“Ini bukan sekadar lomba. Kami ingin menyelamatkan anak-anak muda dari bahaya balapan liar,” kata Ketua IMI Kabupaten Kupang, Feri Ludji. “Dengan trek resmi, marshal profesional, dan aturan ketat, kita salurkan bakat mereka dengan cara yang benar.”

Bagi Feri, kemenangan sejati tidak hanya di podium, tetapi ketika satu anak berhenti kebut-kebutan di jalan dan mulai bermimpi menjadi atlet profesional.

Menuju Sirkuit Permanen dan PON 2028

Sekretaris IMI NTT, Sokan Taibang, menyebut ajang ini sebagai bagian dari seleksi awal menuju PON 2028. “Kita sudah siapkan kelas khusus. Ada pembalap muda mendaftar yang potensial kita kirim ke pelatnas,” katanya.

Lebih dari itu, IMI NTT kini tengah melobi pembangunan sirkuit permanen di Kupang. Targetnya selesai 2026—cukup waktu untuk melatih atlet, menyambut kontingen nasional, dan membuka peluang jadi tuan rumah cabang road race PON.

“Bila sirkuit terwujud, Kupang akan masuk radar otomotif nasional. Bukan lagi pelengkap, tapi pusat prestasi,” ujarnya.

Adrenalin Bertemu Tanggung Jawab

Di tengah gegap gempita, pesan keselamatan tetap dikumandangkan. Waka Polres Kupang berkeliling, memberi imbauan pada penonton agar menjauhi titik berbahaya. “Kecepatan bukan untuk ugal-ugalan. Ini panggung adrenalin yang terorganisir,” katanya.