FaktahukumNTT.com, OELAMASI – Deru knalpot memecah senja di halaman Civic Center, Oelamasi. Asap tipis bercampur debu mengambang di udara, sementara sepasang mata anak belasan tahun memandangi lintasan dengan mimpi menggelora.

Ia menggenggam helm usang, warisan dari sang kakak yang tak sempat menggapai podium. Namanya Fonai, 14 tahun, murid SMP di Amarasi, yang datang jauh-jauh hanya untuk menyaksikan idolanya bertarung dalam Road Race Bupati Kupang Cup II.

Bagi Fonai dan ribuan anak muda lainnya, ajang ini bukan sekadar tontonan. Ini adalah cermin harapan. Tempat mimpi-mimpi kecil menyalakan api besar: tampil di Pekan Olahraga Nasional 2028, ketika NTT dan NTB menjadi tuan rumah.

“Dua tahun lalu kami mulai dengan langkah kecil,” ucap Plt. Sekda Kabupaten Kupang, Marthen Rahakbau, saat membuka lomba. “Hari ini, kita melangkah lebih jauh dengan harapan lebih besar.”

Harapan itu berbunyi nyaring dari throttle motor yang meraung di garis start. Para rider—dari pemula hingga seeded—melaju menantang waktu dan medan. Tapi jauh di balik suara knalpot dan tepuk tangan penonton, ada semangat yang lebih dalam: menjadikan Kupang sebagai lumbung atlet otomotif Indonesia Timur.

Road Race Bupati Kupang Cup II, Balapan yang Tak Hanya Mencari Juara

Selama dua hari, 14–15 Juni 2025, Civic Center berubah menjadi arena kehidupan. UMKM berjejer rapi, menjajakan jagung titi, kopi Flores, dan pisang goreng panas. Aroma tanah basah bercampur dengan bau bensin dan sambal ikan roa. Event ini bukan hanya panggung adrenalin—ia adalah ruang kolaborasi antara olahraga, ekonomi rakyat, dan pendidikan karakter.

“Ini bukan sekadar lomba. Kami ingin menyelamatkan anak-anak muda dari bahaya balapan liar,” kata Ketua IMI Kabupaten Kupang, Feri Ludji. “Dengan trek resmi, marshal profesional, dan aturan ketat, kita salurkan bakat mereka dengan cara yang benar.”

Bagi Feri, kemenangan sejati tidak hanya di podium, tetapi ketika satu anak berhenti kebut-kebutan di jalan dan mulai bermimpi menjadi atlet profesional.

Menuju Sirkuit Permanen dan PON 2028

Sekretaris IMI NTT, Sokan Taibang, menyebut ajang ini sebagai bagian dari seleksi awal menuju PON 2028. “Kita sudah siapkan kelas khusus. Ada pembalap muda mendaftar yang potensial kita kirim ke pelatnas,” katanya.

Lebih dari itu, IMI NTT kini tengah melobi pembangunan sirkuit permanen di Kupang. Targetnya selesai 2026—cukup waktu untuk melatih atlet, menyambut kontingen nasional, dan membuka peluang jadi tuan rumah cabang road race PON.

“Bila sirkuit terwujud, Kupang akan masuk radar otomotif nasional. Bukan lagi pelengkap, tapi pusat prestasi,” ujarnya.

Adrenalin Bertemu Tanggung Jawab

Di tengah gegap gempita, pesan keselamatan tetap dikumandangkan. Waka Polres Kupang berkeliling, memberi imbauan pada penonton agar menjauhi titik berbahaya. “Kecepatan bukan untuk ugal-ugalan. Ini panggung adrenalin yang terorganisir,” katanya.

Bagi Rizal, anak SMP yang datang hanya dengan uang jajan seadanya, kata-kata itu mengandung makna. Ia belum punya motor. Bahkan, sepedanya pun rusak di rumah. Tapi ia percaya, di tahun-tahun mendatang, mungkin giliran dia yang berdiri di podium. Bukan lagi sebagai penonton, tapi sebagai pembalap kebanggaan Kupang.

Civic Center sedang dipoles menjadi pusat olahraga terpadu: lapangan bola, voli, basket, lintasan lari, hingga trek off-road. Semua ini menandakan satu hal: Kupang tak ingin diam. Kupang ingin bergerak.

Dan lewat Road Race Bupati Kupang Cup II, mereka telah membuktikan bahwa suara knalpot bukan sekadar bising. Ia bisa menjadi lagu kemenangan. Lagu tentang harapan yang menyala dari pelosok, dari anak-anak yang haus arah, dari generasi yang tak mau sekadar menonton nasib.

Karena dari debu lintasan itulah, jalan ke PON 2028 sedang dibangun—meter demi meter, mimpi demi mimpi.