkan nama wartawan yang dituduhnya “mencari makan” dari pemberitaan yang tidak berimbang.
Meski ketegangan semakin memanas, pada akhirnya Roy Radja meminta maaf atas ucapannya. Ia mengakui bahwa pada saat itu dirinya sedang dalam kondisi emosi tinggi, baru bangun tidur, dan belum makan.
“Kaka minta maaf tadi awal itu beta marah. Kaka tahu kalau beta baru bangun tidur, belum sikat gigi, belum makan apa-apa. Nanti jangan tulis yang tidak baik,” ujarnya.
Sementara itu, tim media yang terlibat dalam percakapan ini menegaskan bahwa tujuan mereka hanyalah untuk mencari keberimbangan dalam pemberitaan. Wartawan yang terlibat berusaha menjelaskan bahwa tugas mereka adalah memberikan hak jawab kepada semua pihak yang terlibat dalam kontroversi ini.
Pada akhirnya, meskipun ketegangan sempat mencuat, suasana reda setelah permintaan maaf dari Roy Radja. Namun, kejadian ini tetap mencuri perhatian publik, mengingat potensi dampaknya terhadap hubungan antara organisasi masyarakat dan media di wilayah tersebut.
